JAKARTA – Bank Indonesia meluncurkan Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) sebagai pemenuhan kewajiban Bank Indonesia untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat secara terbuka ke masyarakat. Gubernur BI Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam sambutannya, menyampaikan bahwa setelah melewati berbagai tantangan global sejak 2020, ekonomi Indonesia berada pada jalur pemulihan yang semakin solid dan berpeluang tumbuh lebih tinggi pada periode 2026–2027.
“Setelah melewati tahun-tahun yang penuh ujian, mari kita bangun optimisme. Insya Allah, tahun 2026 dan 2027 ekonomi Indonesia akan menjadi lebih baik,” ujar Perry disela-sela Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia pada Rabu (28/1/2026) pagi.
Bank Indonesia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap kuat dan stabil. Setelah tahun 2025, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 4,7–5,5 persen, kemudian meningkat pada 2026 di rentang 4,9–5,7 persen, dengan titik tengah sekitar 5,3 persen.
“Optimisme itulah yang akan membawa ekonomi kita tumbuh lebih tinggi. Kalau kita terus ‘wait and see’ (menunggu), kita akan ketinggalan kereta,” tegasnya.
Perekonomian Indonesia pada 2025
Bank Indonesia mencatata, perekonomian Indonesia pada 2025 tetap berkinerja baik dan berdaya tahan di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global. Stabilitas tetap terjaga dengan inflasi yang tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% serta nilai tukar Rupiah yang terkendali didukung komitmen kuat Bank Indonesia.
Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dan digitalisasi sistem pembayaran meningkat pesat, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi tahun 2025. Sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional yang kuat antara Pemerintah dan Bank Indonesia merupakan kunci dari ketahanan perekonomian nasional terhadap gejolak eksternal.
Ke depan, sinergi bauran kebijakan perlu makin dipererat guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berdaya tahan menuju Indonesia Emas 2045.
Arah Bauran Kebijakan Bank Indonesia Tahun 2026: Mendorong Pertumbuhan, Menjaga Stabilitas
Bauran (campuran) kebijakan Bank Indonesia pada 2026 akan terus diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga
stabilitas. Arah bauran kebijakan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa siklus ekonomi dan siklus keuangan Indonesia masih di bawah potensial dan sedang meningkat menuju optimal pada sekitar tahun 2027-2028.
Dalam siklus ekonomi, hal ini tecermin pada prakiraan inflasi yang akan tetap terkendali pada sasaran 2,5±1% pada tahun 2026 dan 2027 mendatang, serta
pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah kapasitas output nasional dalam kisaran 4,9-5,7% dan 5,1-5,9% pada periode yang sama.
Sementara dalam siklus keuangan, pertumbuhan kredit diprakirakan masih di bawah tingkat optimal, yaitu 8-12% pada 2026 dan 9-13% pada 2027. Ke depan, sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia dengan kebijakan Pemerintah dan KSSK akan terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan berdaya tahan, dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan menuju Indonesia Emas.
Kebijakan moneter Bank Indonesia pada tahun 2026 akan diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar Rupiah dengan
tetap memanfaatkan ruang penurunan suku bunga BI-Rate untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Ekonomi dan Keuangan Digital
Bank Indonesia akan terus mengakselerasi Ekonomi dan Keuangan Digital (EKD) untuk generasi mendatang dengan mengacu pada Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030.
Arah kebijakan sistem pembayaran pada 2026 difokuskan untuk mempercepat kemajuan digitalisasi guna lebih mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui lima langkah pokok.
Pertama, dari sisi infrastruktur sistem pembayaran, Bank Indonesia akan melakukan pengembangan New BI-FAST dan fast payment industri, modernisasi BI-RTGS, dan infrastruktur data pembayaran yang saling 3i (interkoneksi, integrasi, dan interoperabilitas) untuk perumusan kebijakan, pengembangan bisnis industri, dan kepentingan publik.
Kedua, dari sisi konsolidasi Industri, Bank Indonesia akan memperkuat digitalisasi sistem pembayaran pada perbankan dan mendorong interlink antara bank dan fintech, serta reformasi regulasi untuk konsolidasi industri sistem pembayaran dan penataan Industri Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) agar integritas pembayaran lebih kuat.
Ketiga, dari sisi Inovasi dan akseptasi digital, Bank Indonesia berkolaborasi dengan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) untuk inovasi dan
akseptasi pembayaran digital secara seimbang dengan pelindungan konsumen melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia/PIDI, kampanye, dan
edukasi-literasi masyarakat.
Keempat, dari sisi internasionalisasi pembayaran, Bank Indonesia akan memperluas kerja sama internasional sistem pembayaran ritel baik secara bilateral
maupun multilateral dalam pengembangan NEXUS.
Kelima, dari sisi pengembangan Rupiah Digital, Bank Indonesia akan melanjutkan tahap eksperimentasi lanjutan dengan fokus pada pengembangan Securities Ledger.
Editor Dedy Suwadha
@wartakepri Terimakasih Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura partisipasi di Ulang Tahun ke 10 Media WartaKepri.co.id , ( 22 Desember 2015 - 22 Desember 2025) #hbd❤️ #wartakepritv #kepri #batam #wartakepri.co.id ♬ Happy Birthday to You acoustic guitar - C_O


























