Kulup Bawa 37 CTKI Tanpa Dokumen Resmi, Tim WFQR Lantamal IV Jadi Saksi

Wartakepri.co.id, Batam – Terdakwa Ahmad Jurari alias Kulup bersama-sama dengan terdakwa II Zulkifli alias Zul, pada hari Selasa tanggal 6 Desember 2016 sekitar pukul 23.00 WIB, bertempat di Perairan Pantai Stress Kecamatan Batu Ampar Kota Batam, membawa 32 Calon Tenaga Kerja Indonesia ( CTKI) ke Luar Negeri tanpa memiliki dokumen.

Kedua terdakwa ditangkap oleh tim WFQR unit 1 Jatanrasla Lantamal IV Tanjung Pinang, yang dipimpin Mayor Rudi Amirudin bersama anggotanya. Dalam sidang, Rabu ( 17/5/2017), Mayor Rudi bersama anggotanya dihadirkan di persidangan sebagai saksi.

Kata Rudi, awalnya adanya informasi
dari masyarakat tentang adanya rencana pemberangkatan 50 orang TKI Ilegal asal Batam yang akan bekerja di OPL timur Malaysia. Kemudian Tim WFQR (Western Fleet Quick Respon) Unit 1 Jatanrasla Lantamal IV dengan 8 personel menggunakan Sea Rider menindaklanjuti dan melaksanakan patroli di perairan Batam.

PKP EXPO

Pada pukul 23.00 WIB diperoleh informasi, bahwa ada 5 boat pancung membawa penumpang TKI Ilegal dari pelabuhan tikus Tanjung Uma Batam menuju perairan OPL Timur Malaysia. Patroli dapat melakukan pengejaran dan penghentikan terhadap 3 boat pancung dengan jumlah penumpang seluruh 37 orang, berasal dari Batam. Sedangkan 2 boat pancung yang melarikan diri.

Setelah diamankan dan dibawa ke dermaga Lanal Batam di Tanjung Sengkuang Batam. Tidak berselang lama, datang 3 orang lagi dari boat pancung lain datang dan menyerahkan diri. Diantaranya atas nama Ahmad Jurari alias Kulup yang merupakan koordinator atau pengurus.

“Informasi dari kedua terdakwa ini bahwa pemilik boat adalah Haji Zulkifli dan nahkoda yaitu Musliyadi, Haryanto, Fadli dan Indra,” kata Mayor Rudi Amirudin.

Rencananya, para CTKI akan dipekerjakan untuk membersihkan kapal tanker di laut OPL (Out Port Limited). Setelah saksi Daniel Manik dan 3 orang temannya setuju untuk bekerja, kemudian mereka berangkat menuju Pelabuhan Tanjung Uma dan berkumpul di gudang speed boat milik terdakwa II Zulkifli.

Kemudian pada hari Selasa tanggal 6 Desember 2016, terdakwa mencari calon tenaga kerja lainnya dengan cara menghubungi saksi Izwan Fazena yang berada di Tanjung Balai Karimun, untuk bekerja membersihkan kapal tanker dan meminta mencari juga teman-teman yang akan bekerja membersihkan kapal tanker dengan upah Rp.150.000,- per hari.

Setelah saksi Izwan Pazena bisa mengajak 5 orang untuk bekerja, mereka berangkat dari Tanjung balai Karimun sekitar pukul 17.00 wib menuju pelabuhan Harbour Bay Batam, biaya tiket kapal di tanggung oleh terdakwa.

Setelah sampai di Batam kemudian saksi Izwan Fazena dan teman-temannya menuju Pelantar Tanjung Uma untuk berkumpul menunggu keberangkatan. Terdakwa I dan terdakwa II selaku orang perseorangan tidak dibenarkan menempatkan saksi Izwan Pazena, Eko Wahyu Kristianto, Daniel Manik, Samsul Bahri dan calon TKI lainnya untuk bekerja diluar negeri tanpa ada Izin Resmi atau tanpa memiliki Perusahaan resmi sebagai PPTKIS (Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta) dari Menteri dan tidak memiliki PT/badan hukum.

Perbuatan kedua terdakwaI diatur dan diancam pidana dalam Pasal 102 ayat (1) huruf a tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Kata Jaksa penuntut umum ( JPU), Samsul Sitinjak SH dalam dakwaanya.

Majelis hakim yang menyidangkan perkara ini haki Ketua Endi Nurindra Putra SH,MH, dengan anggota Majelis Hakim Renni Pitua Ambarita SH dan Taufik Abdul Halim Nainggolan SH. Sidang kembali digelar minggu depan dengan agenda untuk mendengarkan saksi lainnya.

(Nikson Simanjuntak )

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

GALERI 24