Danlanal Ranai dan Ibu-Ibu Bersihkan Pantai Belakang Mess Tjiptadi Natuna

34

WARTAKEPRI.co.id, NATUNA – Gerakan menghadap laut dilaksanakan Komandan Lanal Ranai Kolonel Laut (P) Harry Setyawan, seluruh Prajurit Lanal Ranai serta ibu-Ibu Jalasenastri Cabang 8 Korcab IV DJA I (Daerah Jalasenastri Armada I), adapun kegiatannya melaksanakan kegiatan bersih-bersih wilayah sekitar pantai, Minggu (19/8/2018) di pantai Belakang Mess Tjiptadi Lanal Ranai.

Pelaksanaan kegiatan tersebut dipandu dengan gerakan yang dinamakan “Gerakan Menghadap ke Laut” pelaksanaannya secara serentak pada tanggal 19 Agustus 2018.

Menteri Kelautan dan Perikanan Dr. Susi Pudjiastuti mengajak kawan-kawan di seluruh Indonesia untuk berkontribusi bagi bangsa Indonesia dengan membersihkan lingkungan dari sampah-sampah plastik di pesisir pantai.

Pada saat pelaksanaan aksi tersebut Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan Dr. Susi Pudjiastuti berada di Bitung.

Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Harry Setyawan, memberikan arahan kepada seluruh prajurit Lanal Ranai dan Ibu-Ibu Jalasenastri Cabang 8 Korcab IV, DJA I yang pada intinya adalah bahwa

“kegiatan ini dilaksanakan secara bersama sama di seluruh penjuru Nusantara berdasarkan Instruksi Menteri Kelautan dan Perikanan Dr. Susi Pudjiastuti tentang gerakan menghadap ke laut dengan melaksanakan kegiatan bersih-bersih lingkungan pantai dr sampah, terutama sampah plastik,” terang Danlanal.

Selain itu kegiatan tersebut juga masih dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 73.

“Agar pantai di sekitar Lanal Ranai dapat selalu bersih dan menjadi tempat wisata bagi keluarga besar Lanal Ranai,” sebutnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengharapkan,  gerakan “Menghadap ke Laut” dapat menjalin sinergis masyarakat dengan pemerintah.

“Pemerintah menjaga laut dari pencurian ikan. Masyarakat menjaga kesehatan laut,” ujarnya.

Untuk itu, Menteri Susi menawarkan beberapa solusi. Pertama, mengurangi penggunaan sampah plastik.

Sebab, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan pemilik pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia justru menjadi penyumbang sampah nomor 2 terbesar di dunia, setelah Cina.

Setiap tahun diperkirakan 9 juta sampah plastik mengotori laut di negara ini. Jika kondisi itu tidak berubah, diprediksi akan lebih banyak sampah dibanding ikan di laut Indonesia pada tahun 2030.

“Plastik, 450 tahun tidak bisa hancur. Dan mikroplastik juga sangat berbahaya untuk kesehatan kita semua. Kalau ikan makan itu, kemudian kita makan ikan, sama saja tidak jadi sehat kitanya,” jelasnya. “Kita tidak boleh biarkan itu.”bebernya.

Dibeberkannya, solusi lain adalah membuat Perda untuk mengubah tata-letak rumah warga, dari membelakangi jadi menghadap laut.

“Mungkin juga bikin Perda untuk rumah makan, rumah-rumah yang dipinggir pantai, teras depannya harus menghadap ke laut, dapurnya menghadap ke jalan. Karena kalau dapurnya menghadap ke laut, ya main buang saja (sampah) ke laut lagi,” ungkapnya.

Diingatkannya lagi, untuk menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan, tidak menggunakan bom, racun dan potasium. Serta, memberi kesempatan pada ikan untuk melakukan regenerasi.

“Dengan cara demikian, laut akan menjadi harapan bagi masa depan bangsa Indonesia,” tuturnya.

Dijelaskannya juga, keberhasilan menjaga kesehatan laut, juga diyakini akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Kota Bitung, kata Menteri Susi, bisa mengkombinasikan sektor industri perikanan dengan pariwisata.

“Jika berhasil, maka tidak ada program pembangunan dan kebijakan pemerintah yang lebih baik dari ini. Karena dua industri ini tujannya melanggengkan keindahan dan kesuburan sumberdaya laut. Kalau sudah begitu, maka sejahteralah masyarakatnya,” terangnya.( Rikyrinovsky)

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PKPONLINE PKP DREAMLAND