Panasnya Suhu di Tahun 2017 Ini, NASA : Tanda Manusia Sukses Membakar Bumi

WARTAKEPRI.co.id – Pada tahun 2016 lalu, NASA mempublikasi kondisi cuaca yang terjadi di dunia mencapai titik terpanas. Dan, kondisi yang juga dirasakan di tahun 2017.

Selain suhu udara meningkat, hingga diatas suhu normal dunia saat ini, mungkin secara tidak sadar telah terjadi pergeseran cuaca yang terjadi di Indonesia.

Jika selama ini cuaca hujan dirasakan mulai September hingga akhir Desember, maka di tahun 2017 ini, pergerakan cuaca hujan bergeser di bulan Januari hingga Februari. Dan, baru pada Maret 2017 ini dirasa suhu udara kembali panas, dan cukup membuat Anda yang berada di luar siang hari merasakan pusing.

Dan, Anda yang memiliki smartphone dengan aplikasi otomatis suhu udara, akan dapat melihat langsung berapa suhu udara pada siang hari. ” Wow panasnya di luar, ternyata lebih panas di dalam ruangan, suhu lebih 40 derjat celcius,” celoteh teman.

Dikutip dari Sefsed.com, kegiatan manusia di abad modern ini selain memberikan keuntungan, di saat yang sama secara perlahan juga ambil bagian dalam proses penghancuran bumi.

Sejak revolusi industri, penggunaan bahan bakar fosil meningkat sehingga mau tidak mau berkontribusi meningkatkan efek rumah kaca. Jika semakin hari kamu merasa hari semakin panas, tampaknya hal tersebut bukanlah opini semata.

NASA dan NOAA mengkonfirmasi bahwa dari tahun ke tahun suhu rata-rata bumi mengalami peningkatan. Setelah sebelumnya 2014 dan 2015 tercatat sebagai tahun terpanas, akhirnya “rekor” tersebut dikalahkan di tahun 2016 kemarin.

Laporan NASA menyebut ada peningkatan temperatur permukaan planet mencapai 1 derajat celcius dibanding tahun lalu. Ini berarti secara keseluruhan suhu bumi bertambah 1.1 derajat celcius sejak 1880.

Kabar buruknya penambahan suhu sebesar 1 derajat dimulai sejak tahun 2000. Dengan demikian hanya butuh 17 tahun bagi manusia untuk menambah 1 derajat celcius.

Direktur NASA Goddard Institute for Space Studies, Gavin Schmidt berharap rekor mencemaskan ini tidak menjadi trend tahunan.

Penelitian yang dilakukan NASA dan NOAA ini didasarkan pada informasi lebih dari 6.300 stasiun pemantauan cuaca di seluruh dunia.

Hasilnya data-data yang dipaparkan sepakat bahwa aktivitas manusia sukses membakar bumi secara perlahan.

Pertanyaanya, apakah kondisi cuaca seperti ini makin membuat manusia sadar akan menjaga hutan atau tidak peduli, demi memenuhi kekayaan sesaat untuk membuka lahan baru dengan merusak hutan demi membangun kawasan perumahan baru.

Alangkah bijaknya, kini setiap rumah atau bangunan kembali menanam pohon agar, jika tidak mampu menghentikan pengrusakan hutan. Biarlah aparat hukum yang menindak mereka, sementara kita peduli dulu dengan kondisi di rumah masing masing. (dedy/sefsed)

Berita Terkait


BINTAN
DPRD BATAM
LINGGA
KADIN _ FORPI