Rutan Karimun Gandeng YPMBPBI Edukasi Moralitas, Jadikan Manusia Seutuhnya

Guna menciptakan Insan-insan yang berakhlak dan berbudi pekerti bagi, Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Tanjungbalai Karimun mengelar kegiatan pendidikan moral bertajuk 'who am i', Selasa (27/2/2024).(Foto: Istimewa)
HARRIS BARELANG

WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Guna menciptakan Insan-insan yang berakhlak dan berbudi pekerti bagi, Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Tanjungbalai Karimun menggelar kegiatan pendidikan moral bertajuk ‘who am i’, Selasa (27/2/2024).

Pelaksanaan kegiatan yang diperuntukkan bagi para petugas Rutan Kelas IIB Tanjungbalai Karimun Karimun beserta warga binaannya tersebut digelar di Aula Sahardjo, menggandeng Yayasan pelatihan Moralitas Budi Pekerti Bangsa Indonesia (YPMBPBI).

Antusiasme peserta yang diikuti oleh 15 orang pegawai Rutan serta 39 orang warga binaan yang merupakan Kepala Kamar setiap kamar hunian.

Kepala Rutan Kelas IIB Tanjungbalai Karimun, Arjiunna menyebut, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menciptakan Insan-insan yang berakhlak dan berbudi pekerti bagi petugas Rutan Karimun dan warga binaannya.

“Meskipun tidak semuanya dapat mengikuti kegiatan, perwakilannya diharapkan peserta dapat menularkan atau membagikan ilmu yang didapat kepada rekan-rekan sekamarnya yang tidak mengikutinya,” terang Karutan.

Pada kesempatan tersebut Karutan mengapresiasi kegiatan tersebut, pasalnya kegiatan akan rutin dilaksanakan.

Antusiasme peserta pegawai Rutan Kelas IIB Tanjungbalai Karimun beserta WBP mengikuti edukasi moralitas.(Foto: Istimewa)

“Kedepannya dapat diselenggarakan rutin, terdapat program-program untuk membina dan mengedukasi,” paparnya.

Sementara itu, narasumber sekaligus pemateri, Erina Wongso mengungkapkan, pembinaan moralitas bertujuan untuk membentuk WBP menjadi manusia seutuhnya, sehat jasmani dan rohani serta menjadi andalan keluarga dan mengabdi kepada bangsa dan negara.

“Kegiatan pelatihan ini demi kebaikan WBP dan nantinya akan menjadi bekal ketika mereka kembali di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Untuk materi yang disampaikan, masih kata Erina diantaranya jangan egois. Artinya berdoa jangan untuk diri sendiri saja, melainkan keluarga hingga kepada anak dan cucu.

“Menjalani hidup harus membuka pikiran, membuka mata dan membuka hati,” beber Erina.

Karena menurutnya, sepeda menuju surga itu tidak ada boncengannya, artinya segala macam yang kita lakukan itu akan kembali kepada diri kita sendiri.

“Tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain,” kata dia.

Dan ketika dibenak muncul rasa malas, Erina menegaskan berpikirlah masih hidupkah saya esok hari?.

“Ingat, nasib itu bisa berubah dan diri kitalah sendiri yang mampu merubah nasib tersebut,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

GALERI 24 PKP PROMO ENTENG