Rata-Rata Tahanan Anak Terlibat Kasus Jambret di Lapas Kelas II Batam, Jangan Diejek Mereka Juga Korban

449
Rata-Rata Tahanan Anak Terlibat Kasus Jambret di Lapas Kelas II Batam, Jangan Diejek Mereka Juga Korban

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas II Batam terus menerapkan aturan ketat terhadap tamu yang datang selama masa pandemi covid-19. Guna untuk menghindari terjadinya terpapar virus Corona di kawasan LPKA Klas II Batam.

Kepala LPKA Klas II Batam Novriadi mengatakan sebelum masuk, tamu dicek terlebih dahulu suhunya, cuci tangan dan wajib memakai masker. Setelah itu baru bisa masuk, dengan tujuan yakni agar terhindar dari virus Corona atau covid-19.

“Aturan ini, Kita terapkan selama masa pandemi Covid-19, tamu yang datang dicek suhunya, pakai masker, dan cuci tangan,”kata Novriadi, Rabu (7/10/2020) di kantor LPKA Klas II Batam.

Selain itu, Novriadi menuturkan untuk saat ini jumlah anak sekitar 27 anak diantaranya 21 tahanan LPKA Klas II Batam, selanjutnya di Polsek, namun jika nantinya ada tahanan baru maka akan ada isolasi mandiri selama 14 hari, tidak digabungkan sama yang lama.

“Kita antisipasi agar tidak terjadi kepadatan, kalau ada terpapar yang baru, otomatis akan terkena yang lama, makanya dipindahkan ke tahanan polsek Batu Ampar, nah yang ada sekarang itu cuma 21 tahanan anak,”tuturnya.

Lanjut Novriadi, adapun untuk tahanan anak perempuan saat ini belum ada, kebanyakan kasus anak dibawah umur pencurian dan penjambret, rata-rata berumur 12 hingga 18 tahun. Semua anak bermasalah hukum itu menjadi korban itu namanya Anak berhadapan hukum (ABH).

“Namun bicara angka kriminal pada anak untuk wilayah memang Batam cukup tinggi dibanding daerah lain di kepulauan Riau, apalagi kota Batam ini sangat padat penduduknya. Angka itu relastis akan tinggi dibandingkan kota lain yang tidak padat penduduk,”ucap Novriadi.

Ia juga menyebutkan, sebagai upaya agar tahanan anak bisa lebih berubah, maka setiap bulan ada siraman rohani dimana ustadz didatangkan ke kantor LPKA langsung 2 kali seminggu setiap Selasa dan Kamis. Sedangkan untuk umat non muslim juga kita hadirkan sebagai pendeta untuk memberikan pembinaan bagi anak-anak selama di tahanan 3 kali seminggu.

“Secara keagamaan kita tidak kurang waktu untuk memberikan walaupun sebajing bajing apapun itu orangnya, kalau sudah disiram dengan rohani ini ada berubah,”sebutnya.

Mereka memberikan siraman rohani kepada anak-anak tahanan, agar bisa membentuk akhlak setelah keluar nanti bisa berubah tidak berbuat kejahatan lagi,”sebutnya.

Ia berharap kepada anak setelah keluar nantinya dari lembaga ini, kembali ke masyarakat, jadi warga yang baik. Sebab masa depan mereka masih panjang, kita tidak boleh mengejek, karena mereka korban,”pungkasnya.(*)

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel