
BATAM – Dua nelayan tradisional asal Desa Pecong, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam, Kepulauan Riau, akhirnya kembali ke tanah air setelah sempat hanyut hingga memasuki perairan Malaysia akibat kehabisan bahan bakar saat melaut.
Kedua nelayan tersebut diketahui bernama Sdn dan Mdi. Mereka ditemukan dalam kondisi selamat usai mengalami situasi darurat di wilayah perbatasan laut Indonesia–Malaysia pada akhir April 2026.
Proses pemulangan keduanya berlangsung melalui koordinasi lintas negara yang melibatkan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru bersama sejumlah instansi dari Indonesia dan Malaysia. Operasi kemanusiaan itu dilakukan secara aman dan humanis demi memastikan keselamatan kedua warga negara Indonesia tersebut.
Selama menunggu proses administrasi dan pemulangan, kedua nelayan beserta perahu bermesin 250 PK milik mereka ditampung sementara di Tempat Singgah Sementara (TSS) KJRI Johor Bahru. Langkah itu dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan dan keselamatan keduanya tetap terjaga.
Puncak proses pemulangan dilakukan melalui mekanisme serah terima di laut atau rendezvous pada titik koordinat perbatasan perairan Indonesia–Malaysia yang telah disepakati kedua pihak.
BACA JUGA Gerak Cepat Satpolairud, Dua Nelayan Karimun Diselamatkan Setelah Hanyut ke Perairan Malaysia
Satgas Pelindungan WNI KJRI Johor Bahru bersama Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) Zona Tanjung Sedili mengawal keberangkatan kedua nelayan menuju garis sempadan laut. Selanjutnya, proses serah terima dilakukan secara resmi kepada personel Satpolairud Polresta Barelang yang menggunakan Kapal Patroli Petir-28-1001.
Konsul Jenderal RI Johor Bahru, Sigit Widianto, mengapresiasi soliditas kerja sama antarinstansi yang terlibat dalam proses penyelamatan dan pemulangan kedua nelayan tersebut.
“Sinergi yang kuat antarinstansi ini memastikan proses pelindungan dan fasilitasi pemulangan warga negara kita dapat berjalan dengan cepat, aman, dan lancar,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang terlibat, di antaranya APMM Negeri Johor, APMM Zona Tanjung Sedili, Satpolairud Polresta Barelang, Polda Kepri, KPLP Batam, KSOP Batam hingga Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa nelayan tradisional yang beraktivitas di wilayah perbatasan memiliki risiko tinggi menghadapi cuaca buruk, kerusakan mesin maupun kehabisan bahan bakar di tengah laut.
Kini, kedua nelayan telah tiba kembali di Batam bersama perahu mereka dalam kondisi selamat. Pemerintah Indonesia melalui KJRI Johor Bahru menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pelindungan maksimal kepada warga negara Indonesia yang menghadapi situasi darurat di luar negeri, termasuk di wilayah perairan perbatasan.(*/gartta)
Kiriman : Yudi


























