WNA Perancis Ini Ajari Ibu Ibu Mengolah Buah Pala Jadi Sirup dan Manisan di Anambas


PEMPROV KEPRI

Please follow and like us:

  • 0

WARTAKEPRI.co.id, TIANGAU ANAMBAS – Perkebunan pala di Desa Arung Hijau, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, tak asing lagi di telinga masyarakat Anambas, apalagi warga setempat. Perkebunan itu milik sebuah keluarga kecil, tepatnya tinggal di bawah kaki Gunung Samak.

Perkebunan pala itu cukup dikenal dengan sebutan Tiangau. Warga selalu memenuhi perkebunan ini jika ada peringatan besar nasional, seperti Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2017 yang lalu.

Bertepatan peringatan hari nasional itu, sekelompok ibu duduk sambil menggenggam sebilah pisau dan nengupas kulit buah pala tua, milik petani pala. Di bawah sebuah bangunan yang belum selesai, suara riuh ibu-ibu bercengkerama sambil mengupas kulit pala. Para ibu itu menggunakan bahasa negeri seberang “Bahasa Kuantan Sengingi” atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Orang Toluok Kuantan”.

Di bawah pondok, terbentang dua buah meja dari kayu yang dimodifikasi dengan seni natural. Sebuah kompor gas dan perebus presto kapasitas lima liter terletak diatasnya.

Sekarung gula pasir dan satu ember air ikut menemani peralatan yang ada serta sebuah timbangan ukuran 1 kg juga disertakan tanpa meninggalkan peranan peralatan lain.

Pria berpostur tubuh tinggi kurus dan rambut gondrong hadir di tengah sekelompok ibu tersebut. Nama pria itu, Michel. Dengan bahasa Indonesia yang belum fasih, Michel meminta ibu-ibu memanggilnya sebagai ‘Bule Kampung’.

Maka, mulailah sang Bule Kampung mengarahkan ibu-ibu untuk menimbang kulit pala, gula, dan memasukkan air ke dalam periuk fresto. Perbandingannya 3 kg gula, 3 kg kulit pala dan 3 liter air. Semuanya dimasukan ke dalam periuk fresto dan ditutup rapat. Si Bule Kampung selanjutnya memutar tombol kompor gas.

Hitungan 30 menit, Bule Kampung membuka tutup periuk fresto, membiarkannya sejenak dan mempersiapkan 9 botol kosong steril. Menggunakan centong, sang bule kampung mulai mencedok air dari periuk fresto dan menumpahkannya ke dalam ceret yang telah diberi penyaring air.

Air dari periuk fresto berpindah ke ceret, selanjutnya berpindah lagi ke botol, jadilah sirup. Pembuatan sirop telah selesai, selanjutnya botol ditutup rapat. Betapa mudahnya membuat sirop dari kulit buah pala.

Tak hanya sirop, kreativitas yang bisa dihasilkan dari buah pala. Bule Kampung kembali mengambil rebusan kulit pala dari dalam periuk fresto dan memasukkan ke dalam sebuah blender. Apakah dapat dibayangkan produk apa bakal terwujud setelah keluar dari blender dalam hitungan menit? Selai dari kulit buah pala.

Hanya itu? Tidak. Selang beberapa detik Bule Kampung mengambil kembali rebusan kulit pala, meletakkan ke dalam sebuah piring dan menaburkan butiran gula. Selanjutnya dijemur hingga kering dan muncul lagi sebuah produk bahan makanan, manisan buah pala kering.

Bagaimana dengan rebusan kulit buah pala yang masih tertinggal di periuk fresto? Sang Bule Kampung memasukkannya ke dalam sebuah plastik sebagai wadah menyimpanan. Ujung plastik telah direkatkan menggunakan api. Maka, jadilah makanan cemilan baru, yaitu manisan kulit buah pala basah. Menarik, dari satu kali proses, maka empat jenis makanan terlahirkan.

Siapakah Michel alias si Bule Kampung dari Dusun Tiangau? Bule Kampung, seorang WNA bernegara Perancis. Dia ahli dalam membuat minuman kesehatan yang bersumber dari rempah, termasuk dari buah pala yang telah didalaminya beberapa tahun belakangan ini.

Apakah hanya itu keahlian Bule Kampung? Dia juga seorang peneliti dan pecinta lingkungan. Dinas Perikanan Provinsi Kepulauan Riau sering menggunakan keahliannya untuk melakukan penelitian. Andil Bule Kampung cukup besar dalam menjaga kelestarian penyu di Pulau Mangkai Kabupaten Kepulauan Anambas.

Berawal dari kelangkaan bahan baku pembuatan sirup pala. Bule Kampung mencari ketersediaan kulit buah pala disekitar Kepulauan Riau. Namun akhirnya menemukan dari Kabupaten Kepulauan Anambas. Selama ini, Bule Kampung memproduksi pada keperluan terbatas, hanya untuk hotel dan rakyat sekitar Anambas. (*)

Sumber : M Rama
Editor : Dedy SWD

Please follow and like us:

  • 0

DPRD BATAM
PEMKAB BINTAN
PEMKAB LINGGA
SPACE IKLAN