Hari Ke 6 PPKM Darurat, Muballigh Kepri Minta Pemerintah Jangan Tutup Total Masjid

649

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, akhirnya menerapkan Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk dua kota di Provinsi Kepri yakni kota Tanjungpinang dan Batam.

Menanggapi terkait penerapan PPKM tersebut, ketua Persatuan Muballigh kepri H. Maryono. S. Ag, menyampaikan bahwa pihaknya ingin bertanya apakah betul daruratnya di Batam dan Tanjung Pinang sama dengan di pulau Jawa atau Bali, dan apa harus di perlakukan hal yang sama.

“Jadi, seandaikan benar, ada tiga hal yang harus tetap dilaksanakan atau di ikuti pertama, melihat dari edaran katanya yang melarang sholat di masjid itu perlu di tinjau ulang, karena ketika segala masalah susah di atasi maka kepada Allah lah kita berharap,maka karna sholat di masjid lebih baik dari pada sholat sendirian, lebih baik jangan dilarang tetapi di batasi secara ketat,”ujar Maryono Kepada WARTAKEPRI.co.id lewat pesan Whatsapp, Jumat (17/7/2021) di Batam Centre.

Ditambahkannya, untuk kapasitas 25 persen orang yang sholat di masjid itu sudah tepat, jadi jangan di larang. Sebab jika di larang tetap di laksanakan orang juga, dari pada orang menentang dan tanpa Prokes kan dalam praktek nya malah lebih berbahaya.

“Intinya lebih baik di izinkan dengan menggunakan Prokes sehingga tidak membuat kerumunan pada satu masjid,”ucapnya.

Maryono menerangkan, sholat jum’at juga perlu tetap diadakan, pelajaran hari ini sholat jum’at tadi, ada masjid yang memang di tutup yang masjid-masjid utama, jadi akibat masjid di tutup dan itu masjid besar maka jamaah mencari tempat lain untuk sholat, itu lah maka terjadinya kerumunan.

“Ini pelajaran jum’at hari ini, maksudnya kalau masjid di tutup menurut surat edaran itu, maka dampaknya jamaah yang tadinya terpencar sholatnya akan menyatu pada masjid yang buka dan ini contoh hari ini,” terang Maryono.

Lalu, kata Maryono yang kedua, terhadap kegiatan masyarakat, itu yang dilarangkan jangan sampai terjadi kerumunan, oleh karena itu jika petugas PPKM ingin mencegah terjadinya kerumunan khususnya kepada pedagang ya harus humanis.

“Petugas harus lembut jangan sampai kasar apalagi sampai membentak. Karna bagaimanapun pedagang ini mencari buat untuk keperluan hidup,”kata Maryono.

Maryono berpesan kepada petugas agar lebih humanis terhadap masyarakat khususnya pedagang, dan jangan di paksa pedagangnya tutup. Karena ada pedagang yang jualan khusus malam bukanya jam 5 sore dan harus tutup jam 8 malam biasanya mereka berjualan sampai jam 12.

“Mereka berjualan tetap saja sampai jam berapapun, tetapi kerumunan itu yang harus di hindari, bukan pembatasan jamnya tetapi kerumunannya yang harus di cegah,”sebut Maryono

Selanjutnya ketiga, perlu di data orang yang terdampak langsung dengan penerapan PPKM ini sebab anak terlantar dan orang-orang miskin harus di jaga dan di pelihara negara. Maka harus di cukupi kebutuhan hidupnya, minimal kasih subsidi.

“Jadi intinya harapan saya mesjid jangan di tutup total, pembubaran ke pedagang juga harus humanis dan yang dibubarkan bukan pedagangnya tetapi kerumunannya, dan terakhir tolong beri bantuan kepada mereka yang terdampak langsung karena ini akibat dari penerapan PPKM. Kita harus tanggung bersama,”pungkasnya.(*)

Pengirim :Taufik Chaniago

Honda Capella

FANINDO