Harapan Rakyat Pada Gerindra 2018 dan 2019, Catatan Ringan dari Sentul Bogor

DEWAN PERS WARTAKEPRI

Klik Follow Untuk Baca Berita Terbaru Kami :

  • 0

WARTAKEPRI.co.id, BOGOR – Partai Gerindra menggelar pertemuan akbar bersama ribuan kadernya di Gedung Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/10/2017).

Acara yang bertajuk Konferensi Nasional dan Temu Kader Partai Gerindra itu menghadirkan sejumlah jajaran petinggi partai berlambang burung garuda itu.

Suatu kehormatan bagi para kader Seluruh Nusantara, ikut diundang dalam salah satu perhelatan terpenting Partai, di saat yang juga penting: setahun menjelang Pilkada Serentak 2018, dua tahun menuju Pemilu 2019.

Gedung megah Sentul International Convention Center (SICC) yang berkapasitas dua belas ribu orang, penuh sampai ke lantai dan gang-gang diantara barisan tempat duduk.

Ribuan kader Gerindra memenuhi ruang acara, duduk berjejer rapih dengan warna seragam baju putih, pantalon krem khas modelnya, lengkap dengan peci untuk kaum pria.

Di sana sini ada beberapa spot barisan dengan seragam berbeda tetapi tetap serasi: Kelompok Purnawirawan TNI, Kaum Perempuan, Sayap Pemuda, hingga pendekar silat berseragam hitam-hitam.

Saya masuk ke arena konferensi sedikit terlambat, tepatnya ketika tiga kader muda Gerindra sedang membaca naskah Pembukaan UUD 1945, Pancasila, dan Ikrar Sumpah Kader Gerindra.

Memasuki ruangan besar penuh manusia berbaris rapi, mengikuti dengan khidmat kalimat-kalimat penuh dengan pesan perjuangan dan idealisme, emosi saya larut dalam suasana kerinduan pada para Pendiri Bangsa.

Terlebih lagi suasana dekorasi arena konferensi penuh warna merah putih, dan foto-foto pelaku sejarah masa lalu, peletak dasar-dasar berdirinya bangsa dan negara Republik Indonesia.

Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dhien, Sultan Hasanuddin, Panglima Soedirman, hingga Ki Hajar Dewantara.

Begitu terkesan dan kagumnya dengan suasana dekorasi dan konten acara berikut pesan-pesannya, tanpa sadar saya menarik ponsel dari saku celana dan memotret beberapa sudut dan teks Ikrar Sumpah Setia Kader Gerindra.

Rupanya tingkah saya mengganggu kekhidmatan acara, sampai-sampai seorang petugas menegur saya dengan sopan, untuk tidak mengambil foto.

Saya makin terkesima, begitu seriusnya kader Partai Gerindra menyelenggarakan acara dan menjaga marwah organisasinya. Ada hal-hal sakral dan hidmat yang mereka jaga.

Dan saya menduga, mengingat usia Partai Gerindra, hal-hal ini sudah menjadi budaya di dalam perilaku organisasinya.

Dalam sela-sela antara mata acara, saya diantarkan ke barisan tempat duduk di panggung, bersama sejumlah tamu penting lainnya.

Ada beberapa Pemimpin Partai Politik, Tokoh-Tokoh nasional, Pemimpin Ormas, Tokoh Pemuda dan beberapa figur lainnya termasuk Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang baru dilantik dua hari lalu.

Setelah Sekretaris Jenderal Partai Mas Ahmad Muzani membuka acara, Ketua Umum/Ketua Dewan Pembina Pak Prabowo Subianto Djojohadikusumo menyampaikan pidatonya.

Pidato yang hangat, penuh pesan-pesan moral dan idealisme, namun disampaikan dengan akrab dan diwarnai sendau gurau segar di sana-sini.

Sungguh suasana yang jauh dari kekakuan, kegarangan, dan “jaim”. Pantas saja berkali-kali, ribuan kader yang hadir meminta Pemimpinnya meneruskan pidatonya setiap kali Pak Prabowo hendak menyudahi sesinya. “Teruuss… lanjuut,” seru mereka.

Empat pesan penting yang saya ingat dengan baik.

1. acara ini adalah apresiasi dan ekspresi hormat Pemimpin Partai kepada seluruh kadernya karena telah menyelesaikan hajat penting: verifikasi dan pilkada serentak 2017.

2.Gerindra adalah wadah perjuangan untuk mengembalikan harkat dan martabat bangsa, mengembalikannya pada perikehidupan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

3.Melihat situasi kehidupan berbangsa dan bernegara, sikap NETRAL tidak cukup; harus memihak dan harus turun gunung berjuang berpihak pada rakyat, berpihak pada kepentingan bangsa.

