Jawaban Turki atas Kecaman UE Terkait Museum Hagia Sophia Jadi Masjid, di Spanyol Masjid Jadi Gereja

520
Hagia Sophia di Turki. Foto istockphoto

WARTAKEPRI.co.id, ANKARA – Pemerintah Turki dengan tegas menolak kecaman Uni Eropa (UE) atas keputusannya mengubah status Hagia Sophia kembali menjadi masjid.

“Turki menolak pernyataan kecaman yang digunakan oleh Uni Eropa atas pengalihan fungsi Hagia Sophia kembali menjadi masjid,” kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu selama pertemuan dengan sejawatnya dari Malta di ibu kota Ankara pada Selasa 14 Juli 2020.

“Seperti yang saya katakan sebelumnya, jika Josep Borell [kepala kebijakan luar negeri UE] mengatakan akan lebih baik jika tidak dibuka jadi masjid, saya akan menghormatinya. Jika dia mengatakan “akan lebih baik jika tetap di museum, saya juga menghargai itu, tapi kami menolak ungkapan ‘mengutuk’,” kata dia.

Menyoroti warisan Andalusia selama 800 tahun di anggota UE Spanyol, dia mengatakan, “Di Spanyol, ada sejumlah masjid yang diubah menjadi gereja. Jadi sekarang apakah kita perlu mengatakan kepada Spanyol, ‘ubah mereka kembali menjadi masjid, kami mengutukmu’?”.

“Ini juga masalah tentang hak-hak kedaulatan Turki,” jelas dia.

Pada Jumat, pengadilan Turki membatalkan dekrit Kabinet 1934 yang telah mengubah Hagia Sophia menjadi museum, membuka jalan untuk digunakan kembali sebagai masjid setelah jeda 85 tahun. Sebelum 1934 bangunan megah itu berfungsi sebagai masjid selama hampir 500 tahun.

Pada pertemuan para menteri luar negeri UE Senin kemarin mengecam langkah tersebut.

Keputusan Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan

Sebelumunya, Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan secara resmi menjadikan situs Hagia Sophia di Istanbul kembali menjadi masjid dan menyatakan terbuka untuk ibadah umat Islam, beberapa jam setelah pengadilan tinggi membatalkan keputusan tahun 1934 yang menjadikan landmark agama tersebut sebagai museum pada Jumat (10/7/2020).

Keputusan itu memicu kekecewaan bagi orang-orang Kristen Ortodoks. Awalnya sebuah katedral, Hagia Sophia diubah menjadi masjid setelah penaklukan Istanbul oleh Kekaisaran Ottoman. Namun, selama 86 tahun terakhir diubah menjadi museum yang setiap tahunnya dapat menarik hingga jutaan turis untuk berkunjung, demikian diwartakan AP News, Sabtu (11/7/2020).

Puluhan orang yang menunggu putusan pengadilan terdengar meneriakkan, “Allahu Akbar!” saat kabar itu disampaikan dan kerumunan yang berada di luar bangunan langsung melakukan doa bersama. Sementara di ibu kota Ankara, para legislator berdiri dan bertepuk tangan ketika keputusan dibacakan di Parlemen.

Pengadilan tinggi administrasi Turki menyatakan keberatan atas petisi yang dibawa oleh sekelompok agama dan membatalkan keputusan Kabinet 1934 yang mengubah situs tersebut menjadi museum. Dalam beberapa jam, Presiden Recep Tayyip Erdogan menandatangani keputusan yang menyerahkan Hagia Sophia kepada Kepresidenan Urusan Agama Turki. Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Erdogan mengatakan doa pertama di dalam Hagia Sofia akan diadakan pada 24 Juli, dan ia mendesak penghormatan atas keputusan tersebut.

“Saya menggarisbawahi bahwa kami akan membuka Hagia Sophia untuk beribadah sebagai masjid dengan melestarikan karakter warisan budaya bersama umat manusia. Ini adalah hak kedaulatan Turki memutuskan untuk tujuan apa Hagia Sofia akan digunakan,” kata Erdogan.

Dia menolak gagasan bahwa keputusan itu mengakhiri status Hagia Sophia sebagai struktur yang menyatukan agama. “Seperti semua masjid kami yang lain, pintu Hagia Sophia akan terbuka untuk semua, penduduk setempat atau orang asing, Muslim dan non-Muslim,” tambah Erdogan dikutip dari CNN.

Erdogan telah berbicara pada UNESCO untuk mengubah situs Warisan Dunia yang sangat simbolis itu menjadi masjid meskipun ada kritik luas secara internasional, termasuk dari AS dan para pemimpin Kristen Ortodoks, yang mendesak Turki untuk mempertahankan statusnya sebagai museum yang melambangkan solidaritas antaragama dan budaya.

Penolakan Hagia Sophia Menjadi Masjid

Langkah ini mengancam untuk memperdalam ketegangan dengan negara tetangga Yunani di mana Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis mengutuk keputusan itu sebagai penghinaan terhadap karakter ekumenis Hagia Sophia.

