BMKG Padang Panjang Catat Gempa Sudah Terjadi 76 Kali, Warga Sumbar Patut Mewaspadai

Pakar Geologi Universitas Andalas, Badrul Mustofa
Pakar Geologi Universitas Andalas, Badrul Mustofa
GALERI 24

WARTAKEPRI.co.id, PADANG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang mencatat aktivitas gempa bumi di Sumatra Barat dan sekitarnya terjadi sebanyak 76 kali, pada periode 14-20 Mei 202, Jumat, (21/5/2021)

Menanggapi hal tersebut, Pakar Geologi Universitas Andalas, Badrul Mustofa mengatakan jika episetrum gempa yang terjadi berada di tempat yang berdekatan di segmen siberut, hal ini harus menjadi kewaspadaan bagi masyarakat.

Ia menyebutkan, karena segmen Siberut masih menyimpan energi yang besar, yaitu 1 per 3 dari energi secara periodik yang diperkirakan terulang 200 tahun sekali. Ia juga meyebutkan, jika terjadi gempa yang cukup sering, bisa menjadi petunjuk sebagai gempa pendahuluan, sebelum adanya gempa utama.

BACA JUGA Gempa 6.3 Skala Richter di Kota Padang, Peserta MTQ pun Sempat Berhamburan

“Bisa ditunggu 1 atau 2 pekan ke depan jika terjadi gempa berturut-turut itu patut diwaspadai. Karena gempa utama, biasanya didahului oleh gempa pendahuluan. Tetapi hal ini tidak mutlak, yang perlu disiapkan adalah kewaspadaan. Seandaianya terjadi gempa besar, karena sudah siap-siap, kita bisa mengurangi kerugian ke depannya,” terang Badrul Mustofa.

Dalam menangulangginya, Badrul Mustofa menyarankan, melakukan mitigasi struktural, dengan memastikan rumah tinggal, bangunan untuk kepentingan publik sudah memenuhi standar pembangunan.

“Kalau untuk bergegas melakukan itu tidak mungkin, jadi kita asumsikan bangunan sudah memenuhi standar dulu,” tuturnya.

Setelah melakukan mitigasi struktural, Badrul Mustofa melanjutkan, dapat dilakukan dengan meningkatkan mitigasi non struktural.

“Menyiapkan tas siaga tsunami, dengan alat-alat yang berguna. Tidak menggabungkan pintu kunci luar dengan pintu lain, dan meletakan di tempat mudah ditemui jikalau mati lampu. Jika punya meja, jangan diisi dengan barang yang berat, bisa jadi dapat tempat berlindung, jika tidak dapat keluar,” jelas Badrul Mustofa.

Ia mengatakan, jika berada di zona merah dengan ketinggian 6 m di atas zona laut yang berkemungkinan terdampak tsunami, hendaknya masyarakat harus selalu siaga dengan kemungkinan terjadi gempa atau tsunami.

“Jika potensinya di daerah segmen Siberut bisa saja terjadi gempa besar diikuti tsunami, karena belum keluar dan jika berbicara mengenai kemungkinan, mungkin saja dan mungkin saja tidak. Ia katakan, hal ini tidak bisa diperkirakan, bahkan oleh pakar sekalipun. Ia berharap, masyarakat memahami bagaimana penangulanggan yang tepat jika terjadi gempa bumi.

“Mungkin 10 tahun, 50 tahun lagi mungkin saja, karena segmen ini belum keluar,” sebutnya.

Dijelaskannya, sebelumnya segmen Sipora-Pagai sudah terjadi mulai 2 september 2007 dan selesai pada 25 oktober 2010 yang diikuti tsunami. (*)

Sumber : Haluan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News