Setiap Persidangan Narkoba Selalu Ada Pemilik Barang DPO, Kenapa?

25

WARTAKEPRI.co.id , BATAM – Keterangan dua saksi penangkap dari kepolisian menyatakan bahwa, selama satu bulan masa pengintaian terhadap para terdakwa tidak pernah ditemukan tangkap tangan alias transaksi sabu atau pil ekstasi.

Berdasarkan pengakuan terdakwa Sugiarto dan Hendra, terdakwa Khan Hawn Leong dijadikan tumbal dan ikut dijadikan sebagai terdakwa. Sementara barang bukti sabu maupun ekstasi tidak ada ditemukan dari tangan Khan, yang dijadikan barang bukti oleh penyidik berupa handphone dan paspor saja.

Saat saksi penangkap dicerca berbagai pertanyaan oleh Tantimin SH selaku penasehat hukum Khan Hawn Leong, keterangan saksi banyak yang janggal. Misalkan terdakwa Khan dilakukan test urine tapi dalam BAP tidak ada. Kemudian, saksi mengaku yang membuat laporan pada Penyidik, tapi dalam BAP polisi bernama Aryanto yang melaporkan.

Kemudian, dari mana saksi menyimpulkan Khan Hawn Leong sebagai terdakwa sementara berbahasa Indonesia saja tidak bisa dan hanya paham bahasa mandarin saja. Terang Tan Timin

Berang bukti berupa sabu dan ekstasi diambil dari dua kamar yang berbeda. Pertama dari kamar terdakwa hendra ada ekstasi dan hal itu diakuinya. Kemudian dari kamar terdakwa Sugiarto juga ditemukan ekstasi. Kata saksi penangkap.

PKPONLINE PKP DREAMLAND

Terdakwa Sugiarto alias Anggi, Hendra alias Rusli dan Khan Hawn Leong dari Warga Negara (WN) Malaysia. Dakwaan JPU menyatakan terdakwa Sugiarto berangkat ke Malaysia pada Kamis 21Januari 2016 sekira pukul 16.00 WIB bertempat di Hotel KSR Johor Baru Malaysia untuk menjemput sabu dan pil ektasi.

Berawal pada hari Rabu tanggal 13 Januari 2016 sekira pukul 15.00 wib terdakwa Sugiarto menghubungi TALENT (DPO) untuk memesan serbuk kristal sabu dan pil ekstasi dan TALENT menyanggupinya.

TALENT memberikan sabu sebanyak 35 (tiga puluh lima) gram dan pil ekstasi sebanyak 1300 (seribu tiga ratus) butir dan terdakwa Sugiarto memberikan uang sebesar RM. 2450 (dua ribu empat ratus lima puluh ringgit Malaysia) untuk membayar sabu dan RM 13200 (tiga belas ribu dua ratus ringgit Malaysia) untuk bayaran pil ekstasi.

Setelah menerima sabu dan pil esktasi dari TALENT terdakwa Sugiarto menghubungi terdakwa Hendra dan terdakwa Khaw untuk membawakan sabu dan pil ekstasi tersebut ke Indonesia dengan upah sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) per orang.

Kemudian sabu dan pil ekstasi tersebut para terdakwa membagi menjadi tiga untuk dibawa dimana terdakwa Sugiarto membawa 1 (satu) paket/bungkus serbuk Kristal dan pil ekstasi sebanyak 500 (lima ratus) butir dan terdakwa Hendra membawa pil ekstasi sebanyak 400 (empat ratus) butir dan terdakwa Khaw membawa 400 (empat ratus) butir.

Sabu dan pil ekstasi tersebut para terdakwa balutkan ke badan masing-masing melalui pelabuhan Setulang laut Malaysia menuju Pelabuhan Internasional Batam Center.

Setelah sampai di Kota Batam para terdakwa menuju rumah terdakwa Sugiarto di Perum Royal Grande Blok D No. 25 Kecamatan Kota Batam.

Kemudian pada tanggal 17 Januari 2016 sekira pukul 15.00 wib terdakwa Sugiarto menghubungi PEK LIANG (DPO) untuk berrtemu di hotel. Kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yogi, menggantikan Imanuel Tarigan.

Perbuatan ketiga terdakwa diancam pidana pasal 113 ayat (2), jo 132 ayat (1), atau kedua pasal 114 ayat (2), jo 132 ayat (1), atau ketiga pasal 112 ayat (2), jo pasal 132 ayat (1) UU RI nomor 35 tahun 2009, tentang narkotika.(nikson)

Komentar Anda

Polling Bakal Pasangan Calon Gubernur Kepri Periode Agustus 2020 versi WartaKepri.co.id

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO