Kaget Juga, Biaya Haji Reguler di Negara Miskin Ini Capai Rp 100 Juta

Biaya Haji dan Ibadah Haji dan Umroh di Arab Saudi
Ibadah Haji dan Umroh di Arab Saudi (foto net)

HARRIS BARELANG

Konsul haji pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah Nasrullah Jasam mengatakan biaya haji reguler Bangladesh sebesar 25.000 Saudi Arabian Riyal (SAR) atau sekitar Rp 100 juta.

Nasrullah mengungkapkan biaya perjalanan jemaah haji Bangladesh terbagi dua macam, VIP dan reguler. Standar harga reguler mencapai 25 ribu riyal, sedangkan VIP mencapai 60 ribu riyal.

“Tidak ada dana optimalisasi sehingga seluruh biaya ditanggung jemaah,” ujar Nasrullah dilansir dari laman Kemenag, Kamis (13/10/2022).

Hal ini disampaikan Nasrullah usai bertemu Konsul Haji Bangladesh, Md. Jahirul Islam, di Kantor Teknis Urusan Haji (TUH) Jeddah.

Pertemuan itu dimanfaatkan kedua pihak untuk berbagi pengalaman dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Menurut Nasrullah, banyak informasi yang disampaikan Md. Jahirul Islam seputar teknis penyelenggaraan haji di Bangladesh.

Kalau di Indonesia penyelenggaraan ibadah haji mayoritas dilakukan pemerintah, di Bangladesh justru sebaliknya.

Pemerintah Bangladesh hanya menyelenggarakan ibadah haji untuk 5% kuota, sementara, untuk 95 % kuota, diserahkan kepada pihak swasta atau travel haji.

“Pemerintah Bangladesh hanya menyelenggarakan haji reguler. Untuk travel haji, ada pilihan reguler dan VIP,” paparnya.

Dia menambahkan sekitar 1.700 travel haji yang memberangkatkan jemaah haji Bangladesh. Untuk umrah, jumlahnya sekitar 500 travel.

Dalam kondisi normal, kuota Bangladesh sebanyak 120 ribu. Karena pandemi, pada musim haji 2022, kuota haji Bangladesh hanya 60 ribu jemaah.

Saat ini, tercatat ada sekitar 200 ribu warga Bangladesh yang telah mendaftar sebagai jemaah haji, sehingga masa tunggu keberangkatan hanya sekitar dua tahun.

BACA JUGA Biaya Haji 2022 Naik Jadi Rp39.886.009 per Jemaah, Berikut Rinciannya

Banglades Masuk 10 Negara Miskin di Asia

Ada 10 negara di Asia yang masuk kategori berdaya beli rendah, termasuk Timor Leste yang pernah menjadi bagian Indonesia.
Hal ini diukur berdasarkan produk domestik bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP) dan purchasing power parity (PPP) atau keseimbangan kemampuan berbelanja.

Seperti dipublikasi cnn indonesia, pada 1 Oktober 2022 lalu, yang melansir dari gfmag.com, berikut daftar 10 negara dengan daya beli paling rendah di Asia:

1. Yaman (Asia Barat)
Yaman menempati urutan pertama negara daya beli paling rendah di Asia. PDB PPP mereka hanya sebesar US$ 2.078. Bahkan, Yaman berada di urutan ke-13 negara beli paling rendah di dunia.

Negara yang dihuni 98 persen muslim ini bergantung pada minyak sebagai komoditas ekspor penyumbang PDB. Namun, perang dan kerusuhan sipil cukup mengganggu perekonomian mereka.

2. Timor Leste (Asia Tenggara)
Timor Leste sempat menjadi bagian dari Indonesia, dengan nama Timor Timur. Setelah melalui referendum pada 30 Oktober 1999, Timor Timur berpisah dengan Indonesia dan resmi menjadi negara Timor Leste pada 20 Mei 2002.

PDB PPP Timor Leste tercatat hanya US$ 3.339. Hampir 37 persen penduduk negara ini hidup di bawah garis kemiskinan internasional dan 50 persen penduduknya buta huruf.

3. Nepal (Asia Selatan)
Nepal adalah negara Asia Selatan yang mencatat PDB PPP US$ 4.578. Negara ini menghadapi tantangan akses sanitasi yang masih rendah, yakni hanya 45,8 persen dari jumlah penduduk.

Akses kesehatan juga masih timpang. Terjadi kepadatan dokter sekitar 0,6 dokter per 1.000 penduduk dengan 3 tempat tidur rumah sakit tersedia per 1.000 penduduk.

4. Tajikistan (Asia Tengah)
Tajikistan menjadi wakil pertama dari Asia Tengah di daftar ini. Perolehan PDB PPP negara ini ada di angka US$ 4.630.

Selain kemiskinan yang tinggi, Tajikistan menghadapi tantangan dalam sistem perawatan kesehatan. Angka kematian bayi juga cukup tinggi, 37 per 1.000.

5. Myanmar (Asia Tenggara)
Myanmar menjadi negara tetangga Indonesia kedua yang menempati daftar ini. Negara Asia Tenggara ini mencatat PDB PPP sebesar US$ 4.776.

Tercatat hanya ada 0,57 dokter dan 0,9 tempat tidur rumah sakit yang tersedia per 1.000 penduduk. Myanmar juga menghadapi penurunan angka kelahiran, menyusul banyak wanita yang belum menikah dan konsep kontrasepsi.

6. Kamboja (Asia Tenggara)
Negara Asia Tenggara lain yang masuk daftar ini adalah Kamboja. Tetangga Indonesia ini mencatat PDB PPP di angka US$ 5.493.

Konflik-konflik sosial turut menjadi penyebab kemiskinan Kamboja. Selain itu, kesulitan memproduksi dan mengelola bahan ekspor ikut memperparah kondisi Kamboja.

7. Kirgistan (Asia Tengah)
Kirgistan atau Republik Kirgistan adalah negara Asia Tengah dengan PDB PPP US$ 5.562. Perekonomian Kirgistan sangat bergantung pada sektor pertanian. Kapas, tembakau, wol, dan daging adalah produk utama.

8. Pakistan (Asia Selatan)
Pakistan mencatat PDB PPP di angka US$ 6.470. Negara Asia Selatan menghadapi tantangan ekonomi karena perang dan konflik politik selama bertahun-tahun. Kenaikan harga makanan, gas, dan minyak turut diperparah dengan status mereka sebagai importir teh terbesar di dunia.

9. Bangladesh (Asia Selatan)
Negara Asia Selatan lain yang masuk dalam daftar ini adalah Bangladesh. Negara ini mencatat PDB PPP sebesar US$ 6.633. Akses air bersih Bangladesh masih di bawah 20 persen. Sementara, sebanyak 2,5 persen dari PDB mereka disalurkan untuk pendidikan.

10. India (Asia Selatan)
India mencatatkan PDB PPP di angka US$ 8.358. Sebagai negara kedua dengan populasi terbanyak, India belum selesai dengan masalah ekonomi.

Permasalahan yang dihadapi India adalah angka kelahiran dan penduduk yang banyak. Ini membuat pertumbuhan ekonomi mereka yang cukup cepat tak mampu berbuat banyak untuk mengentaskan kemiskinan.

Sumber : JPNN dan CNNIndonesia

FANINDO

Honda Capella