WARTAKEPRI.co.id, NATUNA – Dari Graduated as General Practitioner on 2015 from Yarsi University Faculty of Medicine Cahaya Dewi Lestari menceritakan pengalaman menarik menjadi Tenaga Medis di Pulau Natuna.
” Awalnya saya berpikir nanti akan tinggal di hutan dikelilingi pohon-pohon, hewan liar atau menyebrang pulau saat merujuk pasien yang butuh perawatan lebih lanjut. Tampaknya teman saya pun berpikiran yang sama. Tidak, kami internsip tidak ditempatkan di anak pulaunya Natuna, tapi kami ditempatkan di daerah kota,” tutur Cahaya Dewi.
Sudah hampir 5 bulan saya dan teman-teman bertugas disini. Pertama kali saya melihat Natuna dari ketinggian (di dalam pesawat) yang terucap hanya. WOW! Masyaallah. Dari atas saja sangat indah.
Tempat bertugas saya yang pertama adalah di Puskesmas Ranai selama 4 bulan. Suasana yang sangat ramah dan nyaman membuat kami para tenaga medis menjadi akrab, sehingga kegiatan pelayanan kesehatan pun berjalan dengan baik.
” Saya pun sempat merasakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio. Namun yang masih menjadi kendala di Puskesmas Ranai adalah beberapa pasien datang hanya untuk meminta rujukan ke rumah sakit (RS), walaupun masih bisa ditangani di puskesmas,” jelas Cahaya
Tugas dokter adalah terus mensosialisasikan dan membangun kepercayaan masyarakat bahwa tidak semua penyakit harus dirujuk ke RS Umum Daerah yang fasilitasnya lebih lengkap.
Penyakit-penyakit dasar masih dapat ditangani dan diobati di Puskesmas. Hal ini tidak luput juga karena adanya dukungan program pemerintah daerah berupa Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang mengcover semua perawatan kepada semua lapisan masyarakat yang sakit.
RSUD Natuna merupakan RS tipe C yang mana memiliki tenaga dokter spesialis terbatas. “Disini kami memiliki dokter spesialis penyakit dalam, obgyn, dan bedah umum,” papar Cahaya lagi.
RS kami memiliki kerjasama dengan residen-residen di UI dan UNAIR. Biasanya ppds yang dikirim kemari adalah mereka yang sudah tingkatan akhir. Dahulu dokter-dokter spesialis disini adalah dokter-dokter PTT yang bekerja di pulau-pulau Natuna dan diberikan kesempatan untuk mengambil sekolah spesialis dan nantinya akan kembali mengabdi di Natuna.
Banyak ilmu yang saya dapat dari para senior yang sedang menjalankan residensi di RSUD Natuna, salah satunya tentang resusitasi neonatus atau cara mengatasi kegawatdaruratan pada bayi baru lahir.
Di Kepulauan Natuna, kami pernah merasakan bagaimana para dokter-dokter bersama-sama dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) malangsungkan pemilihan ketua dan anggota barunya pada awal tahun 2016.
Serta berpartisipasi dalam berlangsungnya symposium dan workshop pertama kali bagi IDI Natuna. Para dokter dari pulau-pulau di Kepulauan Natuna semua hadir mengikuti acara tersebut, terlihat dari antusiasme mereka demi meningkatkan wawasan ilmu kedokteran mereka, walaupun harus menempuh perjalanan hingga berjam-jam.
Harapan saya adalah semoga acara seperti ini dapat diadakan secara rutin agar menyambung tali silaturahmi para dokter di Kepulauan Natuna dan menarik minat para dokter lainnya untuk mengabdi di Kepulauan Natuna.
Internsip di perbatasan tentunya serba terbatas, terkadang persediaan telur kosong dan sangat sulit didapatkan. Menjadi salah satu internsip Natuna 2015 adalah salah satu pengalaman terbaik saya, karena saya belajar tentang apa itu keterbatasan dan bagaimana cara kita mengurangi keterbatasan itu.
Belajar mandiri, mendapatkan teman-teman baru, khususnya masyarakat asli Kepulauan Natuna, serta belajar memasak kebutuhan pangan sendiri, meskipun banyak waktu yang tersita dalam menjalani tugas sebagai dokter. So,let’s create the life you want today and make history. Salam hangat dari Pulau Terdepan NKRI. (rikyrivosky)
@wartakepri Terimakasih Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura partisipasi di Ulang Tahun ke 10 Media WartaKepri.co.id , ( 22 Desember 2015 - 22 Desember 2025) #hbd❤️ #wartakepritv #kepri #batam #wartakepri.co.id ♬ Happy Birthday to You acoustic guitar - C_O



























