Demografi 2020-2030, Indonesia Alami Ledakan Usia Kerja yang Ditulari AIDS ‎

25

WARTAKEPRI.co.id – Ditinjau dari segi bahasa, perkataan bonus mengandung arti nilai tambah yang menguntungkan bagi penerimanya.

Exif_JPEG_420
Taufiq
 Maka, bonus demografi dapat di definisikan sebagai nilai tambah yang menguntungkan dari sisi kependudukan. Bagi Indonesia, bonus demografi diperkirakan puncaknya akan hadir pada tahun 2020-2030.
Menurut Haryono (Win&Zainuddin, 2011) bonus demografi merupakan suatu fenomena dimana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak.
 Menurut Ida bagus sebagaimana yang dilaporkan oleh Antara, pada tahun 2020-2030, jumlah usia produktif/ angkatan kerja (15-64 tahun) di Indonesia diprediksi mencapai sekitar 70 persen, sedang 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun).
Jumlah angkatan kerja yang tinggi tersebut tentu saja merupakan faktor pendorong bagi tumbuhkembangnya sektor-sektor perekonomian, baik yang berbasis pada sumber daya alam atau pun jasa, baik sektor formal maupun pun informal; termasuk penyediaan jenis-jenis alternatif lainnya.
Dalam konteks pembangunan saat ini, angkatan kerja yang produktif dalam jumlah besar dapat memberikan suntikan modal yang signifikan bagi mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia-sebuah cita (visi) yang tengah diusung oleh pemerintah.
Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia kaya akan potensi ekonomi yang bersumber dari perairan (lautan). Namun potensi tersebut baru dapat memberikan kontribusi yang berarti apabila dikembangkan, diolah serta dikelola oleh tenaga kerja domestik yang unggul secara kuantitas dan kualitas.
Terlepas dari itu, perlu diingat bahwa tidak ada jaminan bahwa pada tahun 2020-2030 bonus demografi secara pasti akan dinikmati oleh bangsa ini, bahkan tidak menutup kemungkinan yang datang malah bencana demografi. Ini bukan lah hanya isapan jempol belaka.
Penyebaran penyakit AIDS yang terus meningkat dapat merubah  harapan menjadi petaka, mengganti bonus dengan bencana (baca. demografi).
 Kenapa?. Manusia yang mengidap penyakit yang mengerikan ini akan mengalami penurunan kekebalan tubuh. Lalu secara bertahap kualitas kesehatan pun akan terus menurun; produktifitas melemah; sampai harapan hidup pun pun terancam.
Faktanya, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang berada di papan atas berkenaan tingginya penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh infeksi HIV.
Apabila kondisi ini terus berlanjut maka, pada masanya nanti (baca tahun 2020-2030) memang Indonesia mengalami ledakan penduduk usia kerja.
Namun ledakan secara kuantitas tanpa dibarengi dengan  kemampuan yang kompetitif dan produktifitas yang unggul tidak akan mampu memberikan dorongan yang kuat untuk menggerakan sektor-sektor perekonomian.
Pastinya, beban ekonomi menjadi berlipat ganda, karena disaat produktivitas yang rendah, biaya kesehatan yang harus ditanggung untuk keperluan pengobatan penyakit AIDS relatif tinggi.
Ini lah yang penulis maksud dengan bencana demografi, yakni jumlah angkatan kerja tinggi namun tidak kompetitif dan mewariskan beban ekonomi yang berat.
Kita semua patut prihatin. Dari 5579 kasus AIDS di Indonesia pada tahun 2014 belum termasuk HIV, sebagian besar ditemukan pada orang yang masuk dalam kategori usia produktif, yakni 16421 orang usia 25-49 tahun dan 3587 orang berusia 20-24 tahun (Kementrian Kesehatan RI).
Tingginya penyebaran AIDS di kalangan usia produktif di tanah air tidak berdiri sendiri, akan tetapi berkorelasi dengan berbagai variable, termasuk penyalahgunaan narkoba dan pergaulan bebas.
Karena melalui konsumsi narkoba, terutama dengan menggunakan alat injeksi serta hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, perpindahan cairan tubuh antara satu orang dengan orang lainnya dapat terjadi dengan mudah dan cepat.
 Melalui perpindahan cairan ini lah virus HIV pun terbawa pindah dan menyebar ke orang lain. Perlu dicatat, provinsi Kepri masuk papan atas terkait dengan jumlah populasi pengguna narkoba di Indonesia. Pada tahun 2013 sempat menempati urutan ke 2. Lalu pada tahun 2004 turun ke urutan no 4.
Lebih memprihatinkan lagi, penggunanya bukan lagi monopoli kalangan tertentu, melainkan sudah menembus kalangan pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, pendidik dan lain sebagainya.
Disamping itu, penyimpangan seksual yang menjurus pada seks komersil sudah bukan menjadi suatu yang aneh dalam kehidupan pelajar dewasa ini. Pernyataan ini merujuk pada survei yang dilakukan Komnas PA terhadap dari 4.726 anak.
Hasilnya, sebanyak 93.7 persen remaja SMP dan SMA mengaku pernah berciuman, genital stimulation, hingga oral seks. Temuan lainnya, 62,7 persen remaja SMP mengaku sudah tidak perawan.
Menurut Arist, selama semester pertama 2013, Komnas PA menerima pengaduan sebanyak 102 kasus terkait perilaku seks pada remaja. Sebanyak 54 persen di antaranya adalah untuk tujuan seks komersial (Batamtoday, 03/10/2013).
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bonus demografi yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap pembangunan dapat menguap karena tingginya penyebaran AIDS di kalangan remaja beberapa tahun ke belakang ini.
7 tahun mendatang, tepatnya tahun 2020 mereka (kaum remaja) akan masuk ke dalam kategori usia dewasa.
Sehingga pada masa tersebut peran-peran produktifnya, karena sebagaian dari mereka kesehatannya tergerus oleh penyakit yang teramat mematikan ini.
Oleh itu pada bagian penutup tulisan ini, penulis ingin menegaskan kembali bahwa berdasarkan pemaparan diatas, penyebaran AIDS berkorelasi secara positif penyalahgunaan narkoba serta prilaku seks yang menyimpang dari agama dan nilai-nilai moralitas bangsa kita.
Mengingat perkembangannya yang sudah teramat memprihatinkan, sudah saatnya seluruh komponen bangsa membangun sebuah kesadaran kolektif bahwa kedua variable tersebut merupakan musuh bersama (common enemy) yang harus dilawan secara bersama-sama pula.
Kesadaran itu lah yang nantinya akan menggerakan atau menghidupkan pranata-pranata sosial, terutama pranata sosial keagamaan dan pendidikan guna mengambil perannya masing-masing di tengah-tengah masyarakat.
Gerakan ini akan semakin bermakna apabila disambut dengan sinergisitas antara masyarakat dan pemerintah (pusat dan daerah).
Penulis
Taufiqqurrachman, M.Soc.Sc
Dosen Ilmu Komunikasi, FISIP UMRAH
Peraih Besiswa Penuh Program Doktor di HUST Wuhan,P.R.C dari Pemerintah Tiongkok 
 

Komentar Anda

Polling Bakal Pasangan Calon Gubernur Kepri Periode Agustus 2020

FANINDO DEWAN PERS WARTAKEPRI BBK MURAH