Alasan Sakit, Sidang Dugaan Penipuan Terdakwa Alfian Dachi Ditunda


DPRD BATAM

Klik Untuk Baca Berita Terbaru Kami :

  • 0

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Persidangan terdakwa Alfian Dachi, dugaan kasus penipuan terpaksa ditunda oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam dengan alasan sakit.

Saat majelis hakim mengetok palu tanda sidang akan di mulai, terdakwa Alfian mengaku sakit dengan perasaan seperti terbayang bayang.

” Yang mulia, tak bisa sidang hari ini karena sakit, persaaan saya seperti terbayang bayang dan jantung berdebar debar. Tadi saya sudah berobat ke klinik Rutan ,”kata terdakwa Alfian Dachi, Senin (25/9/2017).

Atas permintaan terdakwa, majelis hakim yang di ketua Yona Lamerosa SH meminta bukti surat tanda sakit dari dokter klinik Rutan Barelang. “Oke, kalau terdakwa sakit, ada surat bukti dari dokter klinik rutan dibawanya,” pinta hakim Yona.‎

Kemudian, melalui kuasa hukum terdakwa Bambang cs menunjukkan bukti surat permohonan pemberitahuan sakit tertanggal 20/9 2017 kepada majelis hakim. Kata hakim, ini surat permohonan tertanggal 20 September lalu.

” Maksud kami surat bukti keterangan sakit hari ini,” tegas Yona Lamerosa.

Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rumondang Manurung SH meminta agar sidang tetap dilanjutkan. ‘ Yang mulia, kalau bisa sidang tetap dilanjutkan, saksi yang hadir saat ini dari Bank Riau Kepri sangat sulit dihadirkan karena jauh dari Pekanbaru,”ujar JPU

Selanjuntnya, Bambang cs selaku kuasa hukum terdakwa mengaku keberatan jika sidang tetap dilanjutkan karena terdakwa sedang dalam keadaan sakit. 

” Seharusnya, pihak rutan yang tau kondisi terdakwa, kenapa orang yang sakit dibawa untuk sidang,”ungkap Bambang SH.

Namun saat pewarta menanyakan rekam medis terdakwa yang katanya sakit, Bambang mengaku ada tapi tidak tau apa sakitnya, yang pegang suratnya istri terdakwa. ‎

Berita sebelumnya, terdakwa Alfian Dachi terpaksa harus meringkuk dan merasakan dinginnya di sel teruji besi tahanan Lapas Barelang atas tindakan penipuan yang dilakukanya sebesar Rp239 juta pada saksi korban, bernama Hendrik Ropianto alias Steven, bos toko material cahaya bangunan.

Jaksa Penuntut Umum ( JPU), Rumondang Manurung SH menghadirkan tiga orang saksi, Senin (18/9/2017). Dalam keterangan saksi Joko Saputro, karyawan Steven bagian dept.colletor atau penagihan menerangkan: terdakwa sering ia lihat datang ke toko untuk mengambil bahan bangunan.

” Saya sering melihat terdakwa datang saat di toko dan mengambil barang bangunan. Terkadang kalau ia datang jumpa langsung pak Hendrik Ropianto alias Steven. 

Dan ‎kasus ini terkait pembayaran bahan bangunan yang tidak dibayarkan, sekitar November 2014 silam di ruko Senawangi Batuaji Kota Batam,” terang Joko.

Pada saat itu, pernah saya mendengar pembicaraan terdakwa dengan pak Hendri Ropianto soal tagihan bahan bangunan yang tidak dibayarkanya. 

Pak Steven bilang ke terdakwa supaya tagihan yang lama agar diselesaikan, agar bisa disupport kembali. Dan terdakwa berjanji, kalau pun gagal, akan melunasi dengan menjual satu unit mobil Fortuner nya.

“Terdakwa saat itu, saya dengar berjanji sama pak Steven akan menyelesaikan tagihannya dengan menjual satu unit mobil Fortuner nya. Dan soal cek bank Riau, yang diberikan terdakwa sebesar Rp150 juta, tapi saldo tidak mencukupi, saya dapat informasi dari pak Steven,” kata Joko pada ketua majelis hakim, Yona Lamerosa.

Atas keterangan saksi Joko, terdakwa membantah dan mengatakan bahwa pada saat itu tidak ada orang yang nendengarkan pembicaraanya selain dengan Hendrik Ropianto. Dimana saat itu, Hendrik mengajaknya ke ruangannya. Kilah terdakwa Alfian Dachi, yang didamping oleh Tiga orang kuasa hukumnya.

Atas perbuatan terdakwa Alfian Dachi, korban Hendri Ropianto alias Steven mengalami kerugian sebesar Rp239. 383.000 juta. 

“Perbuatan terdakwa tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana pasal 378 KUHP,” kata Jaksa Rumondang Manurung SH, usai persidangan.

Sebelumnya menurut Steven, terdakwa Alfian Dachi pernah disidangkan perkara perdatanya di PN Batam, terkait utang yang tidak dibayarkan ditahun 2012, sebesar Rp.500 juta. Dalam putusan perdata nomor 86/pdt/G/2016/ PN Batam menyatakan: terdakwa harus membayar utangnya sebesar Rp500 juta kepada Hendrik Ropianto.

“Terdakwa menghiraukan putusan Pengadilan Negeri Batam tersebut, sampai saat ini belum dibayarkanya. Diduga total uang yang ditipu oleh terdakwa sebesar Rp739.383.000 juta,” tutur Hendrik.

( Nikson Simanjuntak )

Klik Untuk Baca Berita Terbaru Kami :

  • 0
PEMPROV KEPRI
PEMKAB BINTAN
PEMKAB LINGGA
SPACE IKLAN




DINKES