WARTAKEPRI.co.id-Berada di jalur pelayaran international, letaknya strategis yang berbatasan langsung dengan tetangga, yakni Malaysia dan Singapura, membuat Kota Batam semakin dikenal sebagai kota hiburan.
Ditopang dengan infrastruktur dan fasilitas hiburan yang memadai, Batam terlihat begitu menjanjikan. Hal itulah yang membuat Batam, selalu ramai dengan aktivitas perdagangan dan pariwisata, sehingga mampu menarik animo wisatawan lokal maupun mancanegara untuk tetap datang berkunjung.
Berbicara tentang fasilitas hiburan di kota Melayu ini, sangat didominasi oleh keberadaan praktik prostitusi. Disudut, dan bahkan dijantung kota ini pun banyak ditemui berbagai macam tempat hiburan malam. Batam senantiasa menggeliat, tawarkan surga kepada para pencari kenikmatan duniawi.
Dengan adanya itu semua, tak jarang kota Batam banyak didatangi para penjaja kenikmatan. Mereka seakan nyaman dan tenteram seiring menjamurnya tempat asusila yang dikelola pebisnis esek-esek.
Tingginya bisnis esek-esek ini sesuai dengan penelusuran wartakepri.co.id terhadap seorang wanita inisial IB (32) di daerah Sagulung, Batuaji. Perempuan penjual syahwat ini mengatakan dirinya memilih kota Batam sebagai tempat bekerja dikarenakan ia sangat meyakini kota ini begitu menjanjikan. Bagaimana tidak, dalam setiap bulannya mampu mengumpulkan hasil lebih dari Rp15 juta. Dari penghasilannya dengan menjajakan diri ini, ia mampu mengurangi beban dari kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya.
Berangkat dari hidup serba kekurangan, wanita yang masih bersuami dan mempunyai 2 orang anak ini rela banting tulang ke Batam untuk bekerja sebagai PSK Massage plus-plus. Dengan dalih ke Batam hendak bekerja di PT, IB berlayar dalam kebohongan.
“Awalnya saya diajak seorang kawan, dia menawarkan untuk ikut bersamanya bekerja di Kota Batam. Segala cara dia lakukan untuk membujuk dan meyakinkan saya supaya bersedia ikut bersamanya. Tapi karena pada saat itu kondisi kehidupan lagi sulit, apalagi suami pengangguran, maka tawaran tersebut saya ambil dan berangkat dengan dia menuju Batam”, kenang IB.
Selama 2 tahun lebih berkecimpung sebagai penyaji birahi, dirinya merasa cukup puas dengan penghasilan yang diperolehnya. “Dalam satu bulan, saya bisa mengumpulkan uang sekitar 15 sampai 20 Juta Rupiah. Nominal penghasilan yang sebesar ini, sangatlah merubah kondisi kehidupan keluarga saya di kampung. Dimana disetiap bulannya saya telah mampu membantu dengan cara mengirimkan uang sebesar 10 Juta Rupiah ke kampung, dan saya begitu bangga karena telah mampu mendongkrak kesulitan ekonomi keluarga selama ini”, paparnya.
Terkadang pernah terlintas untuk tinggalkan pekerjaan ini, kata IB, namun ketakutan kembali alami masa sulit menjadi pengaruh seolah menuntut untuk selalu bertahan dalam profesi ini. Norma Agama, norma sosial kemasyarakatan yang dilanggarnya mengalahkan keterjepitan perekonomian yang sebelumnya selalu setia menemani keluarganya.
“Saya tak tahu apakah nanti setelah lepas dari pekerjaan ini, saya bisa diterima di tengah masyarakat. Sejujurnya saya sangat ingin jalani hidup normal tanpa berbuat hina, tapi masa panjang himpitan ekonomi yang saya alami bersama keluarga di kampung, membuat trauma yang tak mampu untuk saya lewati lagi”, paparnya murung penuh kesedihan. (ichsan)




























