Bahan Bakar Gas Sumber Energi Alternatif Nelayan Perikanan Tangkap di Kepri

Bahan Bakar Gas Sumber Energi Alternatif Nelayan Perikanan Tangkap di Kepri
Bahan Bakar Gas Sumber Energi Alternatif Nelayan Perikanan Tangkap di Kepri
GALERI 24
Ade Mega

Nelayan perikanan tangkap khususnya nelayan kecil dengan armada penangkapan ikan <5 GT adalah salah satu kelompok yang sangat rentan terhadap berbagai hambatan dalam menjalankan aktifitasnya. Kerentanan dapat timbul dari faktor alami maupun akibat

peristiwa yang terjadi akibat ulah manusia lainnya. Tanpa disadari peristiwa yang terjadi menimbulkan efek domino yang pada akhirnya akan bersinggungan dengan aktifitas mereka dalam melakukan penangkapan ikan.

Setelah badai pandemi Covid-19 selama lebih dari 2 tahun ke belakang yang telah memorakporandakan ekonomi para nelayan, masalah lain yang menimbulkan kerentanan bagi kesejahteraan nelayan tetap ada dan semakin bertambah. Adapun diantara masalah yang telah ada dan terus berlanjut antara lain pencemaran, degradasi lingkungan, perubahan iklim dan cuaca yang berpengaruh terhadap musim sehingga hasil tangkapan menjadi fluktuatif.

Pada beberapa waktu yang lalu, terjadi perang antara Rusia dan Ukraina. Invasi Rusia ke Ukraina pada akhir Februari telah membuat pasar energi terguncang. Rusia adalah pengekspor minyak dan produk terbesar di dunia, dan Eropa sangat bergantung pada bahan bakar Rusia, jumlahnya bahkan lebih dari 40%.

Pada bulan Maret, harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak 2008 karena pembeli mengkhawatirkan ketersediaan energi, mengingat kondisi pasar yang sudah ketat. Permintaan telah pulih kembali setelah pandemi, sementara produsen menjaga output tetap terkendali, yang berarti harga sudah naik sebelum invasi. (CNBC, Juni 2022).

BACA JUGA Premier Oil dan AJB Sosialisasi Bahaya Nelayan Menangkap Ikan Dekat Offshore

Efek domino dari perang tersebut memicu kelangkaan solar dan membuat nelayan lebih bekerja keras dalam meningkatkan pendapatan demi kesejahteraan keluarganya. Naiknya harga-harga kebutuhan pokok yang tidak diimbangi dengan kenaikan harga ikan telah menjadi beban tambahan bagi nelayan yang harus mempersiapkan bekal dan ransum sebelum berlayar dan menangkap ikan.

Beberapa bulan yang lalu, nelayan kecil di Provinsi Kepulauan Riau khususnya di Kabupaten Natuna dan Kepulauan Anambas telah merasakan kelangkaan solar bersubsidi.

Berkaca dengan kejadian kelangkaan solar beberapa waktu yang lalu… hal 2

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News