Nihil Kasus Positif PMK, Dinas Kp2 Kota Batam Awasi Lalu Lintas Hewan Ternak

232

FANINDO

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (KP2) Kota Batam Mardanis mengatakan, hingga hari ini Selasa (17/5/2022) belum ada temuan kasus terkonfirmasi positif Wabah PMK atau Penyakit Mulut dan Kuku masuk ke Batam.

“Sejauh ini belum ada laporan terkonfirmasi virus PMK terhadap ternak masuk ke Batam, masih nihil,” ujar Mardanis.

Dia menyebutkan, sebagai langkah antisipasi, pihaknya tetap melakukan pengawasan lalu lintas ternak yang masuk ke Batam. Tak dipungkiri, Batam bukan sebagai daerah produksi ternak, sangat rentan masuknya wabah virus PMK terhadap ternak yang dikirim dari daerah asal.

“Kita memberikan respon cepat berupa pengawasan lalu lintas terhadap ternak berkuku genap seperti sapi, domba, maupun kambing yang berkoordinasi dengan karantina. Intinya kita menjaga Batam jangan sampai terjadi penularan PMK,” tambah Mardanis.

Kementan merilis daerah yang terkonfirmasi positif PMK pada ternak, selain kasus PMK pertama mencuat di Jatim, kasus baru terkonfirmasi positif PMK berasal dari wilayah Sumatera yakni Aceh Tamiang, Lampung dan juga di Sumbar.

“Hewan ternak sapi Batam banyak berasal dari Lampung yang masuk melalui Kuala Tungkal. Ini perlu pengawasan ekstra dan jadi perhatian bersama juga,” jelas Mardanis.

Samuel Tampubolon, Pejabat Otoritas Veteriner Dinas KP2 Kota Batam menambahkan, pihaknya mengambil tindakan karantina serta isolasi selama 14 hari terhadap puluhan hewan asal Asahan (Sumut). Hewan ternak ini masuk melalui jalur laut Sei Pakning Riau menuju Batam.

Diketahui hewan ternak tersebut sudah terlanjur masuk ke Batam pada 13 Mei 2022. Dimana Otoritas Veteriner Sei Pakning pada 15 Mei memberlakukan penutupan sementara pengiriman hewan ternak ke Batam. Ternak tersebut terdiri dari sapi semental, domba hingga kambing .

“Iya tanggal 13 Mei 2022 mereka sudah melakukan pengiriman hewan yakni domba sebanyak 20 ekor, kambing 115 ekor sapi semental 75 ekor, saat ini kita lakukan karantina 14 hari di Sei Temiang,” ujar Samuel.

Dia menambahkan, selama karantina dan masa isolasi dilakukan observasi guna memonitor apakah akan muncul gejala klinis pada sapi dan kambing atau domba.

“Apabila ada terkonfirmasi akan dilakukan tindakan pengobatan setelah itu akan dilaporkan ke instansi terkait baik ke Provinsi, dan Kementerian,” tambah Samuel.

Menurut data Kementerian Pertanian menyebutkan jumlah kasus hewan ternak yang terinfeksi PMK di Jawa Timur sebanyak 3.205 ekor dengan kasus kematian mencapai 1,5 persen. Sementara kasus positif PMK di Aceh Tamiang sebanyak 2.226 ekor dengan kasus kematian 1 ekor.

Penyakit mulut dan kuku pada hewan ini menjangkiti hewan ternak dengan kuku terbelah seperti sapi, kambing, domba, dan babi. Penularan penyakit ini terjadi melalui virus yang penyebarannya lewat udara atau airborne maupun kontak langsung. (adi)

Honda Capella