Vonis Seumur Hidup, Brenton Tarrant Sengaja Pindah dari Australia untuk Aksi Penembakan 51 Muslim di Christchurch Selandia Baru

1065
Brenton Tarrant Divonis Seumur Hidup

WARTAKEPRI.co.id, SELANDIA BARU – Nama Brenton Tarrant mungkin ada yang lupa, atau ada yang tidak tau sama sekali. Tapi, ketika dijelaskan berita pembantaian muslim di masjid Selandia Baru, maka semua orang di dunia akan mengetahui. Mengetahui ada rasa tidak berprikemanusian membantai manusia yang sedang dan sudah beribadah di masjid.

Brenton Tarrant adalah warga Australia yang menembak mati 51 muslim di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru pada tahun lalu, dijatuhi hukuman seumur hidup.

Hakim pengadilan di Selandia Baru menyatakan Brenton bersalah dan tak memberinya pembebasan bersyarat. Sidang putusan terhadap Brenton digelar di Selandia Baru, Kamis, 27 Agustus 2020.

Dalam putusannya, Hakim Cameron Mander secara tegas mengatakan tidak ragu bahwa Tarrant sengaja pindah dari Australia ke Selandia Baru demi menyerang komunitas Muslim.

“Setiap pembunuhan adalah produk perencanaan yang lama dan penuh perhitungan serta dilakukan dengan taraf kekejian yang tinggi dan tak berperasaan,” tutur Hakim Cameron.

“Beberapa korban adalah anak-anak. Lainnya dibunuh selagi mereka terbaring dengan luka dan tak berdaya,” sambung dia.

Kepada terdakwa Brenton, Hakim Cameron juga memberikan pandangannya terhadap aksi yang dilakukan.

“Korban-korban Anda telah menunjukkan ketabahan luar biasa, namun saya tidak bisa mengabaikan kerusakan pada rasa aman serta kesejahteraan komunitas Muslim baik di Christchurch maupun secara luas di Selandia Baru,” tuturnya.

Hakim Cameron pun menyatakan tak melihat ada celah baik pada diri Brenton atas perbuatan yang dilakukannya. Meski di sisi lain Brenton mengakui aksinya dan merasa bersalah.

“Sejauh penilaian saya, Anda sama sekali tidak punya empati terhadap korban-korban Anda. Menurut observasi saya, Anda tetap sepenuhnya memikirkan diri sendiri. Anda tampak tidak menyesal atau malu,” ungkap Hakim Cameron.

Jaksa Penuntut Umum, Mark Zarifeh mengatakan, kasus tersebut telah menimbulkan bekas yang menyakitkan dan memprihatinkan pada sejarah Selandia Baru.

“Jelas dia adalah pembunuh terkeji di Selandia Baru,” tegas jaksa, dilansir BBC.

Terdakwa Tarrant, dalam persidangan itu mengaku tidak memiliki pernyataan apapun. Namun seorang pengacara yang disediakan mengatakan, Tarrant bicara kepadanya bahwa dia tidak menentang hukuman dipenjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.

Sebelum vonis dijatuhkan, pengadilan menggelar sidang selama empat hari untuk mendengarkan pernyataan hampir 90 orang. Mereka terdiri dari penyintas dan keluarga penyintas serangan di dua masjid Kota Christchurch.

Sidang pada Rabu, 26 Agustus 2020 diwarnai derai air mata, pembacaan Alquran, dan foto-foto para korban.(*/galamedia)

Honda Capella

FANINDO