Publik tengah dihebohkan dengan isu kebocoran data yang terjadi belakangan ini. Isu tersebut mencuat setelah dugaan kebocoran data dari internal lembaga pemerintah hingga badan usaha milik negara selama sebulan terakhir. Awalnya, hal itu diungkap di Breached Forum lewat pengguna bernama Bjorka. Bahkan, Bjorka telah menjual 1,3 miliar data registrasi kartu ponsel ini sebanyak 87 GB. Ia mendapatkan imbalan US$50 ribu atau Rp774 juta.
Tak hanya sampai disitu, setelah Bjorka membocorkan data orang nomor satu di Indonesia yaitu, Presiden Joko Widodo, dia juga membocorkan data dari Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate.
Tepat di hari ulang tahun Johnny hacker Bjorka menulis ‘Happy birthday’ di saluran Telegram Bjorkanism.
Tidak sampai di situ, dia juga mengunggah sebuah gambar yang berisi data-data pribadi Menkominfo. Data tersebut terdiri dari nomor telepon, nama, jenis kelamin, Kartu Keluarga (KK), Nomor Induk Kependudukan (NIK), tanggal lahir, pekerjaan, pendidikan, agama, golongan darah, status pernikahan, status keluarga, ayah, ibu, istri dan ID vaksin.
Tak lama setelah membocorkan data pribadi Johnny G Plate, Bjorka membuat cuitan terkait alasan dirinya membocorkan data pribadi Menkominfo tersebut.
BACA JUGA Tuding Denny Siregar “Kadrun”, Hacker Bjorka Buka Data Anies Baswedan
BACA JUGA Menelusuri Arti Nama Bjorka, Hacker yang Ngaku Orang Korban Orde Baru
“Ini adalah era baru untuk menunjukkan secara berbeda. Tidak ada yang akan berubah jika orang bodoh masih diberi kekuatan yang sangat besar. Pemimpin tertinggi dalam teknologi harus ditugaskan kepada seseorang yang mengerti, bukan politisi dan bukan seseorang dari angkatan bersenjata. Karena mereka hanyalah orang-orang bodoh,” tulis cuitan akun twitter @bjorkanism, Minggu 11 September 2022.
Selain menyebut Johnny G Plate bodoh, Bjorka juga menyebuat jabatan Menteri Komunikasi dan Informatika tak pantas diberikan kepada politisi dan anggota militer.
Selanjutnya Bjorka juga menyebut bagaimana dirinya dengan mudah meretas perlindungan data yang buruk di Indonesia. Menurutnya ia meretas untuk temannya seorang WNI yang berdomisili di Warsawa (Ibu Kota Polandia).
“Saya hanya ingin menunjukkan betapa mudahnya bagi saya untuk masuk ke berbagai pintu karena kebijakan perlindungan data yang buruk. Apalagi jika dikelola oleh pemerintah. Saya punya teman orang Indonesia yang baik di Warsawa, dan dia bercerita banyak tentang betapa kacaunya Indonesia. Aku melakukan ini untuknya,” ujar Bjorka. (*/vivanews)






























