Polri Awasi Aktivitas Penjualan Online Obat Antibiotik Pandemi Covid-19, Berikut 10 Jenis Obat Dilansir Healthline

255
Polri Awasi Aktivitas Penjualan Online Obat Antibiotik Pandemi Covid
Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono

WARTAKEPRI.co.id, JAKARTA – Polri mulai melakukan pengawasan aktivitas penjualan online obat-obatan jenis antibiotik yang biasa digunakan selama Pandemi Covid-19 atau virus corona.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menjelaskan, pemantauan penjualan di situs online tersebut untuk mengantisipasi terjadinya kelangkaan dan permainan harga dari jenis obat tersebut.

“Polri lakukan pemantauan terhadap aktivitas jual-beli obat antibiotik di penjual online,” kata Argo kepada awak media, Jakarta, Senin (5/7/2021).

Selain secara online, Polri juga melakukan pengawasan langsung ke pabrik pembuatan obat serta jalur distribusi penyalurannya. Hal itu untuk mencegah adanya penimbunan dan harga jual yang ditawarkan dari eceran tertinggi yang sudah ditetapkan pemerintah.

“Hari ini sedang berjalan pula pemantauan di pabrik-pabrik obat termasuk jalur distribusinya,” ujar Argo.

Dalam hal ini, Argo menekankan, pihak kepolisian tidak akan ragu ataupun segan melakukan tindakan tegas kepada distributor dan oknum penjual nakal lainnya, apabila melakukan penimbunan dan menaikan harga yang tidak wajar.

“Siapa saya yang melanggar akan segera ditindak,” ucap Argo.

Terkait obat-obatan dan alat kesehatan, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto menerbitkan Surat Telegram terkait penegakan hukum di masa PPKM Darurat Jawa – Bali.

Surat Telegram bernomor ST/1373/VII/H.U.K/7.1./2021 ini terkait harga eceran tertinggi (HET) obat-obatan dan Alkes di masa Pandemi Covid-19.

Surat Telegram yang ditujukan kepada para Kapolda dan bersifat perintah ini berisi 5 poin penting diantaranya:

1. Melakukan pengawasan terkait kepatuhan semua pihak dalam menjalankan PPKM Darurat dan pengendalian HET obat dalam masa pandemi Covid-19.

2. Melakukan penegakan hukum secara tegas terhadap pelaku usaha yang melakukan penimbunan serta penjualan obat diatas HET sehingga masyarakat sulit mendapatkan obat dan alkes.

3. Melakukan penegakan hukum secara tegas terhadap tindakan yang menghambat segala upaya Pemerintah dalam melakukan penanggulangan wabah Covid-19 termasuk terhadap penyebaran berita bohong/hoaks.

4. Mempelajari, memahami serta melakukan koordinasi dengan pihak Kejaksaan terkait penerapan pasal-pasal yang dapat dikenakan terhadap pelaku tindak pidana dimasa pandemi Covid-19.

5. Melaporkan hasil kegiatan kepada Kapolri up Kabareskrim.

Berikut Daftar Jenis Obat versi Healthline

Terpisah, dikutip dari Kompas.com, 30 Juni 2021 dijelaskan hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang bisa digunakan untuk mengatasi pandemi Covid-19. Saat ini, pengobatan yang dilakukan untuk pasien Covid-19 hanya bersifat menyembuhkan gejala.

Misalnya, pemberian oksigen untuk membantu pasien bernafas dan mengobati gejala atau komplikasi karena infeksi corona. Namun, belum ada obat yang benar-benar bisa langsung menargetkan virus penyebab Covid-19 tersebut. Memang ada beberapa jenis obat digadang-gadang bisa menyembuhkan pasien Covid-19.

Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) tidak menyetujui penggunaan obat-obatan tersebut karena dianggap tidak aman dan efektif untuk mengobati atau mencegah Covid-19. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Melansir Healthline, berikut daftar obat-obatan tersebut:

1. Remdesivir
FDA hanya mengizinkan rumah sakit untuk memberikan obat antivirus ini kepada pasien Covid-19 dengan gejala yang parah. Menurut data Mayo Clinic, obat ini sebenarnya digunakan untuk mengatasi virus ebola. Kemudian, riset menunjukkan remdesivir dapat membantu mempercepat pemulihan pasien COVID-19. FDA juga mengklaim obat ini tidak sepenuhnya aman untuk mengatasi pasien Covid-19 karena bisa menimbulkan peningkatan kadar enzim hati yang memicu kerusakan hati.

2. Chloroquine dan hydroxychloroquine
Obat ini sebenarnya digunakan untuk mengobati malaria dan beberapa jenis gangguan autoimun. Obat ini sebenarnya dianggap kurang efektif untuk mengatasi pasien Covid-19 karena bukti ilmiah masih terbatas. Mereka saat ini sedang diuji untuk melihat apakah mereka bisa efektif terhadap COVID-19, tetapi bukti sejauh ini terbatas. Obat ini juga bisa menimbulkan menimbulkan berbagai efek samping, seperti gejala gastrointestinal dan risiko interaksi negatif dengan resep lain yang mungkin digunakan oleh pasien. Risiko paling fatal dari penggunaan obat ini adalah gangguan irama jantung yang bisa menghambat aliran oksigen ke seluruh tubuh.

3. Ciclesonide (Alvesco)
Sampai sekarang, belum ada riset ilmiah yang cukup membuktikan obat ini efektif untuk pasien Covid-19. Bahkan, obat untuk pasien asma ini bisa menimbulkan efek samping seperti iritasi mulut, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, gatal atau ruam kulit, nyeri sendi, dan sakit kepala.

4. Acetazolamide
Di beberapa negara, obat ini hanya dapat boleh digunakan untuk pengobatan hewan. Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi glaukoma, kejangm mengendalikan kejang, atau penyakit ketinggian. Bagi beberapa orang, obat ini bisa menimbulkan efek samping berbahaya seperti reaksi alergi, mati rasa, otot melemah, kesulitan bergerak, dan sensasi dering di telinga.

5. N-acetylcysteine
Obat ini biasanya dipakai untuk mengatasi penyakit pernapasan. Namun, belum ada riset ilmiah yang membuktikan obat ini efektif untuk pasien Covid-19. Obat ini juga memiliki efek samping seperti menyebabkan sesak nafas, pembengkakan di area wajah, dan reaksi alergi.

6. Ivermectin
Obat ini digunakan untuk mengobati infeksi parasit sehinga dianggap ampuh untuk mengatasi Covid-19. Tapi, hingga saat ini tidak ada uji klinis yang menunjukkan bahwa obat ini efektif untuk pasien Covid-19. Obat ini juga bisa menimbulkan reaksi alergi, iritasi kulit, nyeri sendi, pembengkakan, dan demam.

7. Cetylpyridinium chloride
Obat ini biasanya digunakan untuk obat kumur dan produk-produk kesehatan gigi untuk membunuh kuman. Namun, belum ada riset membuktikan obat ini bisa mengatasi atau mencegah Covid-19.

8. Favipiravir
Meskipun obat antivirus ini disetujui di Cina dan Jepang untuk mengobati influenza, sejauh ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa obat tersebut efektif mengatasi Covid-19. Hingga kini masih dilakukan uji klinis untuk mengulik efektivitas dan efek samping dari obat ini.

9. Guaifenesin (Mucinex)
Beberapa dokter mungkin merekomendasikan obat batuk yang dijual bebas ini untuk membantu meredakan gejala ringan COVID-19. Namun, obat ini tidak bisa fdigunakan untuk melawan virus penyebabnya.

10. Antibiotik
Antibiotik bekerja melawan infeksi bakteri, bukan infeksi virus seperti COVID-19. Tidak ada uji klini yang membuktikan obat ini mebisa mencegah Covid-19.(*)

Sumber : Humas Polri/Kompas
Editor : Dedy Suwadha

# Antibiotik

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel