Sosok Dermawan dari Surabaya Dato Sri Tahir Menerima Penghargaan Warga Kehormatan Brimob

Dato Sri Tahir Menerima Penghargaan Warga Kehormatan Brimob
PKP Online

WARTAKEPRI.co.id-Sembilan perwira tinggi (pati) Polri dan satu sipil Dato Sri Tahir menerima penghargaan warga kehormatan Brimob. Penghargaan itu diberikan dalam rangka menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Brimob Polri.

Komandan Korps Brimob Polri Inspektur Jenderal Polisi Rudy Sufahriadi mengatakan, penghargaan warga kehormatan kepada warga sipil diberikan kepada bos Mayapada Grup Dato Sri Tahir.

Menurutnya, penghargaan tersebut bisa diberikan kepada warga sipil dengan berbagai pertimbangan. Dalam hal ini, Tahir dinilai layak mendapatkan penghargaan tersebut karena kontribusinya terhadap Brimob.

“Yang pasti Pak Tahir memberikan kontribusi baik saran maupun masukan kepada Brimob, terhadap saya, terutama untuk kemajuan Brimob itu sendiri,” ujar Rudy, seperti tulis Vivanews, Selasa 13 November 2018.

Rudy menjelaskan, pengusaha asal Surabaya itu kerap memberikan bantuan finansial di Pusdik Brimob yang tidak terjangkau APBN. Salah satunya dengan memperbaiki sejumlah infrastruktur milik Brimob.

Pendiri Mayapada Group

Berdasrakan penelusuran wartakepri.co.id sejumlah media, Kiprah orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes, Dato Sri Tahir di bidang sosial memang pantas diacungi jempol.

Saat dikukuhkan sebagai doktor honoris causa dari Universitas Airlangga, Surabaya, pada pertengahan Maret 2018 lalu, Dato Sri Tahir mengatakan tak masalah membagi-bagikan harta kepada masyarakat yang kurang beruntung.

“Habitat saya adalah orang kecil, orang tidak beruntung. Tidak masalah harta saya dibagikan untuk masyarakat karena saya berhutang kepada negeri ini,” ujarnya tulis media Tempo.

Salah satu aksi filantropis terbesar Tahir adalah ketika dia menyumbangkan US$ 75juta untuk The Global Fund dalam rangka melawan TBC, HIV, dan malaria di Indonesia.

Dalam sumbangan itu, Tahir bermitra dengan Bill & Melinda Gates Foundation, yayasan sosial milik taipan Bill Gates.

Tahir memang dikenal sebagai miliarder yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dia tercatat terlibat banyak kegiatan amal terutama dalam bidang kesehatan dan pendidikan.

Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir atau biasa akrab dipanggil Tahir lahir di Surabaya pada 26 Maret 1952.

Seorang pengusaha di Indonesia, investor, filantropis, sekaligus pendiri Mayapada Group, sebuah holding company yang memiliki beberapa unit usaha di Indonesia.

Unit usahanya meliputi perbankan, media cetak dan TV berbayar, properti, rumah sakit dan rantai toko bebas pajak/duty free shopping.

Bank Mayapada yang didirikan tahun 1990 menjadi salah satu andalan tahir untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.

Tahir bercerita, keperduliannya ini terinspirasi dari autobiografi seorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania yang mendirikan Misionaris Cinta Kasih atau Missionaries of Charity di Kalkuta, India, pada tahun 1950 yaitu Mother Teresa.

“Saya ingat sebuah autobiografi yang dituliskan oleh Mother Teresa. Disitu ditulis, suster-suster bertanya pada Mother Teresa mengapa orang yang sudah hampir mati, harus ditolong, dibawah ke dalam biara, lalu dimandikan dan diberi tempat yang baik. Padahal besok juga sudah mati,” ujarnya di Jakarta berapa waktu lalu seperti di tulis liputan6.

Tahir mengungkapkan, kemudian Mother Teresa berkata kepada suster-suster tersebut bahwa tugas manusia adalah memuliakan manusia lain. Meski nyawanya sudah tidak ada lagi.

“Mother Teresa berkata, saya ingin mengembalikan suatu kehormatan bahwa dia meninggal pun, meninggal dengan suatu kehormatan. Apalagi bagi yang hidup,” lanjut dia.

Meski punya niat tulus membantu sesama, Tahir mengatakan bahwa tidak jarang orang yang mempertanyakan niatnya tersebut.

Namun dia yakin bahwa apa yang sudah didapatkannya selama ini menjadi alasan yang kuat untuk berbagi kepada orang lain.

“Ada yang bertanya pada saya, tidak ada makan siang cuma-cuma? Saya bilang betul, di dunia ini memang tidak ada makan siang cuma-cuma.

Namun urutannya salah, urutannya bukan saya berbuat sesuatu kemudian saya mendapatkan sesuatu. Tapi saya telah mendapatkan sesuatu, saya telah menikmati, maka adalah sebuah konsekuensi bahwa saya harus mengembalikan sesuatu.”

Tahir menyatakan dirinya tidak merasa terbebani dengan menolong orang lain melalui kegiatan sosial yang diikutinya.

Baginya, menyisihkan dana untuk didonasikan merupakan kewajiban bagi siapa saja yang mampu.

“Saya tidak merasa beban, karena memang saya merasa ini suatu kewajiban. Untuk saya berbuat lebih banyak, karena saya sudah diberi terlalu banyak,” tandasnya.(Rms)

Editor : Rikyrinovsky

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel