Ekosistem Penting Langka yang Semakin Terancam di Hutan Mangrove Desa Pongkar Karimun

Hutan Mangrove Desa Pongkor Karimun
Foto Hutan Mangrove
PKP Online

 

Anggun Safutri Fahrianti

WARTAKEPRI.co.id – Kabupaten Karimun adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 7.984 km², dengan luas daratan 1.524 km² dan luas lautan 6.460 km². Kabupaten Karimun terdiri dari 198 pulau dengan 67 diantaranya berpenghuni.

Pada tahun 2020, kabupaten Karimun memiliki jumlah penduduk sebanyak 257.297 jiwa, dengan kepadatan penduduk 281,81 jiwa/km². Kabupaten Karimun berbatasan dengan kabupaten Kepulauan Meranti di sebelah Barat, kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir provinsi Riau di sebelah Selatan, Selat Malaka di sebelah Utara, dan kota Batam di sebelah Timur.

Kabupaten Karimun mempunyai beberapa kecamatan yaitu, Kecamatn Belat, Kecamatam Durai, Kecamatan Karimun, Kecamatan Meral, Kecamatan Tebing, Kecamatan Kundur, Kecamatan Kundur Barat, Kecamatan Meral Barat, Kecamatan Moro, Kecamatan Ungar, Kecamatan Buru, Kecamatan Kundur Utara. Di sini penulis ingin memaparkan lingkungan Mangrove yang terdapat di Kecamatan Tebing, Kelurahan Tebing, Desa Pongkar.

Dampak Negatif Hilangnya Mangrove

Di Desa Pongkar, Kecamatan Tebing Ekosistem Mangrove mengalami kehilangan dan kerusakan yang menyebabkan berbagai dampak negatif ekologi, ekonomi dan sosial. Mangrove yang baik terbukti melindungi pesisir pantai, termasuk manusia yang menghuninya dari hempasan tsunami dan angin badai. Kerusakan dan kehilangan hutan mangrove sangat merugikan baik secara ekologis maupun sosial-ekonomi.

Hal ini di alami oleh masyarakat pongkar yang tinggal di daerah tepi pantai. Hutan mangrove juga merupakan habitat penting bagi ikan, udang, kepiting, burung air, dan mamalia laut. Mangrove tercatat sebagai ekosistem terproduktif dari ekosistem daratan manapun di dunia. Mangrove merupakan awal dari rantai makanan di pesisir pantai.

Produksi udang sangat tergantung pada jatuhan serasah dari bagian mangrove yang mati, seperti daun tua, ranting dan cabang atau batang mangrove, yang menjadi bagian dalam proses alami siklus hidup.

Selain jenis-jenis biota perairan pesisir yang berkurang, populasi ikan juga menurun sehingga menyebabkan hasil tangkap nelayan berkurang. Hasilnya pendapatan nelayan menurun hampir mencapai 50%. Hal ini terjadi di Desa Pongkar dimana terdegradasinya mangrove yang menyebabkan penurunan keragaman hayati dan jasa ekosistem mangrove.

Kerusakan dan kehilangan mangrove juga memicu pelepasan gas-gas rumah kaca (GRK), seperti korbon diaksida (CO2) dan metan (CH4). Artinya, kerusakan dan kehilangan mangrove menjadi salah satu faktor pemicu pemanasan global karena meningkatkan konsentrasi GRK dimaksud di atmosfir.

Kerusakan Mangrove tersebut di sebabkan oleh sampah. Dimana ada beberapa masyarakat membuang sampah dengan sembarangan. Tanpa menyadari bahwa membuang sampah sembarangan akan mengakibatkan ekositem mangrove tersebut rusak. Oleh sebab itu, kesadaran masyarakat yang kurang memprihatinkan untuk membuang sampah di tempat sampah.

Pentingnya Pelibatan Masyarakat Terhadap Ekosistem Mangrove

Meski telah dilakukan upaya penanaman mangrove kembali oleh masyarakat Kabupaten Karimun terutama masyarakat pongkar, namun laju kerusakan dan hilangnya mangrove di Pongkar masih tetap terjadi. Kegiatan upaya penanaman kembali yang ada dapat dilihat hanya sekedar proyek yang umumnya gagal. Terkadang terbengkalai begitu saja.

Salah satu masalah dalam upaya penanaman mangrove, karena indikator keberhasilan proyeknya adalah berapa bibit yang ditanam, bukan berhasilnya lahan tersebut dipulihkan. Hal ini tentu perlu menjadi pekerjaan rumah pemerintah dalam menata program serupa. Sebaliknya, keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya penanaman mangrove menjadi penting. Masyarakat bukan lagi menjadi obyek atau pekerja saja, tetapi menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Dari bukti lapangan yang dijumpai, saat masyarakat menjadi garda terdepan program rehabilitasi mangrove, maka tak saja mangrove mengalami kepulihan, beragam produk dan jasa pun hadir bermunculan. Mengingat pentingnya mangrove, maka masyarakat Kabupaten Karimun, dan khususnya Desa Pongkar, perlu menata lebih baik pengelolaan hutan mangrovenya.

Peran pemerintah terhadap pembuangan sampah tersebut, pemerintah sudah memberi sanksi yang sangat tegas dan juga mengelurakan denda, tetapi kesadaran masyarakat yang kurang terhadap kebersihan sampah tersebut. Pemerintah sebenarnya pun sudah sering memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.

Namun, entah mengapa masyarakat pun malah semakin membuang sampah dimana-mana. Sepertinya untuk mengatasi kebiasaan masyarakat tersebut, pemerintah harus melakukan sosialisasi yang rutin. Masyarakat harus belajar untuk tidak membuang sampah sembarangan di tempat manapun, baik itu di lingkungan rumah, kantor, sekolah, bahkan di Sungai.

Masyarakat jangan asal menyalahkan pemerintah atas sampah yang menumpuk, lingkungan yang tidak bersih dan banjir yang sering terjadi. Namun, masyarakat harus memikirkan bagaimana cara mengubah agar diri mereka sadar akan perbuatan mereka selama ini, dan memulai untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan lagi.

Masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama untuk menjaga lingkungan serta tidak membuang sampah sembarangan lagi. Pemerintah membantu dalam menyediakan tong sampah untuk setiap daerah. Tong sampah untuk sampah organik dan sampah non-organik, agar masyarakat dapat memilah sampah-sampah yang akan mereka buang nanti.

Kebijakan yang terpadu dan tidak tumpang tindih antara pemerintah Kabupaten dan daerah harus diwujudkan. Pengembangan kawasan pesisir harus berbasiskan hasil-hasil riset ilmiah yang multidisiplin, mempertimbangan berbagai aspek ekologi, ekonomi, sosial dan budaya. Karena hal yang tidak kalah pentingnya adalah mangrove berperan dalam menjaga keutuhan negara kepulauan. Oleh karena itu, mengarusutamakan mangrove dalam pengembangan kawasan pesisir tidak bisa ditunda lagi.(*)

Opini Anggun Safutri Fahrianti
Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel