Update 29 Februari 2022 Perang Rusia vs Ukraina, Presiden Ukraina Dibagikan 18.000 Senjata ke Warga

WARTAKEPRI.co.id, UKRAINA – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan pasukan Rusia akan menyerbu ibu kota Kiev, dalam beberapa jam setelah tayangan video menunjukkan kendaraan lapis baja melaju di ibu kota. Kementerian Dalam Negeri Ukraina mengatakan 18.000 senjata mesin dibagikan kepada tenaga sukarela untuk mempertahankan ibu kota. Pemerintah juga menyerukan agar warga membuat bom molotov.

“Malam ini akan sangat, sangat sulit. Tapi pagi akan tiba,” ujar Zelensky.

PKP EXPO

“Malam ini pihak musuh akan menggunakan segala cara untuk mendobrak perlawanan kita. Malam ini mereka akan melancarkan serbuan.

“Malam ini kita harus teguh. Nasib Ukraina ditentukan saat ini. Kita tidak bisa kehilangan ibu kota.

“Tujuan kita adalah menyelesaikan pertumpahan darah ini,” tegasnya.

Pada Jumat (25/02/2022), tank-tank memasuki Kiev untuk pertama kalinya, sementara kendaraan militer Ukraina juga melaju di ibu kota untuk mempertahankan.

Pertempuran berlanjut di seluruh penjuru Ukraina

Amerika Serikat, Inggris dan Uni Eropa telah menerapkan sanksi finansial terhadap Moskow namun tidak mencabut Rusia dari sistem perbankan internasional, Swift. Zelensky mengatakan negara-negara Barat, khususnya Eropa, harus bertindak lebih jauh dan “bertindak tanpa ditunda.”

“Eropa memiliki kekuatan cukup untuk menghentikan agresi ini,” katanya.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pasukan mereka mengambil alih landasan udara penting, Hostomel di dekat Kiev, menurut laporan kantor berita Interfax.

Kementerian menyebutkan 200 tentara dari unit khusus Ukraina meninggal dan tak ada korban dari pihak Rusia, menurut kantor berita RIA Novosti. Sejauh ini belum ada tanggapan dari militer Ukraina dan keterangan Rusia belum dapat dipastikan.

Presiden Ukraina Zelensky menyerukan warga Eropa untuk memprotes dan meminta pemerintah mereka turun tangan guna menghentikan serangan Rusia.

Sebelumnya, Inggris merilis data bahwa setidaknya 194 warga Ukraina, termasuk 57 warga sipil meninggal, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan data dari PBB.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB sebelumnya mengatakan mereka memiliki laporan setidaknya terdapat 127 korban sipil di Ukraina, 25 di antaranya meninggal, 102 terluka karena “pengeboman dan serangan udara.” Juru bicara kantor HAM menyebut angka korban bisa lebih tinggi.

Ukraina mengatakan setidaknya 33 lokasi warga sipil menjadi sasaran.

Beberapa ledakan terus terdengar di Kiev dan beberapa rekaman video menunjukkan tank-tank melaju ke distrik utara Kiev.

Video-video di media sosial menunjukkan apa yang tampak seperti tank-tank Rusia melaju melalui Obolon, sebuah area di utara pusat kota Kiev.

Kementerian Pertahanan Ukraina mengkonfirmasi bahwa pasukan Rusia telah menyusup ke kawasan perumahan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pidatonya menyerukan kepada Rusia untuk melakukan gencatan senjata.

Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan 450 personel Rusia tewas.

Pesawat militer Ukraina yang jatuh di dekat Kiev, menyebabkan lima orang meninggal.

Rusia ingin melakukan demiliterisasi Ukraina

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan posisi Presiden Vladimir Putin adalah Moskow tidak ingin menduduki Ukraina namun melakukan “demiliterisasi”.

Ketika ditanya wartawan apakah Rusia akan meruntuhkan negara demokrasi, Lavrov menjawab negara itu tak dapat disebut “demokratik.”

Lavror mempertanyakan stabilitas Ukraina – dan menuduh negara-negara Barat sengaja memiliterisasi negara itu.

Lavrov juga mengatakan bahwa rakyat Ukraina sekarang memiliki peluang untuk “memilih masa depan mereka sendiri”.

Semalam Presiden Ukraina, Zelensky mengatakan 137 orang – baik tentara maupun warga sipil – meninggal Kamis (24/02) pada hari pertama serangan besar Rusia.

PBB mengatakan warga di ibu kota Kiev dan dari kota-kota lain melarikan diri dan sekitar 100.000 sudah angkat kaki.

Rusia juga menguasai kompleks Chernobyl – tempat terjadinya bencana nuklir terparah dunia pada 1986. Kawasan ini masih bahaya radioaktif dan menimbulkan kekhawatiran dari pengawas nuklir internasional.

Pertempuran pecah di lokasi-lokasi kunci, termasuk di landasan udara di dekat ibu kota Kiev yang dikuasai pasukan Rusia dan pasukan diklaim Ukraina telah diambil alih kembali.

Inggris dan Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia termasuk membekukan aset di bank-bank.

Sementara itu Presiden Vladimir Putin mempertahankan operasi militer itu dan mengatakan tak ada jalan lain untuk mempertahankan Rusia.

Tetapi Presiden AS, Joe Biden mengatakan Rusia akan menghadapi ganjaran berat karena agresi Putin ini.

Di Kiev, banyak warga yang tidur di stasiun kereta bawah tanah.

Banyak orang yang membawa binatang peliharaan mereka dan bahkan matras, menurut salah seorang yang ikut mengungsi.

Oksana Potapova menulis di Facebooknya keputusan untuk berlindung di stasiun adalah langkah tepat “mengingat terjadinya pertempuran sengit di dekat Kiev, Chernobyl dikuasai dan perkiraan serangan di Kiev.”

Sementara itu, protes antiperang mendukung Ukraina terjadi di sejumlah kota di seluruh Eropa dan juga di Rusia, walaupun berujung lebih dari 700 orang ditahan.

Kementerian Luar Negeri Indonesia sebelumnya mengatakan telah menjalankan “rencana kontingensi” untuk melindungi warga negara Indonesia (WNI) di Ukraina.

Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Judha Nugraha, mengatakan pihaknya melalui KBRI Kiev telah menjalin kontak dengan 138 WNI di Ukraina.

“Dalam komunikasi melalui grup WhatsApp, kami mendapat info WNI di sana dalam kondisi aman. Mereka tetap tenang,” kata Judha dalam konferensi pers virtual, Kamis (24/02).

Ia menjelaskan bahwa, sesuai rencana kontingensi yang telah disiapkan sebelumnya, Kemenlu telah meminta para WNI untuk berkumpul di KBRI Kiev. Pihak KBRI juga menyediakan hotline bagi para WNI.

Kemenlu juga telah menyusun rencana kontingensi dengan KBRI di kota-kota lain seperti Warsawa, Bratislava, Bucharest, dan Moskow untuk memberikan perlindungan bagi WNI yang ada di sana, tambah Judha.

“Saat ini prioritas kami adalah keselamatan warga negara indonesia. Kita akan memastikan dahulu mereka ada di lokasi yang aman, tentunya dalam hal ini adalah KBRI kita yang ada di Kiev.

“Selanjutnya, mengikuti perkembangan terakhir yang kita lihat kita akan melakukan evaluasi dari menit ke menit mengenai situasi yang ada. Tentu, berdasarkan pola-pola sebelumnya, jika dipandang perlu untuk mengevakuasi ke Indonesia [kita akan lakukan],” ujarnya.

Terdapat 138 WNI di Ukraina, mayoritasnya tinggal di Kiev dan Odessa. Dari jumlah tersebut, 11 WNI ada di Ukraina Timur termasuk Luhansk dan Donetsk yang dikuasi kelompok pemberontak sokongan Rusia.

“Kita sudah mampu menjalin komunikasi dengan mereka. Kita minta mereka mendekat, berkumpul ke KBRI Kiev. Namun jika tidak memungkinkan, sesuai dengan rencana kontingensi, ada titik-titik yang sudah di-dedicated-kan sebagai titik kumpul para WNI kita di kota-kota tertentu,” kata Judha.

Kamis (24/02) pukul lima pagi waktu setempat (10:00 WIB), Presiden Vladimir Putin meluncurkan operasi militer besar ke Ukraina. Ledakan terdengar di beberapa wilayah, mulai dari pinggiran Ibu Kota Kiev, hingga wilayah Donbas di timur yang dimasuki Rusia.

