Berikut Daftar Uang Masuk dan Belanja dari Mantan Menteri Kelautan Edhy Prabowo, Sepeda Rp 1,5 M

755
Satu Unit Sepeda/ Foto Youtube TVOne

WARTAKEPRI.co.id, JAKARTA – Total uang suap ekspor benih lobsteratau benur yang melibatkan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo lebih dari Rp11 miliar. Jumlah tersebut berasal dari pengurusan izin ekspor di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pengiriman kargo benih lobster ke luar negeri melalui PT Aero Citra Kargo (ACK).

Menurut Plt Juru Bicara Bidang Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ali Fikri, angka tersebut diperoleh berdasarkan perhitungan penyidik sejak Rabu (25/11/2020) malam hingga Kamis (26/11/2020) dini hari. Dari jumlah itu, Edhy Prabowo diduga menggunakan USD100.000 atau hampir Rp1,5 miliar untuk membeli sepeda mewah.

KPK Tetapkan Edhy Prabowo Tersangka

Menurut Ali, uang USD100.000 diterima secara tunai melalui tersangka Safri (Staf Khusus Menteri KP sekaligus Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster KKP) dan tersangka Amril Mukminin (pemegang PT ACK).

“Jadi uang USD100.000 dari tersangka SJT (Sarjito) itu dipakai EP (Edhy Prabowo) untuk beli sepeda. Sepedanya itu yang ditunjukkan sebagai barang bukti saat konferensi pers terkait OTT dan penetapan tersangka,” kata Ali di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (26/11/2020).

Berdasarkan kronologi yang disampaikan dalam konferensi pers KPK, angka uang terdiri dari beberapa tahap. Pertama, Rp731.573.564 berasal dari tersangka Sarjito, ditransfer melalui rekening PT DPP ke rekening PT ACK. Uang masuk dalam total Rp9,8 miliar ke di rekening PT ACK. Karenanya Rp9,8 miliar diduga berasal dari beberapa perusahaan yang menyurusi izin di KKP dan pengiriman kargo benih lobster (benur) ke luar negeri melalui PT ACK.

Kedua, Mei 2020 sebesar USD100.000 diberikan Sarjito ke Edhy Prabowo melalui Safri Amril Mukminin. Ketiga, Safri dan tersangka Andreau Pribadi Misanta (masih buron) selaku Staf Khusus Menteri KKP juga selaku Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) menerima Rp436 juta dari tersangka penerima suap Ainul Faqih (staf istri Menteri KKP).

Masih berdasarkan kronologi, Rp9,8 miliar diduga tadi ditarik dann masuk ke rekening pemegang PT ACK Ahmad Bahtiar dan tersangka Amril Mukminin dengan total yang sama yakni Rp9,8 miliar. Berikutnya pada 5 November 2020, diduga dilakukan transfer dari rekening Bahtiar ke rekening salah satu bank atas nama tersangka Ainul Faqih sebesar Rp3,4 miliar.

Jika menggunakan kurs Bank Indonesia per 29 Mei 2020, uang sejumlah USD100.000 setara Rp1,48 miliar. Jika dijumlahkan Rp1,48 miliar dengan Rp9,8 miliar dan Rp436 juta, maka total dugaan suap sebesar Rp11,717 miliar.

Uang tersebut diperuntukkan bagi keperluan tersangka Edhy Prabowo, istri Edhy sekaligus anggota Komisi V DPR dari Fraksi Partai Gerindra Iis Rosyati Dewi, tersangka Safri, dan tersangka Staf Khusus Menteri KKP sekaligus Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (due diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster KKP Andreau Pribadi Misata. Antara lain dipergunakan untuk belanja barang mewah oleh Edhy dan Iis di Honolulu, Amerika Serikat kurun 21 hingga 23 November 2020 sejumlah sekitar Rp750 juta. Di antaranya berupa Jam tangan rolex, tas Tumi dan LV, baju Old Navy.

Deputi Bidang Penindakan KPK Inspektur Jenderal Polisi Karyoto menyatakan, penyidik telah mengantongi sejumlah alat bukti sehubungan dengan penyidikan kasus dugaan suap ini. Di antaranya kata dia, sejumlah kartu anjungan tunai mandiri (ATM), bukti dokumen transaksi transfer dan penarikan uang, bukti transaksi dalam rekening PT ACK yang dipakai sebagai penampung uang dengan total Rp9,8 miliar, sadapan percakapan para pihak, hingga bukti berupa sepeda, jam tangan rolex, tas Tumi dan LV, baju Old Navy.

“Untuk barang bukti yang sudah disita termasuk sepeda nanti akan dikonfirmasi kepada para saksi dan tersangka, termasuk terkait dengan harga sepeda tersebut. Yang pasti penyitaan barang bukti itu ada hubungannya dengan kasus ini,” kata Karyoto.(sindonews)

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO Combo Sakti Telkomsel