NTT – Gempa bumi tektonik berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust dan sempat memicu peringatan dini tsunami.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengatakan hasil pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, atau sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer.
Dan, berdasarkan data dari internet menjelaskan Data korban sementara gempa M7,7 Flores/NTT terus berubah karena proses evakuasi dan verifikasi masih berlangsung.
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan data terbaru soal korban gempa 7,7 magnitudo yang mengguncang Pulau Flores. Laka Lena mengungkapkan sementara ini ada 33 korban tewas dan 23 orang luka-luka.
“Rinciannya (yang meninggal) tiga orang di Kabupaten Sikka, satu orang di Nagekeo, 14 orang di Manggarai, 14 orang di Manggarai Timur, dan satu orang di Manggarai Barat,” terang Laka Lena saat melakukan pengecekan di Maumere, Sikka, Sabtu (15/8/2026) pukul 16.00 WIB.
Sedangkan Data BNPB hingga pukul 12.30 WIB, Sabtu (15/8/2026) mencatat:
| Kategori | Jumlah |
|---|---|
| Meninggal dunia | 14 orang |
| Luka berat | 2 orang |
| Luka ringan | 11 orang |
| Status data | Masih diverifikasi |
BNPB menegaskan angka tersebut masih sementara dan dapat berubah seiring proses pendataan di lapangan. Sebelumnya, data korban memang beberapa kali berubah. BNPB sempat mencatat 2 orang meninggal, kemudian meralat menjadi 1 meninggal dan 4 luka berdasarkan validasi pukul 08.00 WIB.
Status Tsunami Terdeteksi di 10 Titik Pesisir Berakhir
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengatakan hasil pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, atau sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer.
Mekanisme gempa merupakan sesar naik (thrust fault) yang berpotensi menghasilkan tsunami. BMKG kemudian mencatat gelombang tsunami di sejumlah wilayah pesisir.
Namun, BMKG memastikan peringatan dini tsunami telah berakhir. Pemantauan juga menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak.
Gelombang Tsunami Terdeteksi di 10 Titik
Berdasarkan data stasiun pemantauan BMKG, gelombang tsunami tercatat di 10 lokasi dengan ketinggian bervariasi.
| No | Lokasi | Ketinggian Gelombang | Waktu Tiba |
|---|---|---|---|
| 1 | Sikka | 0,20 meter | 05.03 WIB |
| 2 | Pelabuhan Kewapante, Sikka | 0,38 meter | 05.16 WIB |
| 3 | Flores Timur | 0,25 meter | 05.24 WIB |
| 4 | Labuan Bajo | 0,36 meter | 05.26 WIB |
| 5 | Maurole, Ende | 0,94 meter | 05.27 WIB |
| 6 | Dompu | 0,17 meter | 05.29 WIB |
| 7 | Bakalang, Alor | 0,14 meter | 05.41 WIB |
| 8 | Baubau | 0,30 meter | 05.47 WIB |
| 9 | Bulukumba | 0,54 meter | 05.58 WIB |
| 10 | Kolaka | 0,23 meter | 06.27 WIB |
Dari data tersebut, gelombang tertinggi tercatat di Maurole, Ende, dengan ketinggian 0,94 meter.
Guncangan Dirasakan Kuat
Gempa juga dirasakan masyarakat dalam sejumlah tingkat intensitas Modified Mercalli Intensity (MMI). Guncangan V MMI yang dapat membangunkan banyak orang dari tidur dan dirasakan hampir seluruh penduduk tercatat di Kota Ende, Kota Borong, serta Kota Ruteng.
Sementara itu, intensitas VI MMI yang dapat mengejutkan seluruh penduduk hingga berlari keluar rumah dirasakan di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, dan Kota Bajawa.
37 Gempa Susulan Terdeteksi
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan hingga pukul 07.07 WIB, BMKG telah mendeteksi 37 gempa bumi susulan dengan magnitudo antara M3,6 hingga M6,2.
Dari puluhan gempa susulan tersebut, satu di antaranya dirasakan masyarakat.
Menurut Wijayanto, kawasan busur belakang Flores memiliki potensi gempa maksimum sekitar M7,8 hingga M7,9. Catatan sejarah juga menunjukkan gempa serupa pernah terjadi pada 1992 dengan kekuatan M7,5 yang menyebabkan kerusakan dan tsunami.
“Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores,” ujar Wijayanto.
Sejumlah Bangunan Rusak
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengatakan pemantauan awal Stasiun Geofisika Kupang dan koordinasi dengan BPBD menunjukkan adanya kerusakan di sejumlah wilayah.
Beberapa bagian tembok rumah sederhana dilaporkan roboh di Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo. Gempa juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas Pelabuhan Maumere dan bangunan Hotel Jayakarta Bajo.
BMKG mulai menerjunkan tim ke lokasi terdampak untuk melakukan survei dan pendataan kerusakan secara menyeluruh.
Sementara itu, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Berton SP. Panjaitan, mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama penanganan pascagempa.
Hingga pembaruan terakhir, BNPB mengonfirmasi dua orang meninggal dunia. Data korban dan kerusakan masih terus diverifikasi bersama BMKG, BPBD, pemerintah daerah, serta unsur terkait.
BMKG Minta Warga Tetap Waspada
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang meskipun peringatan dini tsunami telah berakhir. Gempa susulan masih berpotensi terjadi sehingga warga diminta meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan struktur dan memastikan kondisi bangunan sebelum kembali beraktivitas di dalamnya.
BMKG mengimbau masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengikuti perkembangan melalui kanal resmi BMKG, seperti Instagram/X @infoBMKG, situs BMKG dan InaTEWS, serta aplikasi InfoBMKG atau WRS-BMKG. (BMKG/Detik)
Editor Dedy Suwadha






















