Manfaatkan Sisa Waktu, Data dan Bayang Bayang Pemilih Rendah

Zaki Setiawan. Foto Istimawa

HARRIS BARELANG

SAAT ini memasuki masa tenang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020. Masa tenang yang berlangsung mulai 6 sampai 8 Desember 2020 adalah masa tanpa aktivitas kampanye dalam bentuk apapun.

Dua hari lagi, puncak perhelatan Pilkada Serentak 2020 akan berlangsung. Yakni pemungutan dan penghitungan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Proses pencoblosan di TPS ini menjadi salah satu tolak ukur penyelenggaraan pemilihan di Kota Batam, terutama terkait dengan tingkat partisipasi pemilih. Partisipasi pemilih ini penting, karena merupakan indikator suksesnya pemilihan, selain keamanan, kualitas daftar pemilih, dan faktor lainnya.

Partisipasi pemilih yang tinggi menunjukkan membaiknya tingkat kesadaran pemilih untuk menggunakan kedaulatannya dalam pemilihan. Legitimasi terhadap pasangan calon terpilih juga akan kuat, karena memperoleh dukungan dari banyak pemilih yang memudahkannya menjalankan program-program pembangunan.

Dalam beberapa pemilihan terakhir, tingginya partisipasi pemilih di Kota Batam terjadi pada Pemilu Serentak 2019. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 84,37 persen. Dari 650.876 pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), pemilih yang menggunakan hak pilih mencapai 549.117.

Ini merupakan pertama kalinya bagi Batam mencatat tingkat partisipasi pemilih di atas target nasional sebesar 77,5 persen. Raihan itu juga menempatkan Kota Batam dengan tingkat partisipasi pemilih tertinggi di banding kabupaten/kota lain di Kepri. Batam pun mendapat penghargaan dari KPU Provinsi Kepri atas pencapaian itu.

Sementara pada pemilu sebelumnya, tingkat partisipasi di Batam pemilih cenderung menurun. Pada pemilu legislatif 2014, misalnya, tingkat partisipasi pemilih hanya 67,70 persen. Dari 715.544 pemilih di DPT, yang menggunakan hak pilih hanya 484.400 pemilih.

Pada Pemilihan Presiden 2014, tingkat partisipasi pemilih lebih menurun, hanya sekitar 61,30 persen. Dari 752.903 pemilih di DPT, hanya 461.516 pemilih yang menggunakan hak pilihnya.

Kemudian pada Pilkada 2015, tingkat partisipasi pemilih anjlok lagi, hanya sekitar 50,65 persen. Dari 631.038 pemilih di DPT, hanya 319.623 pemilih yang menggunakan hak pilihnya.

Ada beberapa alasan yang membuat tingginya tingkat partisipasi pemilih di Batam pada 2019. Di antaranya maksimalnya sosialisasi oleh KPU dan gencarnya pemberitaan media dalam setiap tahapan-tahapan pemilu. Pelibatan berbagai pihak, seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, kalangan pemuda, mahasiswa, perempuan, hingga disabilitas sebagai relawan demokrasi.

Selain itu juga kontestasi antar kandidat yang ketat. Di tingkat DPRD Kota Batam saja, ada 692 caleg yang berkompetisi memperebutkan 50 kursi DPRD Kota Batam. Belum lagi di tingkat DPRD Provinsi, DPR RI, DPD RI, dan calon presiden.

Pada Pilkada Serentak 2020 kali ini, jumlah DPT mencapai 587.527 pemilih yang tersebar di 2.177 TPS. KPU menetapkan target 77,5 persen pada 9 Desember nanti atau minimal mencapai 455.333 pemilih.

Bayang-Bayang Pemilih Rendah

Rendahnya partisipasi pemilih membayangi jelang proses pemungutan suara di TPS. Hal ini karena masih mewabahnya pandemi Covid-19 dan adanya kekhawatiran pemilih tertular atau menularkan virus saat di TPS.

Menjawab kekhawatiran itu, KPU telah menerbitkan PKPU Nomor 6 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pilkada dalam kondisi bencana nonalam Covid-19.

Ada 12 perlengkapan protokol kesehatan di TPS disiapkan, mulai dari tempat cuci tangan dan sabun, hand sanitizer, sarung tangan plastik untuk pemilih, sarung tangan medis untuk KPPS, masker, tempat sampah, face shield, alat pengukur suhu, disinfektan, tinta tetes, baju hazmat, dan ruang khusus bagi pemilih bersuhu 37,3 derajat celsius.

Namun, sosialisasi ini perlu dilakukan lebih masif menjelang pelaksanaan pemungutan suara. Hal ini untuk makin meyakinkan pemilih dan terlaksananya Pilkada yang sehat dan aman, meski berlangsung di tengah pandemi Covid-19.
Pemilih yang telah memenuhi syarat, harus dijamin haknya untuk bisa menggunakan hak pilihnya pada 9 Desember nanti. Termasuk bagi pemilih yang sedang menjalani isolasi mandiri maupun perawatan karena terkonfirmasi Covid-19.

Data Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam per 5 Desember 2020, mencatat masih ada 803 pasien yang menjalani perawatan. Sebanyak 424 di antaranya dirawat di Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Galang, 79 di RS Awal Bros, 72 di Bapelkes, 55 isolasi mandiri, 35 di RSUD Embung Fatimah Batam, dan rumah sakit-rumah sakit lainnya.

Formulir Model C.Pemberitahuan-KWK juga harus segera disampaikan kepada seluruh pemilih. Karena hingga saat ini, H-2, masih ada pemilih yang belum mendapatkan formulir pemberitahuan memilih tersebut.

Pasal 12 ayat (1) PKPU Nomor 18 Tahun 2020 telah menugaskan Ketua KPPS untuk menyampaikan formulir Model C.Pemberitahuan-KWK itu kepada pemilih yang terdaftar dalam DPT di wilayah kerjanya paling lambat 3 hari (H-3) sebelum hari Pemungutan Suara atau 6 Desember kemarin.

Di sisa hari masa tenang ini, masih ada waktu bagi penyelenggara pemilu untuk memaksimalkan sosialisasi dan meningkatkan kinerjanya. Pemilih juga bisa memanfaatkan masa tenang ini untuk merenungkan dengan baik pasangan calon yang akan dipilihnya pada Pilkada kali ini.

Karena, Pilkada ini sangat penting dan positif bagi kehidupan pemilih maupun program-program pembangunan daerah di masa mendatang. Mari, gunakan hak pilih dengan baik, bebas dari iming-iming uang ataupun hanya sekadar ikut-ikutan. ***

Penulis :
Zaki Setiawan
Pemerhati Politik Batam

FANINDO

Honda Capella