Home Nasional Jejak Kerajaan Indraprahasta di Lereng Gunung Ciremai dan Beberapa Nama Kerajaan di...

Jejak Kerajaan Indraprahasta di Lereng Gunung Ciremai dan Beberapa Nama Kerajaan di Tanah Sunda

Foto IA, Kerajaan Indraprahasta adalah kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Pulau Jawa
Foto IA, Kerajaan Indraprahasta adalah kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Pulau Jawa
PANBIL IMLEK

Terbukti tanah Sunda telah mencatat begitu banyak kerajaan kuno yang tentunya menjadi kekayaan sejarah kerajaan di Nusantara yang memang telah ada sejak dulu kala. Salah satu kerajaan yang kerap disebutkan sebagai kerajaan tertua adalah Kerajaan Salakanagara. Klaim kerajaan tertua milik Salakanagara, tertuang dalam Pustaka Rajnyarajya i Bhumi Nusantara dan Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa. Pustaka ini merupakan bagian dari Naskah Wangsakerta yang diperkirakan dibuat pada tahun 1.600-an. Selain Salakanagara juga tercatat ada Tarumanagara, Agrabinta, Malabar dan Kerajaan Indraprahasta.

Sekitar 17 abad yang lalu tepatnya tahun 285 Saka atau 363 Masehi di lereng Gunung Ciremai atau kini dikenalnya sebagai Cirebon Girang pernah berdiri suatu kerajaan yang tumbuh berbarengan dengan munculnya Tarumanagara yakni Kerajaan Indraprahasta, yang didirikan oleh Maharesi Santanu sekaligus sebagai raja pertamanya.

Maharesi Santanu adalah menantu dari Dewawarman VIII raja Salakanagara karena menikahi salah satu putrinya yaitu Dewi Indari sehingga kedudukan Indraprahasta pada saat itu menjadi bawahan dari Salakanagara.

WhasApp

Salakanagara yang beribukota Rajatapura berlokasi di sekitar Pulasari, Pandeglang ini yang dinisbahkan sebagai ‘Argyre’ atau kota perak yang terdapat dalam catatan Claudius Ptolomeus, orang Yunani ahli geografi dari Aleksandria. Dalam bukunya, Geographia (tahun 150 Masehi) tercatat; “Di sebelah timur ada Iabadiou yang subur serta menghasilkan emas.

Di ujung barat Iabadiou terletak kota Argyre. Iabadiou dapat ditempuh setelah melewati 5 pulau Barousai dan 3 pulau Sabadibai.” Yang dimaksud Iabadiou oleh Ptolemeus adalah Yawadiwu (bahasa Parkit) atau Yawadwipa (bahasa Sansekerta).

Sedangkan Argyre yang berarti kota perak sama maknanya dengan Rajatapura.

Daftar nama raja-raja Kerajaan Salakanagara atau yang dikenal dengan sebutan Dinasti Dewawarman sebagai berikut :

1. Dewawarman I dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara yang memerintah dari tahun 130 M hingga 168 M (38 tahun).

2. Dewawarman II dengan nama Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra yang memerintah dari tahun 168 M – 195 M (27 tahun).

3. Dewawarman II dengan gelar Sangasagara Bimayasawirya yang memerintah dari tahun 195 M – 238 M (43 tahun).

4. Dewawarman IV, aslinya merupakan Raja Ujung Kulon yang bernama Darma Satyanagara. Ia menikahi putri Dewawarman III, yaitu Tirta Lengkara dan memerintah dari tahun 238 M – 252 M (14 tahun).

5. Dewawarman V yang bernama Darmastayajaya, ia menikahi putri sulung Dewawarman IV yaitu, Mahisasuramardini Warmandewi dan memerintah dari tahun 252 M – 276 M (24 tahun. Ia juga dikenal sebagai Sang Mokteng Samudera (mendiang di lautan).

6. Dewawarman V juga merupakan Senapati Sarwajala (panglima Angkatan Laut). Sayangnya, ia gugur pada saat menghadapi perompak karena dipanah dari belakang. Oleh sebab itu, kekuasaannya dilanjutkan oleh istrinya dari tahun 276 M – 289 M.

7. Dewawarman VI dengan nama Prabu Ganayanadewa yang memerintah dari tahun 289 M – 308 M.

8. Dewawarman VII dengan gelar Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati dan memerintah dari tahun 308 M – 340 M.

9. Rani (Ratu) Salakanagara, putri sulung dari Dewawarman VII dengan nama Spatikarnawa Warmandewi yang memerintah dari tahun 340 M – 348 M (8 tahun). Ia melepaskan tahtanya saat menikah dengan Dewawarman VII.

10. Dewawarman VIII, raja dengan gelar Prabu Darmawirya Dewawarman yang memerintah dari tahun 348 M – 363 M (15 tahun). Di bawah pemerintahannya, Salakanagara berada pada masa jayanya.

Dewawarman VIII dianggap sebagai raja terakhir dari kerajaan ini karena putra bungsunya yang menjadi Dewawarman IX telah menjadi raja bawahan Tarumanegara karena kerajaan tersebut menjadi besar dan kuat.

Masa kejayaan dari Salakanagara terjadi di bawah pemerintahan Dewawarman VIII atau raja terakhir yang memerintah. Majunya kerajaan ini tercermin melalui negara yang subur dan makmur serta kehidupan keagamaan yang maju.

Kemajuan keagamaan pada Salakanagara ditunjukkan oleh para rakyatnya yang menganut agama Wisnu, memuja Siwa, memuja Ganesha, memuja Siwa Wishnu. Namun, rakyat Salakanagara paling banyak melakukan pemujaan kepada Ganesha atau Ganapati.

Meskipun Salakanagara tidak meninggalkan peninggalan fisik seperti candi atau prasasti, jejak kekuasaannya dianggap sebagai fondasi awal bagi kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti Pajajaran, Sriwijaya, dan Majapahit.

Pendiri kerajaan Indraprahasta, Maharesi Santanu adalah seorang pendeta Syiwa yang asalnya dari kawasan sungai Gangga. Datang ke Jawa Barat sebagai pengungsi dari kerajaan Calankayana untuk menyelamatkan diri dari gempuran pasukan kerajaan Samudra Gupta Maurya yang sedang berperang di India.

Sang Maharesi Santanu masih ada hubungan kekeluargaan dengan Sang Prabu Darmawirya Dewawarman VIII sehingga diijinkan mendirikan desa di wilayah Salakanagara.

Maharesi Santanu kemudian mendirikan desa di ujung timur Salakanagara di tepi sungai Cirebon, yang diberi nama desa Indraprahasta. Gunung Ciremai yang ada di wilayahnya dinamakan gunung Indrakila. Sungai yang mengalir di desanya dinamakan Gangganadi.

Di salah satu bagian aliran sungai Cirebon itu diperluas dan diperdalam sehingga menyerupai telaga yang oleh penduduk Indraprahasta disebut Setu Gangga. Desa Indraprahasta lama-kelamaan mekar menjadi kota sehingga akhirnya menjadi sebuah kerajaan.

Maharesi Santanu memerintah di Indraprahasta sebagai raja yang pertama dari tahun 285 – 320 saka atau 363 – 398 M dengan gelar Praburesi Indraswara Salakakretabuwana. Selanjutnya Indraprahasta dipimpin oleh putra sulungnya dari permaisuri Indari yaitu Jayasatyanagara dari tahun 320 – 343 saka atau 398 – 421 M.

Pada masa kepemimpinannya, pada tahun 399 M Jayasatyanagara tunduk menyerah pada kekuasaan Sri Maharaja Purnawarman sehingga Indraprahasta menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara.

Permaisurinya adalah Ratnamanik putri dari Wisnubumi raja kerajaan Malabar di kaki gunung Malabar (kabupaten Bandung saat ini).

Putra Jayasatyanagara yang menjadi raja Indraprahasta ketiga adalah Wiryabanyu yang memerintah dari tahun 343 – 366 saka atau 421 – 444 M. Permaisurinya adalah Nilem Sari putri dari kerajaan Manukrawa (bisa jadi persisnya di tepi sungai Cimanuk, atau mungkin saja yang disebut Pamanukan sekarang ini).

Di masa pemerintahannya, Wiryabanyu membantu Wisnuwarman putra dari Purnawarman raja Tarumanagara menumpas pemberontakan Candrawarman pada tahun 437 M sehingga atas keberhasilannya, putri Wiryabanyu yaitu Suklawati diperistri oleh Wisnuwarman dan prajurit-prajurit Indraprahasta dipakai sebagai pasukan bayangkara Tarumanagara.