Presiden Ukraina Zelensky telah mengumumkan darurat militer dan bersiap melawan invasi tersebut. Dia juga telah mengkonfirmasi laporan serangan rudal di negaranya, ungkap Reuters.

Rusia disebut telah melakukan serangan rudal terhadap infrastruktur Ukraina dan penjaga perbatasan

Sedangkan Rusia menyatakan mengincar fasilitas militer dan pertahanan udara dan angkata udara Ukraina dengan “senjata presisi tinggi.”

Angkatan bersenjata Ukraina telah memposting pernyataan yang mengatakan bahwa militer Rusia memulai “penembakan intensif” terhadap unit-unitnya di timur negara itu.

Juga disebutkan angkatan udara Ukraina sedang melawan serangan udara oleh Rusia.

Invasi skala Penuh

Para pejabat Ukraina mengatakan bahwa invasi Rusia dalam skala penuh atas negara mereka telah dimulai, setelah Moskow meluncurkan “operasi militer khusus” ke wilayah timur yang dikuasai pemberontak pro-Moskow.

Duta Besar Ukraina untuk PBB Sergiy Kyslytsya mengatakan utusan Rusia telah mengkonfirmasi bahwa presidennya menyatakan “perang terhadap negara saya”, lapor kantor berita Reuters.

Kementerian dalam negeri Ukraina juga mengatakan kepada CNN: “Invasi telah dimulai”.

“Putin telah meluncurkan invasi skala penuh atas Ukraina,” cuit Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba.

Dia menegaskan bahwa Ukraina “akan mempertahankan diri” dan bahwa “dunia dapat dan harus menghentikan Putin”.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengumumkan peluncuran “operasi militer khusus” di wilayah Donbas, Ukraina bagian timur.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, dia mendesak tentara Ukraina yang menghadapi pemberontak di wilayah timur yang didukung Rusia untuk meletakkan senjata dan kembali ke rumah mereka masing-masing.

Putin mengatakan Rusia tidak berencana untuk menduduki Ukraina, tetapi memperingatkan bahwa tanggapan Moskow akan berlangsung “sekejap” jika ada yang mencoba mengambil alih Rusia. Ukraina dan sekutu Baratnya sebelumnya mengatakan Rusia siap untuk menyerang.

Ukraina perintahkan warganya Tinggalkan Rusia sekarang

Pemerintah Ukraina sebelumnya memerintahkan semua warganya di Rusia untuk segera hengkang sekaligus memperingatkan seluruh warga Ukraina untuk tidak berkunjung ke negara tersebut. Peringatan itu dirilis di tengah peningkatan ketegangan di perbatasan Ukraina dan Rusia.

“Kementerian Luar Negeri merekomendasikan semua warga Ukraina menahan diri untuk melakukan kunjungan apapun ke Federasi Rusia, dan bagi mereka yang berada di negara itu agar segera meninggalkan wilayah tersebut,” sebut pernyataan resmi Kemenlu Ukraina.

Kemenlu Ukraina menambahkan “peningkatan agresi Rusia terhadap Ukraina” membuat mereka tidak dapat memberikan bantuan konsuler kepada warga Ukraina di Rusia.

Diperkirakan ada beberapa juta warga Ukraina yang kini bermukim di Rusia.

Sementara itu, Ukraina mulai merekrut warganya dari usia 18-60 tahun sebagai anggota pasukan cadangan menyusul dekrit yang dikeluarkan Presiden Volodymyr Zelensky.

Militer Ukraina menyatakan periode dinas maksimum mencapai satu tahun dan orang-orang yang punya keahlian, seperti montir, akan ditempatkan ke unit-unit khusus.

Para pejabat Ukraina mengingatkan bahwa individu yang mengabaikan dekrit ini dapat menghadapi ancaman pidana.

Sejumlah pakar memperkirakan ada sekitar 900.000 orang yang kini menjadi anggota pasukan cadangan militer Ukraina.

Sebelumnya, AS telah menjatuhkan sanksi kepada Rusia atas apa yang disebut Presiden Joe Biden sebagai “dimulainya invasi Rusia terhadap Ukraina”

“Kami telah memutus pemerintah Rusia dari pembiayaan Barat,” kata Biden. (bbc.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

GALERI 24
PKP PROMO ENTENG