Bambang Pramudwiyanto, Anak Mantri Desa yang Jabat Ketua Pengadilan Negeri Batam


Please follow and like us:

  • 0

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Sosok Ayah dengan dua orang anak ini, terlihat kalem dan bersahaja. Pria, kelahiran 3 Maret 1963, awalnya tidak bercita cita ingin menjadi seorang hakim apalagi menjadi Ketua Pengadilan Negeri.

Bambang Pramudwiyanto SH. MH, dilahirkan 54 tahun silam di Kecamatan Gemolong Seragen. Ayahnya seorang Mantri Kesehatan dan ibunya berprofesi sebagai Bidan. Bambang anak kedua, dari Tujuh bersaudara, yang semuannya adalah laki laki. Kata Bambang, saat di wancarai diruangannya, Senin (8/5/2017) siang.

Setelah menyelesaikan dari SMA Negeri 1 Salatiga, lalu melanjutkan kuliah di Universitas 17 Agustus ( Untag) Surabaya tahun 1986. Kemudian tahun 1988, saya mengikuti test menjadi Calon Hakim ( Cakim ) dan departemen Kehakiman, hasilnya keduanya lolos. Untuk memutuskan pilihan itu, maka dari departemen saya mundur.

Selama 4 bulan menjalani Diklat pendidikan Cakim di Mojokerto. Usai diklat, Pengadilan Mojokerto menjadi tempat praktek kerja pertama. Kemudian mendapatkan tugas pertama sebagai hakim di Kabupaten SoE di Nusa Tenggara Timur ( NTT) selama 4 tahun hingga tahun 1996.

Lanjut Bambang, kemudian pindah tugas ke Pengadilan Negeri Sekayu Sumatera Selatan sampai tahun 2000. Lalu ditempatkan ke Sumedang tahun 2003.
Selanjunya, saya menjalani pendidikan Diklat pimpinan selama 1 bulan, setelah selesai ditarik ke Mahkamah Agung (MA) sebagai asisten tim dadali perdata dan niaga hinga tahun 2009.

Tidak sampai disitu, tahun 2012 menjadi hakim anggota di PN Surabaya. Lalu pindah ke Tulung Agung sebagai Wakil Ketua kelas 1B. Setelah itu, diangkat kembali menjadi Ketua PN di Kabupaten Kediri selama 10 bulan. Ungkap Bambang

Setelah perjalanan yang cukup panjang saya jalani, maka kembali saya ikut test Calon untuk kelas 1A dan lulus. Ditempatkan diPengadilan Negeri Kelas 1A, Serang Banten tahun 2014 sebagai Wakil Ketua. Setelah itu, tahun 2016 diangkat menjadi Ketua Pengadilan Negeri Kelas 1A Bengkulu selama 10 bulan.

Pengalaman hidup dan berkesan selama menjadi hakim yaitu kasus pembunuhan di Sekayu Banyuasin Sumatera Selatan. Dimana dalam tuntutan Jaksa, terdakwa dituntut hukuman mati. Saat itu, dua majelis hakim berpendapat sama yaitu mengikuti tuntutan Jaksa, namun saya tidak mau terdakwa itu di hukum mati.

Setelah musyawarah panjang dan alot, ternyata terdakwa punya perkara lain di Palembanng dengan kasus yang sama yaitu pembunuhan, sehingga putusan majelis hakim menjadi hukuman mati.

Kemudian, Perkara korupsi operasi tangkap tangan (OTT) sebesar Rp.750 juta dengan tersangka saat itu Ketua hakim kabupaten di Bengkulu. Entah mengapa, saya ditunjuk menyidangkan perkara tersebut dengan terdakwa 5 orang, dua pemberi suap dan 3 orang penerima suap yaitu : Hakim karir 1 orang dan satu orang hakim Adhoch Tipikor dan panitera pengganti.

Dalam putusan saya itu, Kelimanya terbukti dan bersalah, untuk hakim tuntutan JPU 10 tahun dan setelah sidang maka dijatuhi 7 tahun penjara. Sementara, terdakwa Panitera dituntut JPU selama 7 tahun penjara, dan saya vonis 5 tahun penjara. Lalu untuk penyuap, JPU menuntut 5 tahun penjara dan Majelis Hakim memvonis 4,6 tahun penjara.

“Saya menyidangkan kasus itu biasa saja dan tidak ada intervensi, karena mereka terbukti”, tegas Bambang Pramudwiyanto SH. MH.

Saat ini saya menjadi Ketua Pengadilan Negeri Batam, menekankan kedisiplinan pada anggota dan bekerjalah sesuai SOP dan SIPP yang ada. Jika hal ini dilanggar, dengan tegas akan ditegur. Tutup Bambang, Lulusan Magister Hukum dari Universitas Narotama Surabaya .

( Nikson Simanjuntak )

Please follow and like us:

  • 0

PEMPROV KEPRI
PEMKAB BINTAN
DPRD BATAM
PEMKAB LINGGA



KADIN _ FORPI
Custom Search