Hasil Forum Diskusi: Ternyata Pentingnya Sertifikasi dari Pada Ijazah Sarjana


Please follow and like us:

  • 3

Penyerahan Sertifikat ke Pembicara

9

10

1

IMG_1033

IMG_1064

IMG_1074

IMG_1079

IMG_0983

BATAM, WARTAKEPRI.co.id – Jumlah pengangguran di Batam yang masih tinggi, salah satu pemicunya adalah persoalan kompetensi tenaga kerja. Kompetensi itulah yang harus dibuktikan dengan sertifikasi yang dikeluarkan oleh lembaga resmi dan diakui dunia.

Jika pengangguran masih tinggi, bagaimana bisa Batam akan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia wilayah barat. Bahkan, di luar beberapa negera ASEAN, warga yang ingin mendapatkan sertifikasi kompetensi mulai dipermudah.

Demikian ungkap pengamat perburuhan yang juga pengurus ILUNI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia) Kota Batam, Kushadi Yahya pada diskusi bertajuk, “Menyiapkan Daya Saing Tenaga Kerja Kota Batam Menghadapi Era Globalisasi dan Masyarakat Ekonomi ASEAN” di Kampus Politeknik Negeri Batam, Kamis, 31 Maret 2016. “Angka penganggurannya saja masih tinggi, bagaimana mau menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi,” ujar Kushadi Yahya.

Dalam diskusi yang digelar oleh Forum Diskusi Publik (FDP)-Kepri bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Batam itu, Kushadi menambahkan, meski tertinggal dari negara-negara tetangga di ASEAN, format perburuhan Indonesia sesungguhnya sudah benar.
“Sayangnya tidak jalan,” tegas konsultan di sejumlah negara itu lagi.

Pola pendidikan di kampus yang kebanyakan hanya mengutamakan mendapat ijazah, maka kampus tersebut akan tertinggal nantinya. Karena, di era MEA, saat melamar kerja ke sebuah perusahaan asing, atau PMA, diutamakan sertifikasi.

” Bisa dikatakan, sertifikasi kompetensi lebih bernilai dari pada ijazah sarjana,”tutur Yahya.

Selain Kushadi Yahya, tiga pembicara lainnya juga hadir. Yaitu, Kadisnaker (Kepala Dinas Tenaga Kerja) Batam, Zarefriadi, Ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Kota Batam, Jadi Rajagukguk dan Sekretaris SPMI (Serikat Pekerja Metal Indonesia) Batam, Suprapto. Diskusi tersebut dipandu oleh Saibansah Dardani, Sekretaris PWI Kepri.

Sementara itu, Kadisnaker Kota Batam, Zarefriadi mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan para calon tenaga kerja di Batam untuk bersaing di pasar global. “Kami sudah memberikan sertifikasi kepada para lulusan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan),” ujar Kadisnaker Batam yang mantan guru itu.

Dengan membekali para lulusan SMK itu dengan seritifikat kompetensi itu, setidaknya mereka bisa langsung masuk dan bersaing dalam dunia kerja. Meskipun masih banyak kendala dalam hal pengakuan sertifikasi yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia di mata perusahaan asing.

Sebelum memulai diskusi, Ketua FDP-Kepri, Dedy Suwadha mengatakan, kegiatan diskusi ini sengaja digelar untuk menyiapkan para calon sarjana sebelum mereka bersaing di dunia kerja. Juga, untuk memberikan pencerahan kepada para buruh dan serikat pekerja di Batam, agar melakukan berbagai langkah untuk kesejahteraan para buruh di Batam.

“Kehadiran Forum Diskusi Publik Kepri ini juga untuk mengakomodir dan mencari solusi dari berbagai persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Kepri,” ujar Ketua FDP-Kepri yang juga Bendahara PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Kepri, Dedy Suwadha itu.

Sementara itu, Presiden BEM Politeknik Negeri Batam, Ricky Rahmat mengatakan, melalui diskusi para mahasiswa yang juga calon pewaris masa depan Kepri, ingin mendengar apa program yang disiapkan oleh Pemerintah Kota Batam untuk menciptakan iklim dunia kerja yang kondusif.

Diskusi yang dihadiri oleh seratusan orang itu, berlangsung meriah dan dinamis. Sejumlah gagasan dan pertanyaan kritis disampaikan oleh para mahasiswa Polteknik Negeri Batam itu.(ded)

 

Please follow and like us:

  • 3






KADIN _ FORPI


Custom Search