Kasus Pencabulan Terhadap Balita, Indrawan: Prihatin, Pelaku Harus Diberi Efek Jera

Pidana pencabulan anak di bawah umur yang telah ditetapkan dalam Undang-undang perlindungan anak sangat memberatkan. Namun hal tersebut tidak membuat predator seksual menghentikan kejahatannya.(Foto : Ist)
HARRIS BARELANG

WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Kasus pencabulan terhadap balita yang terjadi pada Kamis, 28 April 2022 lalu, di wilayah hukum Polsek Kundur mengundang keprihatinan yang mendalam.

Salah satunya bagi Ketua harian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Karimun, Indrawan.

Dimana dirinya sangat marah dan kecewa terhadap pelaku. Pelaku sendiri diketahui merupakan oknum Rukun Tetangga (RT).

“Seyogyanya menjadi panutan bagi warganya, yang seharusnya mampu mengayomi, melindungi, ditambah lagi sudah mempunyai kedekatan, justru malahan tega melakukan perbuatan yang sangat keji terhadap anak di bawah umur,” ungkap pria berkacamata ini, Minggu (22/5/2022).

Dirinya juga merasa perihatin dan sedih atas kejadian yang menimpa anak balita pasangan SR dan RJ yang baru berusia 3,5 tahun ini, menjadi korban perbuatan keji, pencabulan yang dilakukan oleh oknum RT tersebut.

“Kita ketahui bersama, bahwasanya pada usia tersebut masih tergolong sangat belia,” paparnya.

Sehingga kata pria yang juga berprofesi sebagai Dosen Universitas Karimun (UK) dan Universitas Terbuka (UT) ini menyarankan agar segera dilakukannya pemulihan terhadap kondisi fisik dan psikis terhadap anak (korban).

“Karena hal ini sangat penting, dan menurut saya untuk proses kelanjutan masa depannya yang masih terlalu panjang,” pungkasnya.

Indrawan menambahkan, kondisi fisik dan psikis harus benar-benar dipastikan pulih kembali, dan untuk segera mungkin dilakukan. Sehingga korban (anak) tidak mengalami trauma yang mendalam.

“Kedepannya tidak mengalami trauma yang mendalam, terutama pada masa depannya,” kata Indrawan.

Selain itu juga, masih kata Indrawan perlunya pendampingan dan perhatian khusus dari orang sekitar terutama bagi orang tuanya.

“Perlu juga menjadi perhatian kita bersama, agar setiap RT mampu membentuk Satgas perlindungan anak, sehingga seluruh warga dapat terlibat dalam melindungi anak,” paparnya.

Karena kata Indrawan dalam melindungi anak tidak hanya tugas dari orang tua dan pemerintah saja, akan tetapi pengawasan perlu dari saudara beserta seluruh keluarga.

“Karena pada intinya kita selalu berdampingan dengan anak. Untuk itu perlunya mengkampanyekan perlindungan anak kepada seluruh masyarakat, sebagai bentuk mengantisipasi sekaligus mencegah kekerasan seksual terhadap anak,” tandasnya.

Untuk itu dirinya mengimbau kepada masyarakat agar segera melaporkan kepada pihak yang berwajib apabila menemukan kasus-kasus pencabulan dan kekerasan terhadap anak.

“Jangan beri kesempatan dan ruang gerak terhadap para pelaku kekerasan terhadap anak,” pintanya.

Dirinya mengajak masyarakat, agar bersama-sama bersatu padu untuk selalu melindungi anak. Jangan memukul dan juga membentak.

“Awasi dengan siapa anak-anak kita bermain dan berteman,” ungkapnya.

Karena menurutnya, pada kasus-kasus pencabulan yang sering terjadi di lingkungan sekitar, umumnya adalah orang-orang terdekat yang sudah dikenalinya.

“Untuk itu bagi para pelaku pencabulan terhadap anak, harus benar-benar dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku, beri efek jera,” sebut Indrawan.

Diketahui bersama, kata Indrawan Undang-undang perlindungan anak cukup keras dan tegas dalam memberikan hukuman maksimal.

“Pidana pencabulan anak di bawah umur yang telah ditetapkan dalam Undang-undang perlindungan anak sangat memberatkan. Namun hal tersebut tidak membuat predator seksual menghentikan kejahatannya,” ungkap Indrawan mengakhiri.(Aman)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News