Dulu.. Begini Praktek Pembuangan Limbah Minyak Hitam di Perairan Kepri

Limbah Minyak di Perairan Kepri

strong>WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Pencemaran limbah minyak hitam atau sluge oil yang terus berulang setiap musim utara, seakan tidak pernah terselesaikan. Tahun demi tahun, limbah bekas pembersihan kapal atau istilahnya Tank Cleaning kapal kapal tanker yang berlabuh di perairan Selat Malaka, tidak pernah berhasil ditangkap siapa pelakukanya.

Lagi lagi masyarakat nelayan di sejumlah pulau di Batam – Bintan dan Karimun menjadi korbannya. Seperti dilaporkan oleh seorang nelayan Mustapa Bendi Dolah yang juga sebagai ketua RT 003 RW 006 Pulau Mecan, kelurahan Sel akan Raya, Belakang Padang, Batam. Warganya mengeluhkan adanya pencemaran limbah minyak di wilayahnya.

Limbah datang, Selasa, 24 Januari 2017 pukul 18.00 WIB, dan diperkirakan dari kapal-kapal yang melintas Selat Singapura, sehingga kejadian ini mengakibatkan sepanjang pantai dan hutan bakau pulau Mecan tercemar limbah minyak.

PKP EXPO

Akibat dari pencemaran tersebut para nelayan tradisional mengalami kerugian pendapatan. Diman dengan matinya kepiting atau ketam yang dipelihara dalam buku di bakau-bakau.

Salah satu warga nelayan Pulau Mecan yang bernama Hasip usia 41th sangat menyayangkan adanya kiriman limbah minyak tersebut karena di kelong miliknya tidak ada sama sekali tangkapan.

Hal ini juga menimpa masyarakat di pulau Lengkang, Sarang dan sekitarnya, sehingga di harapkan kepada pihak pemerintah terkait segera mengambil tindakan.

Libatkan Pekerja Pulau

Praktek pembuangan limbah minyak hitam atau sludge oli yang disertai sampah sampah pembersihannya akan selalu terjadi ketika musim utara datang. Musim utara dimana pergerakan air laut dari arah Cina Selatan menuju perairan Kepri dan sekitaranya. Musim yang ditandai dengan bersamaan dengan Imlek.

Dalam berbagai penyelidikan yang dilakukan oleh pihak Kepolisian Polda Kepri sejak tahun 2012 hingga 2013, serta penelusuran WartaKepri ke masyarakat yang pernah berkerja sebagai pekerja bayaran tank cleaning di tahun 2013 silam.

Walau telah berlalu cerita ini tiga tahun silam, namun cerita ini mungkin dapat menjadi pertimbangkan bagi negara mengambil sikap.

Waktu itu, aparat sangat sulit menangkap perusahaan mana atau kapal mana yang membuang limbah minyak hitam ke laut. Dipastikan, praktek pembuangan minyak hitam yang mencemari pantai Kepri pada malam hari.

Dalam penyelidikan pihak kepolisian, diduga kapal kapal tanker yang berlabuh berminggu minggu di perairan perbatasan Indonesia, Malaysia dan Singapura memanfaatkan musim angin utara untuk membersihkan kapal kapal mereka.

” Setelah melakukan bongkar muat maka kapal itu menunggu giliran untuk pengisian ulang. Kalau awalnya kapal membawa minyak mentah, dan ada pesanan untuk mengangkut bahan lainnya, syaratnya harus dibersihkan. Disinilah masalahnya, karena proses pembersihan kapal pasti ditolak oleh pihak Singapura. Dan, jadilah pembersihan kapal dilakukan di daerah Selat Philips,” tutur seorang penyidik kepolisian waktu itu.

Cerita penyidik diatas benar adanya. Bahkan, bisnis pembersihan tank cleaning kapal ini telah menjadi mata pencarian dari beberapa orang Batam yang tinggal di sekitar perairan selat Philips. Seperti beberapa orang yang tinggal di Pulau Belakang Padang Batam.

WartaKepri dulu sempat berdialog dengan beberapa pekeraja tank cleaning kapal tanker. Para pekerja ini dibayar mahal untuk membersihkan isi kapal tanker tersebut. Pekerja bisa belasan orang. Bahkan, ada teman mereka meninggal akibat kehabisan napas saat membersihkan kapal tanker tersebut.

” Bayarannya membersihkan kapal itu besar, dolar juga. Tapi resikonya tinggi, bahkan ada teman kami meninggal kelelahan dan kehabisan napas, bayangkan kapal sebesar itu, apalagi tanker bekas membawa minyak, tertutup gitu. Kami kikis satu satu persatu minyak yang menempel dicuci lalu disisanya dimasukan kedalam karung karung yang telah disediakan. Dan, untuk proses pembuangan bukan bagian mereka. Tapi, biasanya setelah dikumpulkan, kapal sudah bersih dan mulai berjalan, baru ada yang membuangnya ke laut,” tutur salah seorang warga Belakang Padang yang waktu itu WartaKepri wawancara tahun 2013 silam.

Diungkapnya, untuk mendapatkan pekerjaan ini biasanya ada pihak pihak orang di Batam. ” Tidak mungkin kami langsung datang ke kapal itu,” tutur sang pekerja.

Jadi, ini siklus yang terjadi mengenai kasus limbah minyak hitam di Batam yang memang sulit diungkap dan menangkap siapa pelakunya. Pertannyaanya, sampai kapan?. (dedy suwadha)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

GALERI 24