WARTAKEPRI.co.id, TANJUNGPINANG – Pulau Paku di Selat Riau menjadi panggung budaya dalam Pagelaran Seni Silat Nusantara bertajuk *“Jejak Perjuangan di Pulau Paku”* yang melibatkan lima perguruan silat se-Kota Tanjungpinang, Sabtu (23/5/2026) sore.
Kegiatan berlangsung aman dan tertib dengan pengawalan dari jajaran Satpolairud Polresta Tanjungpinang bersama Polsek Tanjungpinang Barat. Ratusan masyarakat memadati area dermaga Pulau Paku untuk menyaksikan pertunjukan seni bela diri tradisional yang sarat nilai sejarah dan budaya Melayu.
Pemilihan Pulau Paku sebagai lokasi kegiatan dinilai memiliki makna historis yang kuat. Pulau kecil yang berada tepat di hadapan Pulau Penyengat itu merupakan bagian dari sistem pertahanan laut Kesultanan Riau-Lingga pada masa lampau.
Tema “Jejak Perjuangan” diangkat untuk menggambarkan bahwa silat bukan sekadar olahraga bela diri, melainkan warisan budaya yang lahir dari semangat mempertahankan kedaulatan dan identitas Melayu.
Mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau, Kepala Bidang Adat, Tradisi, dan Karya Budaya Takbenda, Harry Prima Putra mengatakan Pulau Paku menjadi bukti sejarah pertahanan maritim nenek moyang Melayu.
“Pulau Paku adalah bukti bahwa strategi pertahanan nenek moyang kita bersifat maritim. Benteng dan meriam yang masih ada menunjukkan bahwa perjuangan itu menyeluruh. Silat tumbuh dari kesadaran itu: menjaga marwah dan jati diri bangsa,” ujarnya.
Dalam pagelaran tersebut, para pendekar dari berbagai perguruan tidak hanya mempertontonkan jurus-jurus bela diri. Setiap gerakan disusun sebagai narasi budaya yang menggambarkan kesiapsiagaan, keberanian, hingga ketangguhan masyarakat Melayu menghadapi tantangan zaman.
Atraksi ketahanan tubuh hingga permainan senjata tradisional menjadi bagian yang paling menarik perhatian penonton. Iringan tabuhan gendang silat semakin menghidupkan suasana, membawa penonton seolah kembali ke masa perjuangan Kesultanan Melayu di perairan Selat Riau.
Melalui kegiatan ini, nilai-nilai budaya dan sejarah Melayu diharapkan dapat terus diwariskan kepada generasi muda sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di tengah perkembangan zaman modern. (*)
Tulisan Yadi





