4.Kesiapan Gerindra untuk berkoalisi dan bekerja sama dengan siapapun, yang punya kepedulian sama kepada rakyat dan negara. “Dengan mantan-mantan musuh pun saya siap bekerja sama”

Pak Prabowo juga mengajak sebanyak mungkin orang-orang baik, masuk ke kancah perjuangan politik.

“Kalau orang-orang baik bersikap netral, tidak berpihak pada kepentingan negara, maka politik akan diisi orang-orang bermasalah”.

Dalam berbagai kesempatan menyampaikan pemikiran di berbagai forum seminar maupun diskusi, akhir-akhir ini saya sering menyampaikan pandangan perlunya mengembalikan harkat dan martabat politik dan demokrasi kita.

Lanskap politik kita dewasa ini jauh dari warna perjuangan idealisme dan visi besar sebagaimana pernah ditorehkan para pendiri bangsa.

Bahkan politik kita hari ini cenderung dirusak oleh para elitnya. Dari 670 penyelenggara negara yang ditangkap KPK sejak berdirinya lembaga ini, hampir separuhnya adalah politisi atau pemimpin politik: bupati, walikota, gubernur, anggota DPRD, anggota DPR RI, DPD RI, bahkan beberapa pimpinan tertinggi lembaga negara.

Saya bayangkan, dalam keadaan lanskap politik yang demikian, jika ada partai politik yang serius menata dirinya, memperkokoh ideologi dan idealismenya, membangun kader, membangun platform, menjaga visi dan nilai-nilai organisasinya; niscaya akan menjadi pilihan rakyat sang pemilik kedaulatan.

Menyaksikan seluruh prosesi pembukaan Konferensi Partai Gerindra, saya melihat sinyal kuat yang dipancarkan oleh para pemimpin dan kadernya, sebagai Partai Politik yang akan menemukan momentumnya.

Keluwesan mereka bermitra dengan partai-partai yang memiliki kesamaan visi dan cita cita bernegara akan menjadi penentu sukses Partai Gerindra.

Menengok track recordnya, Partai berlambang Burung Garuda emas ini sungguh memberi harapan besar suatu ketika akan menjadi lokomotif perbaikan kehidupan bernegara.

Diawali tahun 2009, Partai Gerindra menempati 26 kursi (4.64%) di DPR RI hasil Pemilihan Umum Anggota DPR 2009, setelah meraih 4.646.406 suara (4,5%). Pada Pemilu Legislatif 2014, Partai Gerindra berhasil melesat menjadi partai politik ketiga terbesar di Indonesia dan menempati 73 kursi di DPR RI setelah meraih 14.760.371 suara (11,81%).

Kursi Partai Gerindra naik hampir 3 kali lipat!!

Pilkada serentak 2017 menjadi penanda penting kemajuan Partai Gerindra. Pada Pilkada serentak 15 Februari 2017, Partai Gerindra memenangkan kompetisi di 45 kabupaten/kota dan provinsi se-Indonesia.

Ada 101 daerah yang menggelar pilkada, 85 di antaranya sudah menetapkan hasil peroleh suara. Dari 85 daerah itu, Gerindra menang di 45 kabupaten/kota dan tiga provinsi. Suatu prestasi yang bahkan tidak dimiliki pleh Partai Berkuasa.

Jika hari hari mendatang Partai Gerindra terus menjaga idealismenya, memanfaatkan visi besar dan cita cita mulia dari para pendiri dan pemimpinnya, maka bukan tidak mungkin Gerindra akan menjadi pemenang di masa depan.

Bercermin dari naik turunnya perolehan suara sejumlah partai politik, harus disadari bahwa di era serba terbuka seperti dewasa ini, pada akhirnya reputasi yang menentukan.

Karena itu jika Partai Gerindra ingin berperan mendorong perbaikan pengelolaan negara, menjadi pilihan rakyat, maka mau tidak mau harus menjaga reputasinya.

Menjaga reputasi tak bisa lain kecuali menjaga perilaku kader, para pemimpin, dan seluruh jajaran organisasi.

Saya ingin menutup catatan ringan dengan empat hal yang mungkin dapat dijadikan pegangan untuk terus menjaga reputasi dan harga diri Partai Gerindra: jaga diri, tidak korupsi, terus memberi solusi, dan tidak lelah mengasah diri.

Selamat dan sukses berkonferensi. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia yang hebat ini.(*)
Opini : Sudirman Said Mantan Menteri ESDM Menteri yang dikenal pemberani dan tegas ini ikut direshuffle oleh Presiden Jokowidodo.

Sudirman Said terlihat dikenal sebagai menteri yang tegas melakukan reformasi birokrasi dan revolusi mental di internal Kementerian ESDM.

Juga banyak melakukan terobosan penting dan dia memerangi mafia migas.‎

Editor:Rikyrinovsky

Klik Follow Untuk Baca Berita Terbaru Kami :

  • 0




PEMPROV KEPRI
DPRD BATAM
PEMKAB BINTAN
PEMKAB LINGGA
SAMSAT KEPRI KODIM BATAM