BNN Ajak Asean Task Force Waspadai Jaringan Narkoba Wong Chi Ping China

Warta BNN Budi Waseso di Batam

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Berdasarkan data dari UNODC badan dunia yang menangani narkoba, tercatat sebanyak 80 persen peredaran narkoba dilakukan melalui jalur laut, dan itu dianggap masih marak terjadi diseluruh dunia termasuk kawasan ASEAN.

Menurut fakta yang ada, sejumlah kasus besar yang telah berhasil diungkap oleh BNN dan institusi lainnya adalah mayoritas berasal dari jalur laut.

Sebagai contoh, sebut saja kasus pengungkapan 862 Kg sabu yang diselundupkan oleh jaringan sindikat Wong Chi Ping pada Januari 2015 lalu. Seterusnya, belum lama ini juga, pada 14 Juni 2016 lalu, BNN bersama Bea Cukai juga berhasil membongkar peredaran sabu seberat 40 Kg melalui jalur laut yang dilakukan dengan modus baru yakni memasukkan sabu di dalam pipa besi tebal.

PKPONLINE PKP DREAMLAND

Dalam kasus Indonesia, maraknya penyelundupan narkoba melalui laut tidak terlepas dari kondisi geografisnya. Panjang garis pantai Indonesia adalah 99.093 Kilometer, dan itu merupakan yang terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.

Menghadapi tantangan dan ancaman yang demikian, para penegak hukum bidang narkotika di ASEAN telah menyepakati perlunya membangun Gugus Tugas

Interdiksi Seaport ASEAN atau ASEAN Seaport Interdiction Task Force (ASEAN SITF). Untuk merealisasikan hal tersebut, Indonesia yang dimotori BNN mengambil inisiatif untuk menggelar pertemuan pertama di tingkat ASEAN yang khusus akan membahas upaya penguatan kolaborasi interdiksi di pelabuhan laut atau perairan, Rabu (20/7/2016).

Penyelenggaraan pertemuan itu tidak berdiri karena didasari mandate dari pertemuan ASOD dan didorong para Menteri di ASEAN yang membidangi masalah narkoba dalam pertemuan terakhir di Langkawi Malaysia, pada Oktober 2015 lalu.

Kepala BNN RI, Budi Waseso mengungkapkan pertemuan saat ini memiliki arti yang sangat penting. Yaitu pertama dalam konteks maritime, dimana Indonesia melihat bahwa sector interdiksi di pelabuhan laut harus diperkuat. Sedangkan yang kedua adalah seperti yang telah diulas diatas bahwa UNODC menyebutkan peredaran narkoba dominan menggunakan jalur laut.

Selanjutnya, masih kata Buwas, untuk yang ketiga adalah dalam konteks One ASEAN One Community, dimana lalu lintas perdagangan lintas batas akan semakin berkembang dan terbuka namun p[ada sisi lainnya hal tersebut bisa menjadi celah atau peluang bagi sindikat untuk menyelundupkan narkoba.

Kemudian untuk poin yang keempat sejauh ini langkah terhadap interdiksi di pelabuhan udara sudah menunjukkan hasil yang signifikan, sehingga perlu diimbangi dengan penguatan pada sector interdiksi pelabuhan laut.

Dalam pertemuan itu, Indonesia mengenalkan konsep dan juga mekanisme kegiatan interdiksi secara komprehensif yang dilengkapi dengan keberhasilan pengungkapan kasus. Dengan harapan, best practices yang sudah berjalan dan membuahkan hasil di Indonesia ini akan menjadi inspirasi atau role model bagi negara lainnya di kawasan ASEAN untuk nantinya diterapkan.

Kolaborasi, inisiasi dan koordinasi Kepala BNN juga menggarisbawahi bahwa tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan kali ini adalah untuk berkolaborasi, berinisiatif dan berkoordinasi dalam melakukan interdiksi lalu lintas peredaran narkoba di ASEAN melalui pemeriksaan di pelabuhan internasional ASEAN, dan melalui peningkatan kerja sama antara pemangku kepentingan ASEAN dengan maksud menghentikan lalu lintas narkoba baik ke dalam maupun melalui kawasan ASEAN.

Terkait hasil pertemuan ini, Budi Waseso sangat berharap ada beberapa kampanye penting seperti pembentukan kontak penghubung ASEAN SITF dan sekretariatnya, sharing informasi lebih maju, adanya website yang aman, serta adanya kemajuan dalam konteks peranan dan tanggung jawab ASEAN SITF itu sendiri, pintanya.(ichsan/rilis)

Komentar Anda

FANINDO DEWAN PERS WARTAKEPRI
PEMPROV KEPRI DPRD BATAM PEMKO BATAM DPRD ANAMBAS PEMKAB ANAMBAS PEMKAB BINTAN DPRD KARIMUN PEMKAB KARIMUN DPRD LINGGA PEMKAB LINGGA