Baby Lobster Senilai Rp 12 Miliar Tujuan Singapura di Tegah F1QR, Pelaku Buang BB ke Laut

Danlanal Tanjungbalai Karimun Letkol Laut (P) Puji Basuki didampingi oleh Instansi terkait menggelar konferensi pers, penegahan baby lobster senilai Rp 12 miliar, yang rencananya akan dibawa menuju Singapura pada Senin (28/6/2021). (Foto: Aman)

WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Tim Fleet One Quick Response (F1QR) Mako Lanal Tanjungbalai Karimun, berhasil menggagalkan penyelundupan Baby Lobster di perairan pulau Rukan, Moro, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Senin (28/6/2021).

Saat dilakukan penegahan terhadap speed boat bermuatan barang selundupan tersebut, terletak pada titik koordinat 0°29’585″N-103°49’588″E.

Danlanal Tanjungbalai Karimun, Letkol Laut (P) Puji Basuki menjelaskan bahwa baby lobster yang terdeteksi dari perairan Rukan Moro yang akan diselundupkan menuju Singapura tersebut dengan menggunakan kapal cepat (speed boat) bermesin besar.

PKP EXPO

“Kecepatan tinggi, dengan 5 mesin besar,” kata Puji saat menggelar konferensi pers dihalaman Mako Lanal Tanjungbalai Karimun.

Selanjutnya kata Puji, dilakukan pengejaran dan pelaku meninggalkan barang bukti berupa 15 styrofoam coolbox, yang berisi 479 kantong plastik, dengan total keseluruhan senilai Rp 12 miliar.

“119.750 ekor benur jenis pasir, dan 1000 ekor benur jenis mutiara,” paparnya.

Danlanal menambahkan, keberhasilan menggagalkan penyelundupan baby lobster ini berkat informasi intelijen di lapangan. Berbekal dari informasi tersebut, Tim F1QR melakukan upaya penyekatan dengan membagi sektor sekaligus operasi keamanan laut.

“Informasi dari Jaringan Agen (Jargen) terdapat speed boat bermesin besar dari arah selatan menuju utara, yang diduga sebagai pelaku giat ilegal,” tandasnya.

Dimana menurutnya pelaku bermanuver dengan kecepatan tinggi guna menghindari pengejaran Tim F1QR.

“Setelah dilakukan penyisiran, dan berhasil mengamankan 15 styrofoam coolbox, selanjutnya membawa barang bukti tersebut ke Mako Lanal Tanjungbalai Karimun untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut,” terang Danlanal.

Kata Puji, dengan berkoordinasi dengan stakeholder terkait lainnya, seperti Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL), serta Kantor Karantina ikan.

“Seusai konferensi pers, dilanjutkan penebaran atau konservasi baby lobster di wilayah perairan Karimun Anak, bersama dengan PSDKP, BPSPL, BC, Satpolairud,” ungkap Danlanal.

Penyelundup baby lobster sendiri telah melanggar unsur pidana, yakni pasal 92 junto pasal 26 UU nomor 31 tahun 2004, tentang perikanan sebagaimana diubah melalui UU nomor 45 tahun 2008.

Selain itu juga melanggar UU nomor 11 tahun 2020 tentang cipta kerja bab III bagian keempat paragraf 2 pasal 92 junto pasal 26, dengan ancaman pidana paling lama 8 tahun penjara, atau denda paling banyak Rp 1 miliar 500 juta.

Aman

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

GALERI 24