Dukungan Kearifan Lokal Natuna-Anambas Demi Terwujudnya 1 Juta Barel Migas Nasional

423
Ketua Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Koperasi (LEPENKOP) Kabupaten Kepulauan Anambas, Syahril berfoto di teras depan mitrashop bantuan UMKM dari SKK Migas . Keterangan Foto : wartakepri.co.id

WARTAKEPRI.co.id – Krisis energi kini melanda banyak negara di dunia. Sejumlah negara tersebut mayoritas mengalami krisis listrik, akibat dari melonjaknya harga gas alam dunia dalam beberapa waktu terakhir.

Di lain sisi, dari dalam negeri Indonesia Dibawah komando pemerintah Presiden Joko Widodo menaruh optimis walau pandemi Covid-19 memberikan dampak kepada seluruh sektor perekonomian global, termasuk Indonesia. Namun, penguat ekonomi nasional dari hulu migas menjadi sektor yang kritikal agar tetap melakukan aktivitasnya untuk melakukan eksplorasi dan produksi Migas.

Rikky Rahmat Firdaus, Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas) Sumbagut, mengatakan dalam pertemuan bersama pemangku kebijakan di Provinsi Kepri bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) melalui virtual zoom belum lama ini, Dirinya optimis atas target Nasional tentu tidak ringan untuk dicapai meskipun bukan mustahil juga. Bahkan, sikap optimistis terhadap target itu juga dengan yakin tercapai dari Produksi Sumur di Natuna dan Anambas.

“Kita optimis target produksi satu juta barel minyak per hari dan gas 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (bscfd) pada 2030 bakal tercapai. Peran migas masih cukup strategis,” ucapnya Rikky Rahmad Firdaus yang juga pernah menjabat Manajer Senior Pengembangan Lapangan Gas, Lingkungan Deputi Perencanaan, dalam paparan Webinar dan Lomba Karya Jurnalistik (LKJ) 2021 Provinsi Kepri, Selasa (12/10/2021).

Rikky mengatakan, dalam upaya mencari cadangan migas yang baru, SKK Migas bersama KKKS terus bersinergi dengan pemangku kepentingan, baik di level provinsi maupun kabupaten/kota. Langkah itu demi mencapai target terwujudkan produksi 1 Juta BOPD pada tahun 2030 yang merupakan target dari pemerintah.

Terbaru, dalam rangka kegiatan Pengeboran 2 (dua) sumur yaitu Singa Laut -2 dan Kuda Laut-2 merupakan kelanjutan dari pengeboran sumur eksplorasi yang sudah dilakukan pada tahun 2014 (Singa Laut -1 dan Kuda Laut-1) oleh KKKS Premier Oil Natuna di Laut Natuna Utara.

“Kami mengharapkan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Natuna dan Forkopimda di Kabupaten Natuna dan Anambas serta pemangku kepentingan lainnya agar pengeboran ini dapat berhasil dan sukses sehingga dapat menambah cadangan migas di Indonesia,” kata Rikky sewaktu menghadiri sosialisasi Via Zoom pada pengeboran wilayah kerja Tuna pada tanggal 3 Juni 2021 lalu yang dihadiri Wakil Bupati Natuna Rodhial Huda.

Dari informasi yang diperoleh, Pengeboran yaitu Singa Laut -2 dan Kuda Laut-2 KKKS Premier Oil Natuna di Laut Natuna Utara akan dilaksanakan selama 82 hari dengan jarak daratan terdekat mencapai 216 KM/12o mill untuk Sumur Kuda Laut 2 dan 218 KM/121 mill untuk Sumur Singa Laut-2.

Tak dipungkiri, menurut data resmi yang keluarkan SKK Migas setidaknya peningkatan produksi minyak dari target APBN 2020 Industri hulu migas terlihat dimana telah membantu Pemerintah terhadap perputaran roda perekonomian nasional maupun daerah.

Salah satunya dengan meningkatkan implementasi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan mensosialisasikan pengembangan kapasitas nasional industri migas untuk mencapai target produksi minyak 1 juta barel per hari (BOPD) dan 12 miliar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada 2030.

Tercatat pada tahun lalu kontribusi hulu migas ke penerimaan negara mencapai Rp 122 triliun atau tercapai 144% dari target APBNP 2020. Hingga Agustus 2021, penerimaan negara dari sektor hulu migas sudah mencapai Rp 125 triliun atau 125% dari target 2021.

