Ketiadaan Stok Kambing, Akikah Warga Batam Terancam Tertunda

Stok kambing akikah
Stok kambing akikah


WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Ketersediaan hewan ternak jenis kambing di Kota Batam terus berkurang. Hal ini bisa berdampak luas ke masyarakat, salah satunya proses akikah warga Batam bakal tertunda.

Pasalnya, ketersediaan jumlah kambing yang ada diperkirakan hanya bertahan hingga akhir Mei 2022. Stok kambing yang terdaftar dalam Asosiasi Pedagang Hewan Ternak Batam (APHTB) saat ini hanya sebanyak 750 ekor, dari 18-20 ribu ekor kebutuhan Batam setiap bulannya.

Hal ini efek dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang ternak di Indonesia, sehingga pengiriman hewan ternak ke Batam dari Lampung melalui Kuala Tungkal Jambi dihentikan sementara.

Honda Capella

“Apabila belum ada jalan keluar pastinya ada efek, semua akan tertunda, Idul kurban maupun akikah, begitu juga pelaku UKM pastinya berimbas,” ujar Ali Musthafa, Wakil Ketua APHTB, Rabu (18/5/2022).

Ali menjelaskan, kondisi ini harus mendapat perhatian dari pemerintah dengan baik. Pedagang tidak bisa mengirim ternak. Hal ini jadi dilema bagi pedagang dengan dua permasalahan, yakni tidak adanya stok yang tersedia, serta berimbas pada harga yang lebih mahal.

“Kalau tidak segera diputuskan akan mengganggu stabilitas hewan dan juga harga. Biasa satu ekor kambing akikah berkisar Rp.2 juta, saat ini harga jadi melambung naik, minimal Rp. 3-4 juta per ekor,” jelas Ali.

Dia menyebutkan, sejumlah pedagang kambing yang juga melayani paket akikahan (daging+masak) juga terdampak. Pedagang tidak bisa melayani lagi paket-paket hemat untuk akikah karena ketiadaan stok

“Paket hemat akikah saja sudah tak terlayani, kita tak bisa berbuat banyak,” ungkapnya.

Bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dalam waktu satu pekan, pedagang bisa menjual 70 ekor sapi. Khusus Sabtu dan Ahad bisa menjual sekitar 20 ekor kambing.

“Kambing jadi favorit untuk kuliner juga, terutama saat Sabtu dan Ahad bisa menjual 20 ekor,” jelasnya.

Disisi lain, saat musim haji, pedagang hewan ternak juga menyediakan lapangan pekerjaan dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja dari berbagai keahlian. Tidak hanya dari Batam, pekerja juga berasal dari luar daerah. Kondisi yang belum pasti dengan penutupan sementara ini pihaknya menunda untuk mendatangkan tenaga kerja tersebut.

“Kondisi ini mendatangkan tenaga kerja juga, posisinya saat ini hanya menunggu, belum bisa bergerak juga, ternaknya saja belum ada,” ucapnya.

Dampak lainnya juga dirasakan pedagang terkait kandang di Sei Temiang yang sudah nampak kosong. Seluruh pedagang menyewa tanah atau tapak kandang dengan sistem sewa pertahun. Diluar bangunan kandang dari masing-masing pemilik. Rata-rata pedagang membayar sewa tanah sebesar Rp.7,5 juta pertahun untuk dijadikan kandang.

Ali berharap dalam waktu dekat ada solusi yang terbaik bagi pedagang kambing maupun sapi potong, baik di Batam maupun di luar Batam.

“Pemerintah harus mengambil peran dan betul-betul memberi solusi terbaik. Lebih penting lagi memastikan bahwa hewan yang dikirim ke Kota Batam bebas dari PMK. Memiliki keterangan valid baik dari karantina dan instansi lainnya bahwa hewan dikirim bukan berasal dari daerah yang positif terjangkit virus PMK,” tutupnya. (adi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News