Pilkada “Covid” 2020 Ujian Bagi Penyelenggara, Petahana dan Pendukung di Media Sosial

815

BANYAK pihak pesimis bahwa Pilkada pada 9 Desember 2020 akan berhasil digelar dengan sukses dan berkualitas. Pilkada di masa pandemi dinilai akan lebih banyak mudarat daripada manfaat, antara lain akan menimbulkan klaster baru penyebaran kasus positif Covid-19, akan menguntungkan calon incumbent (petahana), dan akan mengurangi kualitas kontestasi.

Di tengah kasus positif Covid-19 yang terus meningkat semua keraguan masyarakat itu wajar dan bisa diterima secara nalar. Apalagi negara kita belum punya pengalaman melaksanakan Pilkada (juga Pemilu) di masa pandemi.

Namun membiarkan Pilkada tanpa ada kepastian juga bukanlah pilihan yang tepat, karena menyangkut keberlangsungan pemerintahan dan taraf hidup masyarakat di 270 wilayah (9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota).

Kini pilihan sudah diambil, maka ada agenda penting yang harus diwujudkan dalam melaksanakan Pilkada di tengah pandemi ini adalah bagaimana penyelenggara seperti KPU, Bawaslu dapat menjamin proses Pilkada dilaksanakan berkualitas dengan prinsip free and fair election.

Semua tahapan Pilkada wajib dilakukan secara demokrasi, akuntabilitas, transpransi, integritas dan profesionalitas serta dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Butuh pihak pihak ketiga seperti lembaga masyarakat atau media menjadi wasit dari penyelenggara Pilkada itu sendiri.

Pilkada Pandemi Covid-19 terlihat dua bulan terakhir peran incumben yang sangat menonjol serta aktif memberikan bantuan. Sedangkan, calon calon penantang petahana selama dua bulan terakhir makin melemah dan terlihat makin tiarap dan kesulitan berjumlah dengan masyarakat.

Disisi para pendukung, persaingan saling dukung mendukung makin mewarnai media sosial. Pendukung pasangan calon kini telah meninggalkan media konvensional, diskusi makin intensif di media sosial masing masing dan kadang berlanjut didunia nyata. Sering terjadi dalam sebuah diskusi, baik di dunia maya bahkan di alam nyata yang salah dalam mengartikan keberbedaan pilihan politik.

Hal ini akan menjadi penyebab ketidaksukaan dan kebencian terhadap pemilih berbeda. Berbeda seakan harus mengabaikan kebhinnekaan.
Kecemasan mulai muncul episode episode yang akan mencederai pertemanan, persahabatan dan bahkan persaudaraan untuk mempertahankan dukungannya.

Ini kembali memunculkan pertanyaan dan ujian demokrasi ketika masyarakat belum matangnya berperilaku ketika berbeda pilihan politik.

Memang perbedaan pilihan tidak mudah diterima, karena pilihan politik dibangun dengan tidaklah berpegang kepada ketentuan dan minimnya pendidikan politik kepada masyarakat.

Kadang, keputusan dengan mengedepankan kedewasaan bersikap diartikan menjadi pilihan politik yang harus benar berbeda. Memilih tidaklah harus disikapi dengan berlebihan, tetapi kedewasaan sikap seharusnya yang dikedepankan hidup berdemokrasi. Itu bersama hari dipahami.

Keberbedaan adalah bagian dinamika biasa dan tidak harus disikapi dengan tindakan kontraproduktif, tetapi lebih baik menggunakan cara rasionalitas kedewasaan menghadapi keberbedaan tersebut.

Rasionalitas dalam arti demikian bahwa jika ada ketidaksetujuan, ketidaksukaan dan bahkan mungkin dibarengi kebencian terhadap pilihan politik tertentu, maka jalan keluarnya adalah cukup sederhana dengan tidak harus memilihnya pada saat hari pemilihannya telah tiba. Gampangkan.

Untuk itu, maka kedewasaan sikap berbeda menjadi jawaban di dalam pilihan politik yang tidak sama. Melalui kedewasaan sikap demokrasi akan berakar serta bertahan lama, meskipun tidak sama pilihan politiknya. Demokrasi, idealnya, dibangun dengan fondasi partisipasi, kesukarelaan kebebasan memilih dan bukan dengan mobilisasi, keterpaksaan dan ancaman.

Selain pendukung yang terus belajar berpolitik dewasa, pihak penyelenggara seperti KPU dan Bawaslu harus mulai bersikap atau mulai aktif bersosialisasi untuk menciptakan hasil pilkada yang santun dan bermatabat hingga akhir selesai pemilihan dan terpilih siapa yang keluar sebagai pemenang dengan hasil menyejukan bagi semua. (Batam 2 Agustus 2020)

Zulfahmi
Praktisi Media WartaKepri.co.id/WartaSiber.com

Editor : Dedy Suwadha

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PKPONLINE PKP DREAMLAND