“Industri hulu migas telah berkontribusi besar terhadap penerimaan negara yang membutuhkan banyak biaya untuk penanggulangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi,” papar Rikky.

Dia menambahkan, Untuk mencapai target TKDN, SKK Migas dan KKKS membuat Vendor Development Program guna memberdayakan perusahaan dalam negeri agar berkembang dan dapat digunakan oleh KKKS.

“Program ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penyedia barang/jasa yang dibutuhkan hulu migas. Melalui Vendor Development Program, perusahaan-perusahaan lokal bisa mendapatkan pengetahuan dari perusahaan-perusahaan mancanegara untuk dapat memenuhi kebutuhan industri hulu migas sesuai dengan kriteria pemerintah,” kata Rikky.

Untuk itu, menurutnya, SKK Migas bersama KKKS terus mensosialisasikan pengembangan kapasitas nasional Industri hulu migas kepada seluruh pelaku industri penunjang hulu migas. Langkah ini diharapkan dapat mendorong terciptanya multiplier effect bagi perekonomian nasional maupun daerah.

Masih berdasarkan data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), setidaknya hingga tahun 2020 ini tercatat ada sepuluh blok migas di perairan Natuna dan Anambas yang tengah berkembang. Dari sepuluh blok migas itu, tiga blok masih dalam fase eksplorasi dan Tujuh blok sudah tahap eksploitasi.

“Tujuh perusahaan pada tahap eksploitasi, Medco E&P Natuna, Premier Oil Natuna SEA B.V, Star Energy (kakap) Ltd, PT Mandiri Panca Usaha, TAC Pertamina- PT PAN ( Pertalahan Amebatara Natuna), AWE Northwest Natuna B. V, Conrad Petroleum West Natuna Exploration Ltd. Sedangkan pada tahap eksplorasi tiga perusahaan diantaranya, PT.Medco energi Natuna Timur, Premier Oil Tuna B.V, dan Kufpec Indonesia,” tulis dalam data keluarkan SKK Migas.

Wakil Bupati Natuna Rodhial Huda dalam satu kesempatan di atas Perahu di Laut Natuna Utara

Sementara tempat terpisah, Wakil Bupati Natuna, Rodhial Huda yang ditemui Wartakepri.co.id belum lama ini dirinya menyambut baik atas kegiatan KKKS di Natuna. “Kita harapkan dengan adanya pengeboran ini diharapkan KKKS dapat mengikutsertakan tenaga kerja lokal di Natuna sesuai dengan kompetensi kerja yang dibutuhkan khususnya di perusahaan migas yang beroperasi di Wilayah Kabupaten Natuna,” sebut Rodhial.

Di sisi lain, menurut Rodhial, Pemerintah Daerah tetap memendukung kegiatan pengeboran yang akan dilakukan SKK Migas namun dirinya juga berharap agar bisa menitipkan pesan bagi putra putri Daerah untuk dilibatkan sesuai dengan kompetensi.

“Kami harap juga agar anak anak kami tidak menjadi penonton didaerahnya sendiri,” harapnya.

Radhial Huda yang baru Lima bulan lalu dilantik menjadi wakil Bupati berpasangan dengan Bupati Natuna Wan Siswandi sangat bersyukur, karena kata dia Kegiatan-kegiatan KKKS di Kabupaten Natuna sangat bermanfaat bagi pemerintah daerah maupun masyarakat, terutama dari sisi ekonomi dan wisata.

SKK Migas bersama KKKS sebut Rodhial terus melakukan berbagai kegiatan yang bersifat positif, tanpa mengambil alih fungsi dan kewenangan pemerintah.

“Pemerintah Kabupaten Natuna selalu mendukung kegiatan SKK Migas, baik berupa eksplorasi maupun eksploitasi, sehingga KKKS berjalan dengan aman dan lancar,” sebutnya.

Dia mengatakan, Lokasi Pantai Piwang tadinya belum terbentuk dan tertata kata dia, kini telah menjadi indah, nyaman, bersih dan menjadi ikon Kabupaten Natuna yang ramai dikunjungi oleh masyarakat. Berbagai fasilitas olah raga hingga arena bermain anak-anak dan orang dewasa kata dia juga dibangun di lokasi Pantai Piwang tersebut.

“Alhamdulilah mulai terlihat Lawa dialek natuna berarti (cantik) negeri ini hampir setiap hari arena bermain ini selalu ramai di kunjungi warga. Selain itu, lokasi Pantai piwang juga menjadi salah satu tempat berolahraga,” kata Rodhial melihat langsung dampak dirasakan warga.

Warga sedang menikmati suasana Pantai Piwang Kecamatan Bunguran Timur Natuna merupakan Tugu Laut Sakti Rantau Bertuah di buat oleh SKK Migas

Kearifan Lokal Daerah Penghasilan Migas

SKK Migas sebagai institusi negara yang bertugas melaksanakan Pengawasan dan Pengendalian kegiatan hulu migas di Indonesia berkomitmen penuh dan berupaya agar Kebutuhan Migas di Indonesia dapat terpenuhi.

Disamping itu, SKK Migas juga hadir untuk mendukung Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi Migas dalam upaya mendapatkan cadangan migas dan memproduksi minyak dan gas di Indonesia untuk negara dengan skema usaha bagi hasil (production sharing contract).

Hal itu tercatat jelas dari paparan A.Rinto Pudyantoro, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas dalam webinar bersama insan media Provinsi Kepri.

Dirinya mengatakan, Seperti diketahui, Indonesia juga memiliki sejumlah aktivitas di perairan Natuna dan Pulau Anambas ini, salah satunya kegiatan strategis di sektor minyak dan gas bumi (migas).

“Kita melalui Program Pengembangan Masyarakat SKK Migas dan KKKS yang dilaksanakan di Kabupaten Natuna melalui operator KKKS Premier Oil, Medco EP Natuna dilaksanakan tidak dalam bentuk dana / cash melainkan dalam bentuk program (inkind),” ungkap A. Rinto Pudyantoro.

Lebih dalam disampaikan dia, dalam perencanaannya KKKS selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Natuna. Hal ini dilakukan untuk mengetahui harapan dari Pemerintah Kabupaten Natuna terhadap program PPM serta menghindari duplikasi program yang dikhawatirkan program tersebut menjadi tidak efektif.

Selama ini, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Perwakilan Sumbagut dan KKKS Wilayah Kepri berupaya meningkatkan kemandirian masyarakat, serta menjaga lingkungan disekitar.

Melalui dana migas berasal dari corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan (TJSP) telah merambah mengucurkan bantuan ke tengah Masyarakat. Dalam pelaksanaannya KKKS menerapkannya dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku.

Dari kota batam SKK Migas Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) dan KKKS Wilayah Kepulauan Riau yaitu Medco E&P Natuna Ltd., Premier Oil Natuna Sea BV dan Star Energy (Kakap) Ltd. bersinergi untuk menciptakan SDM unggul di Kepulauan Riau (Kepri) dengan mendirikan Migas Center di Universitas Putera Batam.

Kini telah terwujud Migas Center Universitas Putera Batam nantinya akan terbuka untuk semua kalangan dan dapat digunakan sebagai sumber informasi tentang kegiatan usaha hulu migas di Provinsi Kepulauan Riau.

Manfaat itu dirasakan berupa Migas Center Universitas Putera Batam merupakan Migas Center Ke-4 yang diresmikan di Wilayah operasional SKK Migas Perwakilan Sumbagut.

Yang mana sebelumnya Migas Center telah diresmikan di Universitas Andalas Padang, Universitas Islam Riau di Pekanbaru dan Universitas Malikussaleh di Lhokseumawe.

Kembali ke Pulau Natuna, pada bulan Juni 2021 yang lalu, SKK Migas, KKKS Premier Oil dan Medco EP Natuna diserahterimakan untuk masyarakat Natuna melalui Pemerintah Daerah beberapa program PPM yang telah dilaksanakan tahun 2020-2021.

Diantaranya program dukungan GeoPark Natuna di Kawasan Geosite Batu Kasah yang meliputi Gerbang Utama 1 Unit, Sarana ruang bilas dan toilet 8 unit dan tower air 1 Unit.

Sedangkan dalam rangka mendukung pengentasan COVID-19 di Kabupaten Natuna, SKK Mogas telah menyalurkan sebanyak 2 unit refrigerator (Program Premier Oil, Medco Natuna, Star Energy) sebagai tempat penyimpanan vaksin COVID-19 yang dibutuhkan masyarakat Natuna.

