Ribuan Netizen Ingin Jadi Kaki Tangan Ulama #RamonDamora

189

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – ‎ Dua hari setelah tulisan Ramon Damora yang berjudul Kaki Tangan Ustad Abdul Somad, di share dan dipublikasi langsung oleh akun Facebook Ustadz Abdul Somad, telah dilihat ribuan netizen. Tulisan yang diposting pada Sabtu (24/6/2017) dan hingga Senin (26/6/2017) malam mendapatkan like pembaca lebih dari 2400 netizen, dengan 425 kali dibagikan serta ratusan komentar interaktif.

Komentar komentar yang diposting oleh netizen menyetujui isi dari tulisan Ramon tersebut. Inti dari Komentar komentar menyatakan dan mendoakan agar Ustad Abdul Somad senantiasa dilindungi oleh Allah SWT, dan dijaga keluarganya.

Berikut Link ; ‎
https://m.facebook.com/UstadzAbdulSomad/

Atau ‎anda yang ingin memberi tanggapan silahkan ke link
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1903521646526833&substory_index=0&id=1598779020334432‎

Dan inilah isi tulisan Lengkap Ramon Damora yang dipublikasi oleh akun FB Fans Page Ustadz Abdul Somad
‎‎
KAKI TANGAN USTAD ABDUL SOMAD

ALLAH merancang skenario maha hebat tahun 1998. Tatkala mahasiswa IAIN (kini UIN) Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, buncah dadanya sebagai pejuang reformasi yang turun ke jalan-jalan, Ustad Abdul Somad –radhiyallahu ‘ala wajhih wa lisaanih– tidak. Allah lebih menghendakinya menikmati kebanggaan lain. Berjuang mengikuti seleksi penerimaan 100 beasiswa mahasiswa baru dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Kami sama-sama tengah menjalani penghujung semester dua kala itu. Saya di Fakultas Syari’ah, beliau kalau tak salah di Fakultas Tarbiyah. Reformasi tiba-tiba laksana panggilan suci. Semua datang. Diundang tak diundang. Mahasiswa Riau mabuk kepayang. Saya dan para aktivis IAIN Suska ’98 mengisi gelas kecil idealisme dengan memesan lautan. Gelas yang tak penuh-penuh. Diisi, tumpah, dituang, terbuang, begitu seterusnya.

Gelas yang sesungguhnya cuma berisi genangan afdruk cat sablon kain spanduk, tinta pamflet dan suratkabar, gas air mata, minyak bumi yang terus-menerus dirampas Jakarta, mitraliur tokoh-tokoh Riau Merdeka yang tak pernah merdeka –bahkan di rumah tangganya sendiri, juga bersloki-sloki arak kapitalisme dari para pemilik perusahaan kayu dan perkebunan demi meracuni kawan-kawan aktivis ke lembah kelabu oportunis.

Reformasi berhasil. Rakyat dan mahasiswa kenduri. Lagu Indonesia Raya bergema. Semua mahasiswa memandang langit, memilih tempat mendongak sendiri-sendiri. Tapi telah Allah sembunyikan dari kami wajah tirus seorang mahasiswa bertubuh kurus, yang bila melangkah bagai padi sehelai; ringan, melayang-layang, menyangga kepala yang selalu tertunduk, oleh ilmu. Mahasiswa yang kini diseru semesta umat dengan rindu dan takzim hormat. Ustad Abdul Somad. Subhanallah.

Allah jauhkan suara berat-serak khasnya dari mimbar bebas mahasiswa tahun 1998 di lapangan depan kampus lama Jalan Ahmad Dahlan, saat kami bergiliran orasi, baca puisi, menggenggam toa resonansi-resonansi. Allah tahan tangannya untuk terkepal, ketika tangan-tangan lain lantang meninju semua yang berbau Orba tinggi-tinggi ke udara. Allah kunci kakinya agar tidak tergoda bersama kami turun ke jalan. Allah bentangkan tirai penghalang dalam mata batinnya yang masih sangat mungkin terhasut bujuk rayu 1998: betapa hebatnya menjadi mahasiswa Indonesia.

Subhanallah. Allah ash-Shamad. Maha Sempurna Allah yang menghapus nama Abdul Somad dari album stambuk alumni IAIN Suska, lalu menulis namanya sebagai satu dari 100 mahasiswa penerima beasiswa Al Azhar tahun 1998 itu. Maha Benar Allah yang kemudian melapangkan tangan dan kaki beliau mendalami ilmu hadits di Maroko. Maha Indah Allah yang akhirnya mengembalikan “si anak hilang” ke haribaan civitas akademika UIN Suska sebagai pengajar berkilau cahaya ilmu, langgam jati diri yang senantiasa tawadhu’, juga –yang terpenting– satu hal yang sekarang menjadikannya begitu istimewa: pesona retorika.

Ketika hari ini suara jiwamu kian ringkih dan podium-podium sosial politikmu semakin rengkah, hanya suara Ustad Abdul Somad saja yang ingin kau dengar, dari youtube, medsos, televisi, radio, dll. Dakwah lugas, kadang bikin gemas, dan cerdasnya semata yang ingin kau simak di mimbar-mimbar, aula kampus, hutan pedalaman Talangmamak, tanah lapang 212, dsb.

Ia tampilkan tausiah demi tausiah berlevel tinggi yang, ajaibnya, selalu bisa dengan bersahaja ia tuturkan ke khalayak. Seorang ahli hadits tanpa propaganda. Seorang ulama era milenial yang mensahihkan hadits doa berbuka puasa “dzahaba ash-ashamaa’u wa abtallat al-‘uruuq…” dst,  tapi lewat hujjah dan referensi kitab-kitab besar, tak lantas menganggap “allahumma laka shumtu…” merupakan bid’ah nusantara ratusan tahun yang menyebabkan dhalalah leluhurmu, atuk, nenek, bapak, ibu, dan guru ngajimu bakal dihumban ke neraka.

Melayu, Batak, Aceh, Jawa, Kalimantan, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, terpukau dijangkau lidah pesisir Sumateranya yang komunikatif, namun tetap bernas merujuk dalil high-standart dan menjaga aktualitas. Alim ulama, cerdik pandai, gubernur, penguasa, pengusaha, mahasiswa, aktivis, preman, bromocorah, pulang dari ceramahnya dengan ghirah ketauhidan membara memuliakan tanah air.

Kau kelewatan bila menuduhnya anti kebhinekaan. Tak seinci pun dari darah ini akan membiarkan kau mengusiknya. Tak sedetik jua kami abaikan untuk berdoa: jagalah, ya Allah, Ustad Abdul Somad dan keluargannya. Lindungi ia dari musuh-musuh agama. Lantiklah kami sebagai kaki tangannya!


RAMON DAMORA, mantan aktivis Riau ’98, wartawan, pernah dan sedang memimpin redaksi untuk tiga media, Ketua PWI Kepulauan Riau dua periode, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kepri, Sekretaris Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kepri, sastrawan, penyair, pencinta ulama.

Sumber : WA Ramon Damora dan Facebook FP Ustadz. Abdul Somad

Editor ‎: Dedy Suwadha

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PKPONLINE PKP DREAMLAND