20 Tahun Aksi Teror 11 September 2001 Amerika, Sejak Itu Harga Kebutuhan Pokok Terus Naik

126
Serangan 11 September 2021 12
Serangan 11 September 2021. Foto Internet

WARTAKEPRI.co.id – 11 September 2001 malam tengah persiapan untuk tidur di sebuah ruang tamu keluarga di perbatasan antara Jakarta dan Banten. Karena menumpang, tidur di ruang tamu dan langsung berhadapan dengan televisi menjadi pilihan.

Saat itu siaran televisi yang paling menarik adalah televisi RCTI, lalu berganti ke SCTV dan Trans TV. Ditengah asik menonton film Hollywood, tiba tiba siaran berganti ke VOA dimana menyiarkan gedung WTC terbakar dan dijelaskan ditabrak oleh pesawat.

Dalam bahasa pembawa berita melaporkan, kalau gedung tertinggi di Amerika tersebut spekulasi ditabrak dengan sengaja. Siaran langsung itu bagi masyarakat di Indonesia waktu itu bertanya tanya, ada apa dan kenapa kok pesawat tabrak gedung. ” Gimana tuh perasaan penumpang pesawatnya ya,” tutur penghuni rumah sambil sekilas berlalu melihat televisi setelah 10 kejadian untuk ke dapur berberes-beres.

Sebagai penonton setia tiduran dilantai dan tarik selimut. Dan, hal nyata dan mengagetkan sebuah pesawat datang dan menabrakan ke gedung lain yang belum terbakar. Itulah pemadangan mengerikan seluruh mata manusia di dunia yang tentu menonton secara langsung.

Diperkirakan siaran langsung televisi itu sekitar pukul 9 malam hingga berakhir sekitar pukul dini hari. Bahkan sejak itulah menyebabkan saya sering begadang hingga tengah malam. Karena siaran televisi terus berulang ulang menyiarkan kejadian serangan Teroris itu terjadi.

Dan, sejak kejadian itulah tanpa kita sadari harga kebutuhan pokok perlahan mulai naik. Masih terbayang waktu itu harga sebungkus rokok masih dibawah 12 ribuan per bungkus, kini setelah 20 tahun tepatnya 11 September 2021 harga sebungkus rokok itu mendekat Rp 26 ribuan per bungkus.

BACA JUGA Amerika Tuduh Kelompok Syaih Iran Danai Serangan 11 September 2001, Benarkah?

BACA JUGA Amerika Rilis Serangan WTC 9/11 Tidak Libatkan Pemerintah Arab Saudi

Amerika Seminggu Setelah 11 September

Tanpa disadari juga, sejak tahun itu berturut turut aksi bom bunuh diri hingga aksi bom gedung gedung asing di Indonesia bergantian setiap tahunnya hingga tahun 2021. Kejadian bom besar besaran juga terjadi di sejumlah negara lain, dan tentu paling rutin aksi bom meledak di Afghanistan.

Dan, di jaman Covid-19 ini, tepatnya 11 September 2021 diperingat sebagai 11 hari Militer Amerika angkat kaki dari Afghanistan dan juga 11 hari juga Taliban berkuasa di Afghanistan

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi, dikutip dari laman cnnIndonesia, 20 tahun serangan teror 11 September itu disebut pil pahit bagi Amerika, lantaran Afghanistan kembali pada cengkeraman Taliban.
Sabtu (11/9/2021) merupakan teror yang menerjang tiga lokasi di AS itu menewaskan hampir 3.000 orang.

Sepekan setelah teror 11 September terjadi, presiden AS saat itu, George W Bush, mengumandangkan perang global terhadap terorisme. Ia bertekad menggunakan seluruh sumber daya AS untuk menumpas terorisme global.

Di pekan yang sama, Bush dan Kongres AS juga menyetujui resolusi bersama terkait Otorisasi Penggunaan Kekuatan Militer (AUMF) yang langsung berlaku sebagai hukum pada 18 September 2001 sampai sekarang.

AUMF memberikan presiden wewenang mengerahkan militer AS dan segala kekuatan terhadap mereka yang dinilai “merencanakan, mengizinkan, melakukan, dan membantu” serangan teror 11 September.

Sebulan usai serangan 11 September, Bush pun memutuskan menginvasi Afghanistan, sebuah langkah yang didukung habis-habisan oleh kebanyakan warga Amerika saat itu.

