Warga Kampung Anyar Batam Tidak Terima Digusur Paksa PT Global Trijaya Mandiri

HARRIS BARELANG

WARTAKEPRI.co.id , BATAM – Sejumlah warga RW 7, RT 28 Kampung Anyar Kelurahan Batu Merah, Kecamatan Batu Ampar Kota Batam, mengeluhkan terhadap sikap dari PT Global Trijaya Mandiri (GTM)  yang melakukan penggusuran rumah serta memagari lokasi daerah pemukiman mereka secara paksa pada beberapa waktu lalu.

Dari 180 KK yang dulunya menetap, sekarang hanya tinggal 4 KK setelah dilakukan penggusuran oleh pihak perusahaan. Dengan telah menempuh berbagai macam kesapakatan, perusahaan bersangkutan menetapkan memberikan ganti rugi terhadap rumah warga yang berjumlah Rp 15 Juta.

Ketika ditemui wartakepri.co.id, Rabu (20/4/2016), Nikholaus Tuha (35) seorang warga setempat meluapkan kekecewaannya terhadap PT GTM yang telah melakukan penggusuran paksa.

” Kami semua disini seperti tidak dianggap manusia, mereka seenaknya saja main gusur. Dulunya mereka mengancam dan menakut-nakuti kami semua, dengan menyuruh preman datang kesini. Tiap bentar kami diteror, dan ribut-ribut mereka kesini. Karena kami tidak ada lagi tempat tinggal lain, makanya sampai sekarang kami tetap bertahan disini”, kata Nikho.

Menurutnya, perusahaan tersebut telah mengintimidasi keberadaan warga di daerah itu. Seharusnya pihak PT bisa lebih memahami dan mengerti tentang kesulitan ekonomi yang dialami warga setempat, serta peduli memberikan bantuan ganti rugi yang sesuai kepada warga.

Hal senada juga disampaikan Nurhayati (37), seorang warga yang masih tetap bertahan tinggal dilokasi penggusuran tersebut, menilai bahwa tindakan penggusuran yang dilakukan PT GTM  sangatlah semena-mena. Bukan hanya itu, pihak perusahaan juga dengan sengaja memagari sekeliling lokasi rumah warga tanpa menghiraukan keberadaan orang yang masih ada menetap dilokasi itu.

” Mereka seperti sengaja menutup setiap akses jalan, kami hanya diberikan jalan akses keluar yang menurut kami sangatlah tidak manusiawi. Semua ditutupi dengan pasangan pagar batako, dan mereka memberikan lobang kecil ditengah-tengah pagar batako itu untuk akses jalan keluar masuk kami. Bahkan, semua sumur yang ada juga ikut ditutupinya, ini sudah sangat keterlaluan”, ujar Nurhayati.

Sebelumnya permasalahan ini, kata Nurhayati, telah kita laporkan kepada Lurah Batu Merah, dan RW 7, namun sama sekali tidak dipedulikan. Kelurahan dan RW setempat hanya mampu berkata “saya tidak tahu, karena itu urusan pihak perusahaan”, sebut Nurhayati mengulang kalimat Kelurahan dan RW.

Oleh karena itu, kami selaku warga yang merasa disudutkan, mengharapkan serta membutuhkan bantuan dan perhatian pemerintah untuk menyikapi permasalahan ini, pintanya.

Sementara itu ditempat berbeda, Lurah Batu Merah, Elvitri Gustati menjelaskan bahwa sekarang permasalahan tersebut sudah mengarah ke ranah Hukum. Sebagai Lurah, dirinya telah berupaya untuk melakukan mediasi terhadap dua belah pihak.

” Saat ini pihak warga setempat telah menyerahkan permasalahan itu kepada Pengacaranya, bagaimana prosesnya saya tidak tahu. Sebelum penggusuran terjadi, kita telah lakukan mediasi kepada mereka. Namun dikarenakan ganti rugi yang diberikan perusahaan tidak sesuai dengan keinginan warga, maka dari itu mereka melakukan perlawanan melalui pengacaranya”, kata Elvitri.(san)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

GALERI 24 PKP PROMO ENTENG