Kasus Eksploitasi Anak di Batam Menjadi Perhatian Khusus KPPAD Kepri

1251
WartaKepri - Ketua KPPAD Provinsi Erry Syahrial

wartakepri.co.id. Batam – Terungkapnya kasus eksploitasi seksual komersil anak yang menimpa dua pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Batam menjadi perhatian Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri.

Ketua KPPAD Provinsi Erry Syahrial mengaku prihatin dengan munculnya lagi kasus eksploitasi seksual di kalangan remaja di Kota Batam. Setelah sebelumnya, dia awal pandemi Covid-19 juga ada kasus serupa yang melibatkan bebebapa remaja di sebagai korban dan pelaku ekspoitasi seksual.Rabu 29/7/2020.

Selanjudnya Ini menunjukkan bahwa kasus eksploitasi seksual terhadap anak mulai meningkat menimpa remaja dan pelajar. Ini harus diwaspadai dan dipahami oleh orangtua, guru, masyarakat dan anak itu sendiri,” ungkap Erry.

Erry menjelaskan, korban eksploitasi secara seksual terjadi karena faktor internal anak itu sendiri, karena kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua, disamping itu pengaruh kelompok teman sebaya , serta faktor ekonomi keluarga sehingga anak terpancing meniru gaya hidup hedonis.

“Akibatnya anak gampang ditipu, dibujuk rayu, diiming-imingi untuk mendapatkan imbalan oleh pelaku kejahatan.Faktor ini diperparah jika keluarganya kurangnya pengawasan danbpola asuh dari orang tua anak itu sendiri ditambah masalah ekonomi dan lainnya,”tuturnya.

Faktor lainnya adalah dampak negatif dari meningkatnya akses remaja kepada media sosial dan teknologi informasi belakangan ini. Teknologi menjadi sarana bagi pelaku kejahatan pada anak salah satunya eksploitasi seksual, pencabulan, trafiking dan lainnya.

Dipaparkan erry, kehadiran teknologi memang mempermudah semua orang dan berguna bagi pelajar salah satunya sarana belajar daring atau online. Namun di sisi lain, pengunaan handpohone dan media sosial tanpa pengawasan pada anak remaja bisa disalahgunakan untuk hal-hal negatif dan membahayakan keselamatan anak.

“Di dunia perlindungan anak, teryata kehadiran teknologi 4.0 telah mendekatkan pelaku kejahatan dengan korban anak. Saat ini banyak muncul kejahatan pada anak berbasis teknologi atau dipermudah dengan adanya handphone, media sosial dan lainnya,’’ sebutnya.

Erry menambahkan, dari hasil monitoring dan evaluasi kasus-kasus anak yang terjadi di Kepri menyimpulkan bahwa saat ini peningkatan kasus anak banyak dipicu oleh kehadiran teknologi informasi dan internet. Hasil telaahan KPAI juga demikian terhadap kasus-kasus anak yang terjadi di Indonesia. Ada perubahan trend kasus anak dari modus dan medianya konvensional ke arah media cyber.

Untuk itu, Erry menghimbau kepada para orangtua untuk memperkuat mental dan moral anak-anak lewat penanaman nilai-nilai yang siap menghadapi zaman Millenial ini. Orangtua harus memperkuat pengawasan pada pergaulan anak-naknya. Edukasi anaknya lebih dahulu sebelum memberikan handphone.

“Kita minta juga guru, lembaga pendidikan dan masyarakat ikut serta membentengi moral remaja dengan pendidikan, penanaman karakter dan kepedulian terhadap remaja sebagai bentuk upaya pencegahan kasus-kasus seperti ini,’’ harap Erry.

Semantara itu KPPAD Kepri juga meminta masyarakat memberikan informasi kepada pihak terkait bila dicurigai ada kasus seperti ini dan meminta pihak kepolisian rutin melakukan cyber partoli di dunia maya untuk mengungkap kasus-kasus eksploitasi seksual pada anak.

Lakukan Pengawasan terkait dengan proses hukum kasus eksploitasi seksual anak di Batuaji ini, KPPAD Provinsi Kepri juga melakukan pengawasan agar pelaku diproses sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku yaitu UU Perlindungan Anak.

“Tentu kita berharap pelaku dihukum seberat-beratnya,” kata Erry.(AMR)*

Editing berita : Redaksi menghapus dua paragraf terakhir.

Honda Capella

FANINDO