Refrigerator dibutuhkan agar vaksin yang akan didistribusi tetap dalam kondisi baik dan aman sesuai dengan standar Kesehatan yang berlaku. Semoga dukungan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat Natuna.

Sementara pada tahun 2020 di Anambas menghadapi tantangan luar biasa akibat pandemi COVID-19. Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas) Sumbagut berkomitmen untuk selalu bersama masyarakat Anambas dalam mencegah penyebaran COVID-19.

Penyaluran bantuan seperti ribuan masker non-medis, ratusan masker medis dan APD, material kain masker, dan ribuan botol hand sanitizer telah dilakukan.

Kepala SKK Migas Sumbagut, Rikky Rahmat Firdaus berharap bantuan ini bisa meringankan beban masyarakat saat pandemi covid-19 saat ini.

“Ribuan sembako juga telah kita telah disalurkan kepada masyarakat sebagai bagian dari kepedulian Perusahaan terhadap dampak sosial dan ekonomi pada masyarakat akibat pandemi COVID-19 Di Natuna dan Anambas,” sebut Rikky.

SKK Migas juga telah menyerahkan Bantuan Alat Tangkap Nelayan Guna Memperkuat Ketahanan Ekonomi Nelayan Kabupaten Kepulauan Anambas dari Medco E&P Natuna Ltd bekerjasama dengan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepulauan Anambas.

Diketahui bantuan tersebut dikhususkan untuk nelayan lepas pantai 56 orang dan nelayan pesisir menggunakan Jongkong 61 orang yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Palmatak, Kute Siantan dan Siantan timur.

Yupin Ketua Nelayan Desa Ladan, s ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kecamatan Palmatak, berpose diatas pompong bantuan SKK Migas. Foto wartakepri.co.id

Kelola Potensi Laut, Melahirkan Desa Wisata Pulau Anambas

Salah satu Icon ciri khas Anambas selain Eko Wisata alam baharinya sangat memukau SKK Migas juga menaruh perhatian pada Batu Lepe yang dijadikan ikon wisata laut kawasan tersebut secara resmi dibuka pemerintah Kabupaten Anambas, bekerja sama dengan SKK Migas dan Medco EP Natuna, serta Premier Oil Natuna.

Kepada Wartakepri.co.id, belum lama ini, Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas, Abdul Haris menyampaikan rasa terimakasih atas komitmen SKK Migas dan KKKS selama ini tidak absen membantu pengembangan sektor pariwisata Anambas.

“Kami yakin, apabila sektor pariwisata semakin berkembang maka perekonomian masyarakat semakin meningkat. Kami berharap kerjasama pengembangan sektor wisata ini tetap berlanjut. Karena tujuan utamanya yaitu menjual daya tarik Anambas ini yang tak kalah saing dengan Raja Ampat,” jelasnya.

Haris juga berpesan kepada Camat, Aparatur Desa serta masyarakat dan Dinas Pariwisata untuk menjaga dan memelihara aset yang telah disalurkan dari KKKS.

“Ini akan menjadi salah satu ikon wisata Anambas. Kami harap ini dijaga dan dirawat. Kami tahu, antusias masyarakat untuk mengunjungi ruang terbuka ini tinggi. Mudah-mudahan keindahannya tetap terjaga,” pesannya.

“Batu Lepe, yang memiliki arti ‘batu datar’, dapat dijadikan tempat untuk bersantai atau mancing. Dari Batu Lepe yang berdiameter 35 meter ini kita juga bisa melihat lanskap laut lepas, dan tentunya suasana matahari terbenam di saat senja,” ungkap Dr Masykur, Kepala Dinas Pariwisata Anambas.

Ruang Terbuka Publik Batu Lepe dihiasi mural 3D nuansa budaya khas Melayu yang diukir oleh seniman lokal.

“Hiasan itu terdiri dari batik cual, penari Melayu dan ikan napoleon, beberapa kegiatan dinas pariwisata yang sudah sukses seperti pagelaran budaya Melayu, pagelaran budaya etnik Minangkabau, semarak Anambas, Anambas moon cake festival, dan festival padang melang,” tuturnya.

Lebih jauh disampaikan Maskur, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kepulauan Anambas, saat ini lebih fokus pada pembinaan dan pengembangan desa wisata dalam bentuk program pelatihan bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

“Sejauh ini kita telah laksanakan beberapa pelatihan-pelatihan untuk desa wisata. Tahun ini ada, tahun lalu juga ada dana dari kementerian,” sebutnya.

Dinas pariwisata Anambas sebenarnya telah menyusun program kerja pariwisata 2020 diantaranya membuat festival pergelaran seni budaya Nusantara.

“Karena di Anambas ada 12 paguyuban, namun belum terlaksana, kita yakin dengan dibukanya kembali akses pariwisata semoga bisa berjalan pada tahun 2023 silaturahmi antar paguyuban ini,” harapnya.

Selain dalam bentuk program pelatihan, sebut Maskur, pihaknya juga akan lebih fokus pada program promosi untuk desa wisata. Karena menurutnya, penjualan objek wisata desa itu penting dalam rangka menarik kunjungan wisatawan domestik dan Internasional.

“Melalui kegiatan budaya, Mari kita bangun Anambas dengan kebhinekaan, saling toleransi dan menjaga keberagaman negeri ini telah sejak lama terpelihara dengan baik,” harapnya.

Ia mencotohkan, di Kecamatan Palmatak, Letung ada beberapa desa yang memiliki potensi Eko wisata yang dapat menarik wisatawan asing dan lokal. “Jadi kalau desa wisata itu lebih kepada yang dijual wisata di dalam desanya dan keragaman, misalnya bagaimana aktivitas orang yang tinggal di dalam desa tersebut. Dengan ragam etnis, Nah itu yang perlu kita jual dan kita promosikan,” pungkasnya.

Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Wilayah Kepulauan Riau (Kepri) bersama SKK Migas
Perwakilan Sumatera bagian Utara (Sumbagut) Webinar dan Lomba Karya Jurnalistik (LKJ) 2021,
tanggal 12 Oktober 2021 Keterangan, Foto : tangkapan layar zoom meeting

Ekonomi UMKM Anambas

Premier Oil a Harbour Energy company, perusahan itu terus melakukan kegiatan produktif dan sosial dalam membina dan menggerakkan ekonomi masyarakat di Kecamatan Palmatak, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau melalui Program Community Investment yang dikelola oleh Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Koperasi (LEPENKOP).

Syahril, Ketua Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Koperasi (LEPENKOP) Kabupaten Anamabs, dirinya mengatakan, Sejak didirikan pada 3 April 2014, LEPENKOP bersama Kelompok Usaha Masyarakat telah melakukan berbagai kegiatan yang meliputi usaha budidaya pembesaran Ikan Kerapu, usaha bagan terapung, usaha nelayan pancing, dan pembuatan makanan dan jajanan tradisional.

Selain itu, ada juga usaha Mitrashop yang kini dikenal sebagai BUMDes Desa Putik untuk memasarkan semua produk yang dihasilkan anggota dan pengembangan mitra usaha dengan Koperasi Premier Oil.

Sebelum dilakukan program pembinaan, para nelayan setempat mengalami banyak keterbatasan. Hal ini misalnya terkait akses permodalan yang minim untuk pengadaan bibit Ikan Kerapu dan pembuatan keramba, kesulitan dalam mendapatkan makanan ikan, minimnya dana untuk pembuatan pompong nelayan pancing dan terbatasnya fasilitas pendukung untuk kegiatan produksi makanan tradisional.

Namun, keadaan berubah signifikan setelah masyarakat mendapat pembinaan dari LEPENKOP yang terus menggali potensi para nelayan dan lima desa di Kecamatan Palmatak, yakni Desa Putik, Desa Ladan, Desa Tebang, Desa Candi dan Desa Piabung.

“Alhamdulilah, Masyarakat menerima bantuan permodalan untuk pengadaan bibit Ikan Kerapu, kebutuhan pakan ikan terpenuhi dengan dibangunnya bagan terapung, menerima bantuan permodalan untuk pembuatan pompong dan mendapat bantuan yang menunjang peningkatan produksi hasil olahan makanan tradisional,” sebutnya.

Senada disampaikan Yupin Ketua Nelayan Desa Ladan, sekaligus ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kecamatan Palmatak mengatakan, melalui berbagai kegiatan ekonomi yang dilakukan, pendapatan masyarakat menjadi meningkat. Sebelum budidaya Ikan Kerapu dilakukan, masyarakat setempat adalah nelayan pesisir yang berpendapatan sekitar Rp1,5 juta per bulan.

Namun, melalui pembinaan masyarakat, para nelayan tersebut mendapat bantuan bibit ikan. Sehingga, mereka dapat memiliki penghasilan tambahan sebesar Rp12 juta selama dua tahun ketika harga Ikan Kerapu hidup sedang turun. Jika dalam kondisi normal, mereka dapat mengumpulkan penghasilan tambahan tiga kali lipat.

“Dulu pendapatan rata-rata nelayan pancing kita setiap bulan sekitar Rp1,5 juta. Namun kini Alhamdulillah, setelah masyarakat menerima bantuan pompong yang lebih besar sebanyak dua unit dan peralatan pendukung yang lebih lengkap dari Premier Oil para nelayan dapat mencari ikan ke wilayah yang lebih jauh, dimana enam orang nelayan masing-masing mendapatkan sekitar Rp100 juta per tahun,” papar Yupin, saat di Hubungi Wartakepri.co.id, Sabtu (16/10/2021).

Kegiatan Webinar dan Lomba Karya Jurnalistik (LKJ) diselengarakan SKK Migas selain mengasah karya awak media kegiatan itu yang bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri menjadi modal lebih perkaya perbendaharaan kata.

Hadir juga Gubernur Kepri Ansar Ahmad. Dalam sambutan pada webinar mengatakan bahwa webinar ini sangat bermanfaat bagi rekan-rekan media di Kepri karena dapat menambah wawasan tentang dampak positif industri hulu migas.

“ Saya berharap peran industri hulu migas menjadi signifikan dalam memajukan dan mensejahterakan masyarakat Kepri khususnya di 4 kabupaten yang menjadi area kerjanya. Oleh karena itu saya berharap, jurnalis yang bekerja di wilayah-wilayah kerja dapat menjadi mitra bagi KKKS dan SKK Migas. Jurnalis sebagai penyampai informasi harus mampu memberikan pemberitaan yang tepat dan berimbang sehingga pemahaman masyarakat tentang industri hulu migas semakin positif,” kata Ansar.

Pada webinar ini turut mengundang sebagai pembicara dari wartawan senior Selamat Ginting, serta Direktur Refor Miner Institut, Komaidi Notonegoro sebagai narasumber eksternal. Dalam materi webinar ada poin penting disampaikan Wartawan Senior Selamat Ginting dirinya memberi bekal ilmu kepada wartawan perbatasan itu dengan tema JURNALISME DAMAI.

Selamat Ginting mengungkapkan, sebagai pilar keempat demokrasi, semua pihak, termasuk pemerintah, seharusnya sama-sama mewujudkan pers sebagai alat kontrol sosial yang kuat. Jika pers lumpuh sesungguhnya negara ini pun lumpuh. Maka itu, ia berjanji akan terus perjuangkan jurnalisme damai di setiap karya jurnalistiknya.

“Jurnalisme damai pada dasarnya adalah upaya meluruskan kembali apa yang menyimpang dari jurnalisme dalam praktik. Prinsipnya, jurnalisme itu tujuannya untuk kepentingan publik, untuk kebaikan masyarakat luas,” sebut Selamat Ginting yang juga Dosen dari Fisip Universitas Nasional (Unas) Jakarta.

Jadi, lanjut Selamat, ketika suatu pemberitaan kemudian tidak memberi kebaikan untuk masyarakat, misalnya, karena cara pemberitaannya yang kurang mempertimbangkan bagaimana menyelesaikan konflik, atau malah cara pemberitaan itu berpotensi menbuat konflik jadi semakin berkepanjangan maka di situ muncul jurnalisme damai (peace journalism).

“Yaitu, upaya mengembalikan jurnalisme ke ruh atau tujuan dasarnya, yaitu kepentingan publik. Perdamaian dan berakhirnya konflik adalah kepentingan publik,” urai dia.

Jurnalisme damai tidak memihak pada salah satu pihak yang bertikai, tetapi lebih menyorot aspek-aspek apa yang mendorong bagi penyelesaian konflik.

Dari tujuan tersebut, maka yang diangkat adalah hal-hal yang sifatnya mendukung ke arah perdamaian. Dalam suatu konflik, selalu ada pihak-pihak tertentu yang mengharap ke arah damai.

Penulis: Riky Rinovsky
Wartawan: Wartakepri.co.id

Editor : Dedy Suwadha

PKP HIMALAYA DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel