KPK Sita Tiga Bidang Tanah Milik Andhi Pramono di Kabupaten Karimun

Salah satu aset Andhi Pramono yang disita KPK
Salah satu aset Andhi Pramono yang disita KPK. (Foto: Rmol)
HARRIS BARELANG

BATAM – Aset mantan Kepala Bea Cukai Makassar, Andhi Pramono di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau dikabarkan disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebelumnya, KPK juga telah menyita aset Andhi Pramono lainnya di Kota Batam seperti satu bidang tanah beserta bangunan seluas 840 meter persegi di Kompleks Grand Summit at Shoutlinks, Tiban Indah, Sekupang.

Kemudian, ada juga satu bidang tanah beserta bangunan di Perumahan Center View, dan satu bidang tanah seluas 1.674 M2 di Batu Besar, Nongsa.

Sedangkan aset lain Andhi Pramono yang ikut disita KPK adalah 14 ruko yang berlokasi di Kota Tanjung Pinang.

Di Kabupaten Karimun, komisi antirasuah menyita tiga bidang tanah milik Andhi Pramono yang berada di Kelurahan Darussalam, Kecamatan Meral.

Menurut Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri, penyitaan ini dipimpin oleh Kasatgas Pengelola Barang Bukti KPK, Ahmad Budi Ariyanto.

BACA JUGA Aktor Donny Kesuma Meninggal Dunia

“Ada 3 lokasi tanah dengan luas keseluruhan mencapai 5.911 meter persegi,” ujar Ali Fikri dilansir Sindonews.com, Senin (18/3/2024).

Ali menegaskan pihaknya akan terus melakukan penelusuran aset Andhi Pramono yang diduga terkait dengan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“Penelusuran aset-aset lain hingga saat ini tetap dilakukan dengan menggandeng dan melibatkan peran aktif dari Tim Aset Tracing dari Direktorat Pelacakan Aset Pengelolaan Barang Bukti dan Eksekusi KPK,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, mantan Kepala Bea Cukai Makassar, Andhi Pramono (AP) dijerat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus dugaan penerimaan gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Dalam kasus ini, Andhi diduga menerima gratifikasi Rp28 miliar dari para importir saat masih menjabat di Ditjen Bea Cukai. Uang tersebut didapat dari menjadi broker atau perantara para importir.

Uang gratifikasi Rp28 miliar itu dikumpulkan dari hasil gratifikasi selama 10 tahun sejak 2012 hingga 2022.

Andhi diduga mengumpulkan uang tersebut lewat orang kepercayaannya yang merupakan para pengusaha ekspor impor.

Andhi diduga menerima fee agar pengusaha mendapatkan kemudahan dalam mengurus izin ekspor impor di Bea Cukai. (mic)

Sumber: Sindonews.com

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

GALERI 24 PKP PROMO ENTENG