Pengelola Kawasan Wisata untuk Travel Bubble Lakukan Promosi ke Singapura

352
Pengelola Kawasan Wisata untuk Travel Bubble Lakukan Promosi ke Singapura. (Foto: Istimewa)

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Usaha pantang menyerah terus dilakukan pengelola dua kawasan wisata di Kepri yang dijadikan contoh pelaksanaan Travel Bubble. “Jemput bola” menjadi pilihan dengan melakukan sendiri serangkaian promosi kesiapan kawasan wisata Lagoi dan Nongsa Sensation ke berbagai stage holder Singapura. 

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar saat berbincang, Senin (7/2/2022) di Batam tentang kelanjutan pelaksanaan skema Travel Bubble di Kepri yang baru saja dibuka setelah disepakati  oleh Presiden RI Joko Widodo bersama Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. 

“Saya dikabari GGM PT BRC Lagoi, Abdul Wahab bahwa dia langsung melakukan promosi ke Singapura dengan menemui berbagai stake holdernya untuk mengabarkan sekaligus menjamin persiapan kawasan Lagoi melaksanakan skema Travel Bubble ini. Sementara untuk kawasan Nongsa Sensation, Andy Fang telah menyurati Otoritas Kelautan dan Pelabuhan Singapura,” ungkap Buralimar. 

Honda Capella

Buralimar menyebutkan, Abdul Wahab langsung datang ke kawasan FCC ( Fitness and Conditioning Centres) Singapura menebar informasi telah dibukanya kawasan wisata Lagoi dalam skema Travel Bubble. Ia juga menemui pimpinan Singapore Tourism Board (STB), Singapore Cricket Club, yakni klub yang sering menggelar acara sosial dan turnamen, dan seluruh agen perjalanan yang ada di Singapura. 

“Saat ini meski jalannya Travel Bubble masih dalam batas regulasi,  tetapi saya yakin mereka sudah membuat beberapa rencana perjalanan ke Lagoi, Bintan  dan kawasan Nongsa di Batam. Apalagi setelah dua pengelola kawasan yang ditunjuk untuk skema Travel Bubble telah datang langsung ke Singapura melakukan promosi dan informasi yang lengkap atas kesiapan kedua kawasan wisata tersebut,” tambah Buralimar.

Menurut Buralimar dibukanya dua pintu masuk untuk  kawasan wisata Kepri dalam skema Travel Bubble  sudah merupakan kemajuan yang perlu disyukuri. Mengingat perjuangannya bukan serta merta, namun melalui proses yang panjang dan melelahkan sejak 1,5 tahun lalu. 

Buralimar mengisahkan perjalanan lahirnya skema Travel Bubble tersebut bermula dari diskusi serius dengan Jajaran Deputi I Kemenparekraf, Nike dan Guntur Sakti (mantan kepaka OPD Pemprov Kepri) yang intens mencari solusi untuk menjadikan Kepri khususnya destinasi wisata lagoi di Bintan dan Nongsa Sensation di Batam sebagai salah satu pilot proyek travel bubble di Indonesia selain Bali. Waktu itu lahirlah konsep safe travel coridor 3 B yaitu Batam, Bintan, Bali. 

Saat itu yang menjadi perhatian serius, pertama  masalah zonasi dan kedua masalah protkes (protokol kesehatan).

“Jadi skema Travel Bubble.untuk Kepri itu kami ikut  merumuskannya. Terlibat langsung dari awal menawarkan konsep, visitasi  hingga realisasinya saat ini. Sehingga kami tahu persis, apa yang menjadi alasan utama landasan pemikiran Traver Bubble untuk Kepri ini,” ungkap Buralimar. 

Untuk konsep zonasi, Kepri mengusulkan dua lokasi yakni Bintan Lagoi dan Batam Nongsa  dengan pertimbangan kedua lokasi itu enclave (tidak menyatu dengan kawasan penduduk), positivity rate terkendali, fasilitas kesehatan yang mendukung  dan akses lokasinya langsung ke pelabuhan, pengendalian wisman masuk kedalam kedua area bisa lebih terkendali karena satu-satunya menggunakan prototipe blue pass. 

“Makanya untuk skema Travel Bubble ini, Kepri istilahnya lebih feasible atau lebih  memungkinkan untuk menjalankan Travel Bubble karena merupakan cross border area (daerah perbatasan) yang market sharenya tidak perlu banyak negara. Cukup satu negara saja, sudah bisa dijalankan,” tutup Buralimar. (ril)

FANINDO