Tujuan awal invasi AS ke Afghanistan adalah memburu Al-Qaeda, dan pemimpinnya, Osama bin Laden, sebagai dalang utama serangan teror 11 September 2001.

Saat itu, Afghanistan tengah berada di bawah rezim Taliban, yang memiliki kedekatan dengan Al-Qaeda.

Sebelumnya, Bush menuntut rezim Taliban menyerahkan anggota Al-Qaeda termasuk Bin Laden yang bersembunyi di Afghanistan.

“Pilihannya hanya antara Anda bersama kami, atau Anda bersama teroris,” kata Bush mengultimatum rezim Taliban dan seluruh negara di dunia dalam pidatonya pada September 2001 lalu.

Namun, Taliban menolak. Bush pun naik pitam dan pada Oktober 2001 ia memutuskan AS menginvasi Afghanistan, sebulan setelah teror 9/11 terjadi dengan dalih perang global melawan terorisme.

Invasi AS ke Afghanistan nyatanya berjalan jauh lebih rumit dari tujuan awal Bush, memburu Osama bin Laden. Alih-alih menangkap Osama bin Laden, militer AS di Afghanistan justru terdistraksi dengan pertempuran mereka melawan pasukan Taliban yang saat itu berkuasa.

Dikutip Council on Foreign Relations, Bin Laden pun sempat kabur ke Pakistan menghindari pertempuan AS melawan milisi Al-Qaeda dan Taliban di Afghanistan.

AS pun dibantu milisi Afghanistan, Northern Alliance, memberangus Taliban dan Al-Qaeda. Alih-alih membunuh Bin Laden, AS malah berhasil menggulingkan Taliban dari pemerintahan Afghanistan hanya dalam dua bulan setelah invasinya ke negara itu.

Sambil memburu Osama bin Laden, AS membantu Afghanistan membentuk pemerintahan baru dan pembangunan di negara itu.

Di saat bersamaan, perlawanan Taliban terhadap pendudukan AS dan sekutu di Afghanistan terus berlanjut. Kelompok tersebut tak jarang meluncurkan bom bunuh diri dan serangan lainnya terhadap pasukan pemerintah Afghanistan dan Barat.

Bin Laden pada akhirnya ditemukan dan dibunuh di Pakistan 10 tahun kemudian, tepatnya 1 Mei 2011. Setelah pemimpin Al-Qaeda itu ditaklukkan, Negeri Paman Sam masih melanjutkan invasinya di Afghanistan.

Hingga pada Februari 2020, AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump meneken perjanjian ‘Menuju Perdamaian’ dengan Taliban di Qatar. Dalam perjanjian itu, AS sepakat menarik seluruh pasukan dari Afghanistan dan Taliban menjamin tidak akan menjadikan negara itu oleh kelompok teroris.

Pada November 2020, pemerintahan Trump mulai mengumumkan penarikan pasukan AS dari Afghanistan menjadi 2.500 pasukan pada pertengahan Januari 2021.

Keputusan itu dilakukan setelah negosiasi antara Taliban dan pemerintah Afghanistan saat itu menemui jalan buntu, dan Taliban kembali melancarkan serangkaian serangan mereka di negara tersebut.

Tentara AS menginjakan kaki di tanah Amerika usai bertugas di Afghanistan selama beberapa tahun terakhir. (REUTERS/Brendan McDermid)
Pengumuman itu muncul dua bulan menjelang Trump lengser.

Pada April lalu, penerus Trump, Presiden Joe Biden, meminta perpanjangan waktu penarikan pasukan AS dari Afghanistan yang semula ditetapkan Mei 2021.

Biden menegaskan AS akan menarik seluruh pasukannya dari negara Asia Selatan itu hingga Agustus kemarin terlepas hasil negosiasi perdamaian intra-Afghanistan.

Sejak pasukan AS mulai ditarik pulang pada Mei lalu, kelompok milisi Taliban mulai menunjukkan taringnya lagi dengan merebut belasan ibu kota dari pasukan pemerintah Afghanistan.

Hingga pada 15 Agustus, dua pekan menjelang tenggat waktu kepergian AS, Taliban mengklaim mengambil alih kekuasaan Afghanistan setelah berhasil menduduki Ibu Kota Kabul dan Istana Kepresidenan.

Padahal, Taliban merupakan salah satu alasan AS hadir hingga 20 tahun lamanya di Afghanistan.(*)

Tulisan : Dedy Suwadha

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel