Mengenal Lebih Dalam Hutan Mangrove serta Dampak Kerusakan dan Cara Menyadarkan Masyarakat

Hutan Mangrove Karimun Tulisan Mahasiswa Umrah
Hutan Mangrove Tulisan Mahasiswa Umrah


 

Asdi Wijaya

MANGROVE merupakan suatu tempat yang bergerak akibat adanya pembentukan tanah lumpur dan daratan secara terus menerus sehingga secara perlahan berubah menjadi semi daratan. Hutan mangrove atau yang sering disebut sebagai hutan bakau merupakan hutan yang terletak di pinggiran atau di daerah pesisir pantai.

Hutan mangrove merupakan hutan yang khas karena memiliki jenis tumbuhan yang hanya bisa hidup di kawasan hutan yang merupakan daerah perbatasan antara daratan dan lautan.

Kata mangrove menurut Odum (1983), berasal dari kata mangal yang menunjukkan komunitas suatu tumbuhan. Selanjutnya Supriharyono (2000), memaparkan pengertian mangrove bahwa kata mangrove terdiri dari dua arti yaitu pertama sebagai komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang surut air laut), kedua sebagai individu spesies.

Sedangkan arti kata mangrove menurut Saparinto (2007), mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut, tetapi juga dapat tumbuh pada pantai karang, koral mati yang diatasnya ditimbuni selapis tipis pasir atau ditimbuni lumpur, dalam artian pantai berlumpur.

Dari berbagai pengertian mangrove yang berbeda-beda sebenarnya memiliki arti yang sama yaitu formasi hutan darah tropis dan subtropis yang terdapat di pantai rendah dan tenang, berlumpur serta mendapatkan pengaruh dari pasang surut air laut.

Hutan mangrove juga dikenal dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, atau hutan payau. Banyak kalangan yang sering menyebut hutan pinggir pantai tersebut sebagai hutan bakau.

Sebenarnya hutan tersebut lebih tepat disebut hutan mangrove. Istilah “mangrove” disini digunakan sebagai pengganti istilah bakau untuk menghindarkan adanya salah pengertian dengan hutan yang terdiri atas pohon bakau Rhizopora sp.

Hal ini dikarenakan bukan hanya pohon bakau saja yang tumbuh di sana, namun masih terdapat banyak jenis tumbuhan lain yang hidup di dalamnya. Mangrove merupakan salah satu ekosistem yang mempunyai peranan penting dalam upaya pemanfataan berkelanjutan sumber daya pesisir dan laut.

Mangrove merupakan tumbuhan yang hidup disepanjang pantai, mangrove memiliki akar tunjang (stilt root), akar tunjang merupakan akar (cabang cabang akar) yang keluar dari batang dan tumbuh ke dalam substrat, akar ini disebut juga sebagai akar napas kegunaan dari akar ini selain untuk penyerapan zat hara juga sebagai penahan abrasi atau naiknya air laut.

Hutan mangrove juga merupakan mata rantai penting dalam menunjang dan pemeliharaan keseimbangan siklus biologi suatu perairan (Arief, 2003).

Dengan sistem perakaran yang kokoh ekosistem hutan mangrove memiliki kemampuan meredam gelombang, menahan lumpur dan melindungi pantai dari abrasi, gelombang pasang dan topan. Hutan mangrove yang banyak tumbuh di daerah estuaria juga dapat berfungsi untuk mengurangi bencana banjir.

Hutan mangrove dapat berfungsi sebagai penyerap bahan pencemar (environmental service), khususnya bahan-bahan organik (Rusdianti dan Sunito, 2012:3). Menurut Aksornkoae (1993), mangrove dapat tumbuh dengan baik pada substrat berlumpur dan perairan pasang yang menyebabkan kondisi anaerob, hal ini disebabkan mangrove memiliki akar-akar khusus yang berfungsi sebagai penyangga sekaligus penyerap oksigen dari udara di permukaan air secara langsung. Tipe perakaran mangrove terbagi menjadi 5 (lima) yakni;

1. Akar tongkat (akar tunjang, akar egrang, prop root, stilt root), akar ini merupakan akar modifikasi dari cabang btang yang menancap pada substrat.

2. Akar lutut (knee root), akar ini merupakan modifikasi dari akar kabel yang tumbuh kearah substrat dan melengkung agar menancap pada substrat.

3. Akar cakar ayam (akar pasak, akar napas, pneumatophore), berupa akar yang muncul dari akar kabel dan mencuat keatas setinggi 10-30 cm dari permukaan substrat.

4. Akar papan (buttress root), akar ini mirip dengan akar tongkat. Tetapi terdapat perbedaan yaitu akar papan memiliki bentuk yang melebar dan melempeng.

5. Akar gantung (aerial root), akar ini tidak memiliki cabang yang muncul dari batang atau cabang dari bagian bawah tetapi biasanya tidak mencapai.

Gambar Tipe Akar Mangrove

Kemampuan ekosistem mangrove untuk dapat mempertahankan fungsi ekologinya tergantung dari faktor-faktor pendukung lingkungan, yaitu kualitas lingkungan dan kondisi substrat dasar.

Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis dan ekonomi yang sangat bermanfaat. Secara ekologis ekosistem mangrove berfungsi sebagai daerah pemijahan (spawning grounds) dan daerah pembesaran (nursery grounds) berbagai biota perairan.

Salah satu ekosistem pesisir yang mengambil peran sebagai stabilisator siklus nutrien, lingkungan, dan sekaligus menopang sumber mata pencaharian masyarakat adalah ekosistem mangrove.

Menurut khomsin (2005), Kelestarian hutan Mangrove sebenarnya merupakan upaya masarakat pesisir untuk menjaga hutan Mangrovenya atau bisa juga disebut menjaga ekosistem untuk tidak terjadi kerusakan ekosistem mangrove, hal-hal yang dapat merusak ekosistem mangrove.

Beberapa dampak dari kerusakan hutan mangrove yang terjadi akibat aktifitas manusia, antara lain:

1. Penggundulan hutan mangrove → Berubahnya komposisi tumbuhan mangrove. Serta tidak berfungsinya daerah mencari makan dan pengasuhan bagi biota.

2. Pengalihan air tawar dalam pembangunan irigasi → Peningkatan salinitas hutan mangrov dan menurunya tingkat kesuburan hutan.

3. Konversi menjadi lahan pertanian, perikanan, permukiman dan sebagainya → Terjadi pencemaran laut oleh bahan pencemar yang sebelumnya diikat oleh substrat hutan mangrove. Terjadi pendangkalan perairan pantai. Serta menyebabkan erosi garis pantai dan intrusi garam.

4. Pembuangan sampah cair → Penurunan kandungan oksigen terlarut, timbul gas H2S.

5. Pembuangan sampah padat → Kemungkinan terlapisnya pneumatofora yang mengakibatkan matinya pohon mangrove. Dan perembesan bahan-bahan pencemar dalam sampah padat.

Kesadaran masyarakat untuk menjaga hutanpun menurun, di wilayah pantai timur, kayu bakau sering diambil untuk keperluan memancang bangunan (cerucuk), menopang jala ikan di pantai (jajar) atau untuk tenda pesta.

Sejumlah oknum yang menjadikan kayu bakau sebagai komoditi dagang, menyebabkan kerapatan hutan bakau semakin berkurang. Ancaman terhadap hutan bakau bukan saja untuk diambil kayunya, juga untuk diambil tanahnya.

Dari dampak kerusakan mangrove tersebut, dapat dikatakan bahwa ekosistem mangrove sangat berperan penting dalam kehidupan biota sehingga harus dilesarikan dan dijaga.

Selain berperan penting bagi kehidupan biota perairan, ekosistem mangrove juga melindungi wilayah pesisir dari erosi dan gelombang kuat karena ekosistem mangrove dapat menyaring laju gelombang laut sehingga gelombang yang menghantam bibir pantai tidak terlalu kuat. Oleh karena itu, kegiatan yang dapat merusak alam harus dikendalikan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam membangun kesadaran masyarakat seperti diskusi bersama masyarakat untuk memahami kondisi pantai saat ini dan dulu, mengidentifikasi dan menyadari bersama dampak hilang atau rusaknya mangrove, menentukan dan menyepakati bersama solusi mengatasi masalah akibat hilang atau rusaknya mangrove, studi banding untuk meyakini dan memperluas wawasan tentang manfaat mangrove, perencanaan dan pelaksanaan bersama penanaman mangrove, dan pembentukan kelompok masyarakat pengelola dan pelestari mangrove (Khazali, 1998:3).

Agar populasi hutan mangrove Pemusiran dapat berkembang dengan baik langkah awal yang dapat dilakukan dengan peningkatan pengawasan terutama aspek perlindungan hutan.

Vegetasi pada mangrove akan semakin bagus apabila kelestarian hutan mangrove terjaga dengan baik, dari itu pemerintah daerah melalui perangkat desa harus memiliki peraturan yanag tertulis untuk melindungi hutan mangrove agar kelestariannya terjaga.(*)

Sumber Referensi
-Arafat Yasser. 2019. “Modul: Ekosistem Pesisir dan Laut”. Pusdik KP. 28 April. 10.57
-Candra Delvi. 2018. “Studi Kelestarian Hutan Mangrove di Desa Pemusiran Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi”. Skripsi. Universitas Jambi. Jambi
-Prasetya Ardi N. 2010. “Struktur Komunitas Mangrove di Daerah Wonorejo Pantai Timur Surabaya”. Skripsi. Universitas Airlangga. Surabaya
Rahim Sukirman, Dewi Wahyuni K. Baderan. 2017. Hutan Mangrove dan Pemanfaatannya. Yogyakarta: Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA

Penulis : Asdi Wijaya
Mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas Maritim Raja Ali Haji, Program Studi Ilmu Kelautan
Tanjungbalai Karimun, 2021

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News