Putra Wiryabanyu yang lain yakni Warna Dewaji melanjutkan kepemimpinannya sebagai raja Indraprahasta keempat sejak tahun 366 – 393 saka atau 444 – 471 M.

Anak Warna Dewaji yang menduduki tahta Indraprahasta kelima adalah Raksahariwangsa yang memerintah mulai tahun 393 – 429 saka atau 471 – 507 M dengan abhiseka Prabu Raksahariwangsa Jayabhuwana.

Yang menjadi permaisurinya putri dari raja Sanggarung dan memiliki putri yang bernama Dewi Rasmi. Dewi Rasmi bersuamikan Tirtamanggala putra kedua dari raja Agrabinta.

Sepeninggal Raksahariwangsa, pada tahun 429 – 448 saka atau 507 – 526 M yang berkuasa di Indraprahasta adalah Dewi Rasmi bersama suaminya yang bergelar Prabu Tirtamanggala Darmagiriswara. Putranya dua orang yakni Astadewa dan Jayagranagara.

Kemudian Astadewa mewarisi tahta Indraprahasta ketujuh sejak tahun 448 – 462 saka atau 526 – 540 M dan berputra Rajaresi Padmayasa.

Setelah empat belas tahun memerintah, kedudukan Astadewa digantikan oleh adiknya yaitu Jayagranagara sebagai raja Indraprahasta kedelapan yang berkuasa dari tahun 462 – 468 saka atau 540 – 545 M. Hanya lima tahun berkuasa, tahta turun ke keponakannya, Rajaresi Padmayasa putra dari Astadewa.

Masa pemerintahannya sebagai raja Indraprahasta kesembilan berlangsung cukup lama, sejak tahun 468 – 512 saka atau 545 – 589 M dan berputrakan Andabuwana. Andabuwana juga berkuasa cukup lama, menggantikan posisi ayahnya menjadi raja Indraprahasta kesepuluh semenjak tahun 512 – 558 saka atau 589 – 635 M. Tahta Indraprahasta kesebelas turun ke putranya yang bernama Wisnumurti mulai tahun 558 – 583 saka atau 635 – 660 M.

Putrinya Wisnumurti yang bernama Dewi Ganggasari diperistri oleh Linggawarman, raja Tarumanagara yang keduabelas. Sedangkan putranya, saudara Dewi Ganggasari yang bernama Tunggulnagara diangkat sebagai penerus Wisnumurti untuk menduduki jabatan raja Indraprahasta keduabelas sejak tahun 583 – 629 saka atau 660 – 706 M.

Putranya, dengan gelar Resiguru Padmahariwangsa menjadi raja Indraprahasta ketigabelas menggantikan kedudukan Tunggulnagara mulai tahun 629 – 641 saka atau 706 – 718 M.

Anak-anak Padmahariwangsa yaitu, Citrakirana yang diperistri oleh Purbasora, lalu Wiratara yang meneruskan tahta Indraprahasta dan Ganggakirana yang suaminya menjadi Adipati Kusala dari kerajaan Wanagiri bawahan Indraprahasta.

Raja Indraprahasta keempatbelas dan yang terakhir adalah Wiratara yang bergelar Prabu Wiratara dan memerintah dari tahun 641 – 645 saka atau 718 – 723 M.

Prabu Wirataralah yang membantu dan mensponsori Purbasora untuk merebut kekuasaan Galuh dari Prabu Sena. Sehingga pada tahun 645 saka atau 723 masehi, Sanjaya pendiri kerajaan Mataram Kuno putra dari Prabu Sena yang beribukan Sannaha menuntut balas atas kematian ayahnya.

Setelah Galuh diobrak-abrik dan ditaklukan, Sanjaya memutuskan untuk menumpas juga para pendukung Purbasora terutama Indraprahasta. Pada tahun ini Indraprahasta diserbu oleh Sanjaya sehingga Indraprahasta yang didirikan sejak jaman Tarumanagara akhirnya diratakan dengan tanah seolah tidak pernah ada kerajaan di Cirebon Girang. ” Indraprahasta sirna ing bhumi.”

Prabu Wiratara, raja Indraprahasta keempat-belas gugur di medan perang, keluarganya tewas binasa semua. Kerajaan warisan Sang Maharesi Santanu yang didirikan tahun 363 Masehi lenyap. Kedudukannya sebagai Dharmasima (negara mereka yang dilindungi sebagai negeri nenek moyang) telah berakhir.

Bekas wilayah Indraprahasta oleh Sanjaya dipasrahkan kepada Adipati Kusala, Raja Wanagiri, menantu Sang Rajaresi Padmahariwangsa, suaminya Ganggakirana.

Kerajaan Wanagiri yang menjadi pengganti kerajaan Indraprahasta menjadi bawahan kerajaan Galuh. (Abad ke-15 Masehi, kerajaan Wanagiri menjadi Kerajaan Cirebon Girang).

Kerajaan Indraprahasta didirikan oleh seorang resi dan banyak pula raja-raja penerusnya merangkap sebagai resi atau guru. Begitu pula Kerajaan Cirebon Islam (saya mengikuti metode Ahmad Mansyur Suryanegara untuk membedakan corak suatu kerajaan), didirikan oleh ulama agung sekaligus negarawan besar begitu pun para penggantinya.

Jelasnya, Cirebon sejak dahulu kalanya terbentuk oleh iklim religius yang kental dan militan karena prajurit-prajuritnya yang gagah berani dan mahir berperang sering diminta untuk membantu raja-raja lain.

Sebagaimana sebagian yang telah disebutkan dalam tulisan diatas, ternyata keberadaan kerajaan di tanah Sunda sejak Salakanagara dan Tarumanagara tercatat sebagai berikut yang kesemuanya merupakan kerajaan bawahan Kerajaan Tarumanagara, yaitu:

1. KERAJAAN SALAKANAGARA

2. KERAJAAN INDRAPRAHASTA

3. KERAJAAN KENDAN

4. KERAJAAN CUPUNAGARA, Di kerajaan ini mengalir sungai Cupu, karena itu kerajaan ini dinamai Cupunagara. Raja yang terkenal dari kerajaan ini bernama Prabu Satyaguna. Sang raja memilik puteri sulung yang menikah dengan Cakrawarman (adik Maharaja Purnawarman yang menjadi pemberontak di masa kekuasaan Wisnuwarman / raja Tarumanagara ke-4). Dalam peristiwa pemberontakan yang dilakukan menantunya ini, Prabu Satyaguna dihadapkan pilihan yang dilematis.

Saat komplotan Cakrawarman terdesak oleh pasukan Tarumanagara dan kemudian bersembunyi di sebuah hutan wilayah Cupunagara, Prabu Satyaguna sebenarnya ingin memberikan bantuan kepada sang menantu.

Apalagi saat itu, Cakrawarman dengan tegas memohon pertolongan serta meminta izin kepada Prabu Satyaguna untuk mendirikan kerajaan baru di wilayah Cupunagara, sebagai kerajaan tandingan dari Tarumanagara.

Tetapi, Prabu Satyaguna tidak bisa mengabulkan permohonan itu karena merasa takut oleh kebesaran Tarumangara, disamping itu dua orang anaknya yang lain memiliki hubungan kerja dan kekerabatan dengan Tarumanagara (puterinya yang ke-2 menikah dengan seorang menteri Tarumangara, sedangkan puteranya yang ke-3 menjadi senapati angkatan laut Tarumanagara).

Dengan perasaan bimbang, akhirnya Prabu Satyaguna memutuskan untuk memberikan pertolongan dalam bentuk pemberian perbekalan dan senjata, tetapi dengan syarat Cakrawarman harus meninggalkan wilayah kerajaan Cupunagara. (cerita selengkapnya mengenai pemberontakan Cakrawarman telah dibahas pada bab Tarumanagara, sub-Wisnuwarman).

Perkembangan selanjutnya dari kerajaan ini, terjadi setelah diperintah oleh Nagajaya. Tokoh ini kemudian menikah dengan Mayasari (putri raja Taurmanagara ke-10).

Setelah mertuanya dibunuh, Nagajaya berhasil menewaskan sang pembunuh raja tarumanagara itu melalui perkelahian yang sengit. Karena ikatan pernikahan dan jasanya yang besar bagi Tarumangara, maka dia dinobatkan menjadi raja Tarumanagara.

Setelah Nagajaya menjadi raja Tarumanagara, tahta kerajaan Cupunagara diserahkan pada adiknya yang bernama Jayaguna.

5. KERAJAAN NUSA SABAY, Tokoh yang terkenal dari kerajaan ini bernama Sagarantaka. Tokoh ini merupakan seorang Kesatria dari Kerajaan Nusa Sabay yang ikut mendukung Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.

6. KERAJAAN PURWANAGARA, Tokoh yang terkenal dari kerajaan ini bernama Tegalaksana. Tokoh ini merupakan seorang menteri Purwanagara yang ikut mendukung Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.

7. KERAJAAN UJUNG KULON

8. KERAJAAN GUNUNG KIDUL, Tokoh yang terkenal dari kerajaan ini bernama Jayagiri. Tokoh ini merupakan putra mahkota yang ikut mendukung Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.

9. KERAJAAN PURWALINGGA, Lokasi kerajaan ini berada di kota Purbalingga, Jawa Tengah (sekarang). Tokoh yang terkenal dari kerajaan ini bernama Surayuda. Tokoh ini merupakan seorang tumenggung Purwalingga yang ikut mendukung Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.

10. KERAJAAN AGRABINTA, Kerajaan ini merupakan kerajaan yang setia terhadap kedaulatan yang ada di Tarumanagara. Wujud kesetiaanya adalah pengiriman pasukan bantuan untuk Tarumanagara di saat kerajaan “induk” itu mengalami pemberontakan Cakrawarman.

Pengiriman bala bantuan ini kemungkinan dilakukan karena Kerajaan Agrabinta merasa malu kepada Tarumanagara setelah salah seorang menteri-nya yang bernama Purnawangi menjadi “antek-antek” Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.

11. KERAJAAN GUNUNG MANIK, Disebut juga Kerajaan Manikparwata.

12. KERAJAAN SABARA, Kerajaan ini juga merupakan kerajaan yang setia terhadap Tarumanagara. Sama halnya seperti Kerajaan Agrabinta, wujud kesetiaanya itu diperlihatkan dengan mengirimkan pasukan bantuan untuk bergabung dengan pasukan inti Tarumanagara dalam usaha menumpas pemberontakan Cakrawarman.

Namun, tidak semua dari pembesar kerajaan ini yang setia pada Tarumanagara. Sejarah mencatat, seorang Panglima dari kerajaan ini yang bernama Jayagana, ikut mendukung Cakrawarman dalam usaha pemberontakan di Tarumanagara.

Sungguh ironis memang, di satu sisi Sabara ikut menumpas pemberontakan Cakrawarman, tetapi di sisi lain salah seorang panglima-nya malah mendukung pemberontakan Cakrawarman.

13. KERAJAAN BUMI SAGANDU, Kerajaan ini berjasa dalam membantu Tarumangara bersama-sama dengan pasukan sekutu Tarumanagara lainnya saat berhasil menaklukan komplotan Cakrawarman di wilayah Girinata.

14. KERAJAAN LEGON, Seperti kebanyakan kerajaan bawahan Tarumanagara lainnya. Kerajaan Legon juga sangat setia terhadap Tarumanagara. Pasukan dari Legon yang bisa diandalkan, ikut berperan serta dalam menumpas pemberontakan Cakrawarman.

15. KERAJAAN MANUKRAWA, Berdiri sekitar abad ke-4, berlokasi di tepi sungai Sarasah / Manukrawa (sekarang bernama Cimanuk). Kerajaan ini berjasa dalam membantu Tarumangara saat berhasil menumpas pemberontakan Cakrawarman. Pasukan Kerajaan Manukrawa dipimpin oleh Welutbraja, bergabung dengan pasukan sekutu Tarumanagara lainnya melalui jalur sungai untuk menggempur komplotan Cakrawarman yang saat itu berada di Girinata.

(cerita selengkapnya mengenai pemberontakan Cakrawarman dibahas pada bab Tarumanagara, sub-Wisnuwarman).

Diduga akibat terjadi musibah banjir bandang sungai Cimanuk, kerajaan ini berakhir riwayatnya dan kembali menjadi hutan belantara (sebelum Aria Wiralodra yang mendirikan Darma Ayu datang ke wilayah ini – lihat Darma Ayu).

16. KERAJAAN MALABAR, Kerajaan ini berlokasi di kaki Gunung Malabar (sekarang wilayah Bandung Selatan). Raja yang terkenal dari kerajaan ini adalah Wisnubumi. Raja ini memiliki seorang puteri yang bernama Citra Kirana, puteri ini kemudian menikah dengan Wiryabanyu (raja Indraprahasta ke-3).

17. KERAJAAN SINDANG JERO, Kerajaan ini turut berjasa dalam membantu Tarumangara mengatasi pemberontakan Cakrawarman. Pasukan Kerajaan Sindang Jero pimpinan Panglima Pasukan Darat yang bernama Bonggol Bumi, bergabung dengan pasukan gabungan kerajaan bawahan Tarumanagara lainnya untuk menyerang Cakrawarman dan pengikutnya yang bemarkas di Girinata.

18. KERAJAAN WANAGIRI

19. KERAJAAN GALUH WETAN atau Disebut juga Kerajaan Purwagaluh.

20. KERAJAAN GUNUNG KUBANG atau Disebut juga Kerajaan Kubanggiri.

21. KERAJAAN GUNUNG BITUNG atau Disebut juga Kerajaan Bitunggiri.

22. KERAJAAN SUNDA SEMBAWA, Kata “Sembawa” dari nama kerajaan ini berarti awal atau asli. Kelak dari kerajaan ini muncul seorang tokoh yang mendirikan Kerajaan Sunda (tanpa akhiran “sembawa”). Tokoh yang terkenal tersebut bernama Tarusbawa.

Asal mula keberadaan Kerajaan Sunda berasal dari cerita bahwa Tarusbawa menikah dengan Dewi Manasih (puteri sulung Linggawarman / raja Tarumanagara).

Setelah Linggawarman turun tahta, maka kekuasaan Tarumanagara jatuh pada Tarusbawa. Mulai pada periode kekuasaannya itulah, Tarusbawa mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda.

23. KERAJAAN SINGANAGARA, Kerajaan ini berjasa dalam membantu Tarumangara bersama-sama dengan pasukan sekutu Tarumanagara lainnya saat berhasil menaklukan komplotan Cakrawarman di wilayah Girinata.

24. KERAJAAN SINDU GUMITA, Kerajaan ini berjasa dalam membantu Tarumangara bersama-sama dengan pasukan sekutu Tarumanagara lainnya saat berhasil menaklukan komplotan Cakrawarman di wilayah Girinata.

25. KERAJAAN DUA KALAPA

26. KERAJAAN PASIR MUHARA

27. KERAJAAN PASIR SANGGARUNG

28. KERAJAAN INDIHIYANG

29. KERAJAAN KARANG SINDULANG

30. KERAJAAN GUNUNG CUPU

31. KERAJAAN CANGKUANG

32. KERAJAAN PURWAKERTA

33. KERAJAAN PALADU

34. KERAJAAN KOSALA

35. KERAJAAN SAGARA KIDUL

36. KERAJAAN ALENGKA

37. KERAJAAN TANJUNG KALAPA

38. KERAJAAN PAKUAN SUMURWANGI

39. KERAJAAN KALAPA GIRANG

40. KERAJAAN SAGARA PASIR

41. KERAJAAN RANGKAS

42. KERAJAAN PURA DALEM

43. KERAJAAN LINGGADEWATA

44. KERAJAAN TANJUNG CAMARA

45. KERAJAAN WANADATAR

46. KERAJAAN SETYARAJA

47. KERAJAAN JATI AGEUNG

48. KERAJAAN WANAJATI

Semoga tulisan bermanfaat, mohon masukannya bila ada yang mesti dilengkapi dan dikoreksi sebagai upaya penyempurnaan tulisan kedepannya. Terima kasih. Disain dari wartapasundan.(*)

oleh : Kang Oos Supyadin, Pemerhati Kesejarahan dan Budaya

Google News WartaKepri DPRD BATAM 2025

@wartakepri Terimakasih Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura partisipasi di Ulang Tahun ke 10 Media WartaKepri.co.id , ( 22 Desember 2015 - 22 Desember 2025) #hbd❤️ #wartakepritv #kepri #batam #wartakepri.co.id ♬ Happy Birthday to You acoustic guitar - C_O