Tuai Polemik Warga Tutup Saluran Air PT Saipem, Noor Idris: Perusahaan Butuh Proses Penuhi Tuntutan

Polemik yang terjadi di bilangan RT 02, RW 03, Desa Pangke Barat, Kampung Ambat Jaya, Tanjungbalai Karimun Kepulauan Riau, tuntutan warga dan nelayan kepada PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB), di dumping area seluas 20 hektar.(Foto : Aman)
HARRIS BARELANG

WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Polemik yang terjadi di bilangan RT 02, RW 03, Desa Pangke Barat, Kampung Ambat Jaya, Tanjungbalai Karimun Kepulauan Riau, dimana warga dan nelayan akan menutup saluran pembuangan air (gorong-gorong) dari PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB), mendapat reaksi dan tanggapan dari Tokoh masyarakat (sesepuh) setempat.

Salah satunya Muhammad Noor Idris (64) atau yang akrab disapa Noi.

Dirinya meminta kepada warga agar dapat menahan diri dan jangan gegabah, dan harus menghargai kebijakan PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB).

Dan jangan membuat kegaduhan terhadap perusahaan yang dibangun secara keseluruhan di atas lahan seluas 162 hektar tersebut.

“Kami selaku Tokoh masyarakat meminta agar warga dapat menahan diri,” pinta Noi, Sabtu (23/7/2022).

Karena menurutnya demi menjaga marwah dan citra dari warga Kampung Ambat Jaya itu sendiri.

“Khususnya dimata perusahaan raksasa
PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB),” paparnya.

Dirinya merespon (menanggapi) salah satu warga bernama Muslim, terkait adanya kesepakatan perwakilan masyarakat dengan Perwakilan PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB), tentang 5 poin tuntutan dan permohonan masyarakat sekitar.

Diantara berupa kanal, lahan reklamasi seluas 20 hektar (penambahan) yang sudah dikerjakan oleh perusahaan, namun tidak dipungkiri belum maksimal dan masih dalam penggarapan.

“Termasuk pihak perusahaan yang rencananya akan membangun rumah singgah nelayan,” sebut pria kelahiran Desa Pangke Barat, Kampung Ambat Jaya, 18 Februari 1958 ini.

Tidak hanya itu saja, kata pria paruh baya yang memiliki empat orang putra ini, tuntutan warga lainnya yakni berupa pemasangan batu miring yang pengerjaannya sudah dipasang, mulai dari ujung jambatan dengan panjang kurang lebih 50 meter, menjulang ke tepi laut.

“Dan juga sedang dalam pengerjaan yang dilakukan secara bertahap, dan membutuhkan proses jangka panjang” ujarnya.

Noi menambahkan, terkait tuntutan warga dan nelayan masalah pendalaman kuala sungai atau alur, dirinya mengakui belum dapat terealisasi oleh pihak perusahaan.

“Karena butuh proses dan waktu, dimana Top Management perusahaan yang selalu berganti-ganti,” paparnya.

Noi membeberkan dari ketiga Top Management yang semula ditampuk oleh Mr Ernesto De Franco pada tahun 2019, lalu digantikan oleh Mr Renzo di tahun 2021, serta pada tahun 2022 ini Presiden Direktur PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB) dijabat oleh Mr Alexandro.

“Sehingga warga bersama nelayan dimohon agar bersabar, dan tuntutan pasti akan direalisasikan (dipenuhi) oleh pihak perusahaan, aman itu,” ungkap Noi.

Selanjutnya masih kata Noi, permintaan warga untuk kegiatan pengeboman batu (Blasting) di wilayah PT Saipem, area Bukit Tanjung Pengaru, hingga saat ini belum ada dampak rumah maupun bangunan yang mengalami kerusakan.

“Alhamdulillah, hingga saat ini belum ada dampak bangunan yang rusak, baik retak maupun runtuh,” paparnya.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Ketua Nelayan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tanjung Pelawan, Syofyan mengatakan, dalam hal ini dirinya bersama dengan masyarakat dan nelayan lainnya sudah berupaya semaksimal mungkin, untuk menyampaikan tuntutan warga dan nelayan kepada pihak perusahaan, sesuai prosudur.

Dan beberapa hari belakangan ini dirinya telah diundang mengadakan pertemuan dengan Presiden Direktur PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB), Alexandro.

“Allhamdulillah beliau sangat respon dan tanggap, sehingga dalam waktu dekat ini akan langsung terjun kelapangan, meninjau ke Kampung Ambat Jaya,” ujar Syofyan.

Untuk itu, kata Syofyan dari pihak PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB) sendiri, sudah meminta dan memutuskan, Muhammad Noor Idris sebagai penanggung jawab dalam permasalahan ini.

“Menujuk sesepuh, orang tua kita, mantan Kepala Desa Bapak Muhammad Noor Idris, sebagai penanggung jawab dalam hal ini,” pungkasnya.

Kata Syofyan, hal ini menjadi keputusan bersama warga dan para nelayan, karena mengingat Muhammad Noor Idris sendiri termasuk salah satu pejuang serta perintis atas berdirinya perusahaan raksasa PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB).

“Sudah menjadi kesepakatan bersama, demi kemajuan Desa Pangke Barat, Kampung Ambat Jaya. Kebersamaan dan kekompakan yang kita harapkan,” tandasnya.(Aman)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News