“Ini adalah keputusan yang menyinggung semua orang yang mengakui Hagia Sophia sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya dunia. Keputusan ini jelas mempengaruhi tidak hanya hubungan Turki dengan Yunani, tetapi juga hubungannya dengan Uni Eropa, UNESCO, dan komunitas dunia secara keseluruhan,” kata Mitsotakis.

Di kota Yunani kedua terbesar, Thessaloniki, pengunjuk rasa berkumpul di luar sebuah gereja yang meniru Hagia Sophia dan menyandang nama yang sama. Mereka meneriakkan, “Kami akan menyalakan lilin di Hagia Sophia!” dan memegang bendera Yunani, serta spanduk Bizantium.

“Mengecam keras tindakan Turki terhadap Hagia Sophia dalam upayanya untuk mengalihkan opini domestik dan menyerukan Turki untuk menghormati kewajiban internasionalnya,” tweeted Menteri Luar Negeri Republik Cyprus Nikos Christodoulides.

Foto AP / Emrah Gurel

5 Fakta Hagia Sophia Dilansir dari hagiasophia.com, berikut lima fakta mengenai situs bersejarah Hagia Sophia yang fenomenal tersebut:

1. Satu-satunya Bangunan Gereja Kebijaksanaan Suci yang Tersisa Terdapat tiga gereja yang diberi julukan sebagai Gereja Kebijaksanaan Suci atau Church of Holy Wisdom, tetapi hanya Hagia Sophia yang tidak dihancurkan.

Bangunan Hagia Sophia yang ada saat ini, awalnya dibangun sebagai bangunan gereja antara 532 dan 537 masehi atas perintah Kaisar Bizantium Justinian I, dan Hagia Sophia merupakan situs ketiga dari Gereja Kebijaksanaan Suci yang menduduki situs tersebut. Sisanya dihancurkan oleh perusuh ketika terjadi konflik penaklukan Konstantinopel.

2. Sempat Kehilangan Mosaik dan Lukisan Artistik Religius Ketika Konstantinopel, atau kini dikenal sebagai Istanbul, ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II dari Kesultanan Ustmaniyah, gereja Hagia Sophia diubah menjadi masjid pada 1453. Banyak mosaik dan lukisan bercorak Kristen ditutupi dan diplester ketika dijadikan tempat ibadah umat Istam tersebut.

Namun, pada 1935, barulah sejak Hagia Sophia dijadikan museum, dilakukan restorasi mosaik dengan membuka plester penutupnya. Oleh karena itu, sebelum resmi dijadikan masjid oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan, Hagia Sophia dianggap sebagai simbol keagamaan antara Islam dan Kristen. Di Hagia Sophia, kaligrafi Allah dan Muhammad SAW dipajang berjejer dengan lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus.

3. Menjadi Museum pada 1935 Hagia Sophia diubah menjadi museum pada 1935 oleh presiden Turki pertama, Mustafa Kemal Ataturk. Sejarawan seni menganggap mosaik bangunan yang indah dari Hagia Sophia sebagai warisan pengetahuan tentang seni mosaik kuno. Seni mosaik itu tercatat dalam Kontroversi Ikonoklastik di abad kedelapan dan kesembilan.

Hagia Sophia kemudian diakui sebagai salah satu dari situs Warisan Dunia UNESCO yang disebut Area Bersejarah Istanbul sejak 1985, yang mencakup bangunan dan lokasi bersejarah utama kota itu.

4. Kubah Terbesar Kedua di Dunia Kubah yang menjadi ikon Hagia Sophia merupakan bangunan kubah terbesar kedua di dunia setelah gereja Pantheon di Roma. Ketika proses pemasangan kubah ini, dinding Hagia Sophia menjadi condong ke luar karena bobot kubah yang demikian berat.

Untuk mengatasinya, dinding untuk menyokong kubah Hagia Sophia dibangun lagi setelah kubah dipasang. Namun, di balik kemegahannya, rupanya Hagia Sophia dibangun dalam durasi singkat, hanya enam tahun pengerjaan. Arsiteknya bernama Anthemius dari Tralles dan Isidorus dari Miletus. Keduanya dikenal sebagai mekanik sekaligus matematikawan.

5. Berada di Lokasi Patahan Gempa Hagia Sophia adalah salah satu bangunan paling penting di Istanbul. Kendati demikian, lokasinya berada di posisi rawan karena berada di patahan gempa. Jika gempa bumi terjadi, tidak mustahil strukturnya dapat rusak kembali.

Struktur yang sekarang berdiri, masih dari topangan bangunan abad keenam, dan gempa bumi yang terjadi pada 558 masehi sudah meruntuhkan kubahnya. Kemudian, bangunan ini kembali dipulihkan pada 562 masehi. Selain itu, masih ada dua bagian lain bangunan yang runtuh dan hanya direparasi kembali dalam skala yang lebih kecil. Kebanyakan perbaikan dilakukan di bagian luar bangunan Hagia Sophia.

Jika merujuk situs resminya, hingga sekarang bangunan Hagia Sophia harus terus direparasi ulang agar tetap bertahan sebagai menumen warisan dunia.(*)

Sumber : Republika dan Dikutip dari Abdul Hadi (tirto.id – Sosial Budaya)
Editor : Dedy Suwadha

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PKPONLINE PKP DREAMLAND