Kapolresta Barelang Ungkap 20 Kasus Penempatan PMI Ilegal

Kapolresta Barelang Ungkap 20 Kasus Penempatan PMI Ilegal
Polresta Barelang sepanjang Januari hingga Mei 2024 berhasil mengungkap 20 kasus PMI Ilegal (foto humas polresta barelang)

BATAM – Kapolresta Barelang, Kombes Pol Dr. Nugroho Tri N, mengungkap ada 20 kasus penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal atau non-prosedural selama Januari hingga Mei 2024.

Hal itu diungkap dalam konferensi pers, Jumat (31/5/2024). Turut hadir Kepala BP3MI Kepulauan Riau Kombes Pol Imam Riyadi, Kepala Imigrasi Batam Samuel Toba, Kasat Polair Polresta Barelang I Gusti Bagus Krisna Fuady, Kasihumas Polresta Barelang AKP Tigor Sidabariba, dan Kapolsek Kawasan Pelabuhan AKP Jaya Putra Tarigan.

Dalam konferensi pers tersebut, Kombes Pol Dr. Nugroho Tri N mengungkapkan bahwa dari Januari hingga Mei 2024, jajaran Polresta Barelang berhasil mengungkap 20 laporan polisi terkait PMI non-prosedural dengan 124 korban, yang terdiri dari 84 laki-laki dan 40 perempuan.

PKP EXPO

Sebanyak 24 tersangka telah diamankan, termasuk 16 laki-laki dan 8 perempuan.

Laporan polisi ini berasal dari Satreskrim (9 laporan), Satpolair (2 laporan), dan Polsek KKP (9 laporan).

“Pengungkapan ini adalah hasil koordinasi dan kerjasama yang baik antara Polresta Barelang, BP3MI, dan Imigrasi Kota Batam untuk menumpas PMI non-prosedural di kota ini,” ujar Nugroho Tri N.

Modus operandi para tersangka melibatkan meyakinkan calon PMI bahwa jalur yang mereka gunakan adalah jalur resmi, menjanjikan fasilitasi administrasi pemberangkatan, dan mengatur penampungan serta transportasi hingga ke Malaysia atau Singapura. Rata-rata korban berasal dari Jawa, NTT, dan Lombok.

Kasus menonjol yang diungkap termasuk korban berinisial Y. Dia diberangkatkan secara ilegal melalui Pelabuhan Rakyat Sagulung dengan menggunakan kapal kayu menuju Malaysia.

Korban disuruh berenang dari bibir pantai menuju daratan Malaysia dan ditangkap oleh tentara Malaysia setelah memasuki negara tersebut secara tidak resmi.

Korban Y menjalani hukuman kurungan di Malaysia selama 3 bulan sebelum dipulangkan ke Indonesia oleh KJRI.

Kasus kedua melibatkan korban berinisial NA dari Banyuasin, yang diberangkatkan secara non-prosedural melalui Pelabuhan Ferry Internasional Batam Center menuju Malaysia.

Korban NA mengalami penganiayaan dan pelecehan seksual oleh majikan di Malaysia sebelum akhirnya diselamatkan oleh KJRI dan dipulangkan ke Indonesia.

Kapolresta Barelang menghimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh oleh iming-iming gaji besar di luar negeri tanpa prosedur yang sah.

“Jika tertangkap, akan saya tindak tegas. Laporkan setiap aktivitas mencurigakan kepada kami,” tegasnya.

Kepala BP3MI Kepulauan Riau, Kombes Pol Imam Riyadi, mengapresiasi kinerja Polresta Barelang dalam penanganan PMI non-prosedural.

“Pengungkapan ini tidak hanya menyasar agen tingkat bawah, tetapi juga korporasi hingga tingkat nasional. Kami tidak main-main dalam menindak PMI non-prosedural,” ungkap Imam Riyadi.

Para tersangka dijerat dengan pasal 81 Jo Pasal 83 Jo Pasal 86 UU RI Nomor 18 Tahun 2017 Tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan denda hingga Rp15.000.000.000. (*/den)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

GALERI 24