Home Berita Utama Pelatih dan Pemilik Club Jadi Perbincangan Setelah Como 1907 Menang 4-1...

Pelatih dan Pemilik Club Jadi Perbincangan Setelah Como 1907 Menang 4-1 dari Manchester United

Banner DPRD Batam 2026

WARTAKEPRI.co.id – Sepak bola bukan sekadar permainan sebelas orang mengejar bola di atas lapangan hijau. Di balik sebuah klub yang besar, ada visi, manajemen, investasi, strategi pembinaan, disiplin, kesabaran, dan kecintaan terhadap filosofi permainan.

Como 1907 menjadi salah satu kisah kebangkitan paling menarik dalam sepak bola Italia. Klub yang pernah terpuruk, mengalami kebangkrutan, bahkan harus memulai kembali perjalanan dari kompetisi kasta keempat Italia, kini menjelma menjadi kekuatan baru di Serie A dan mencicipi panggung Liga Champions UEFA 2026/2027.

Ada kebanggaan tersendiri bagi Indonesia karena kebangkitan ini berkaitan erat dengan investasi dan keterlibatan pengusaha Indonesia melalui Grup Djarum.

Sebuah perjalanan yang memperlihatkan bahwa klub yang pernah berada di titik terendah sekalipun dapat kembali berdiri, asalkan dikelola dengan visi, kesungguhan, dan orang-orang yang memahami sepak bola sebagai olahraga sekaligus industri.

Perjalanan Como bukanlah dongeng yang tiba-tiba menemukan akhir bahagia. Klub yang berdiri pada 1907 ini mempunyai sejarah panjang, tetapi juga pernah mengalami masa-masa kelam.

Setelah persoalan keuangan dan kebangkrutan pada 2004, Como kembali mengalami kehancuran finansial pada 2016. Klub ini kemudian memulai kembali dari Serie D pada musim 2017/2018.

Pada 2019, Grup Djarum melalui SENT Entertainment mengambil alih kepemilikan dan memulai babak baru pembangunan klub. Como berhasil menjuarai Serie D pada 2019, promosi ke Serie C, kemudian menjuarai Serie C pada musim 2020/2021 untuk naik ke Serie B. Setelah melewati persaingan panjang,

Como kembali ke Serie A pada 2024, mengakhiri penantian lebih dari dua dekade sejak terakhir kali tampil di kasta tertinggi. Keberhasilan tersebut bukan sekadar promosi, melainkan hasil pembenahan organisasi, investasi infrastruktur, penguatan finansial, perekrutan tenaga profesional, dan pembangunan fondasi klub secara bertahap.

Di balik kebangkitan itu terdapat keluarga Hartono, yakni Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, pemilik Grup Djarum dari Indonesia. Mereka tidak sekadar membeli klub untuk menambah portofolio bisnis, tetapi mengembangkan proyek sepak bola dengan orientasi jangka panjang.

Figur Indonesia yang penting dalam pengelolaan Como adalah Mirwan Suwarso, seorang profesional yang memiliki pengalaman di bidang periklanan, media, hiburan, dan industri olahraga digital, termasuk melalui Mola dan Super Soccer TV.

Ia dipercaya keluarga Hartono untuk mengelola pengembangan Como dan kemudian menjabat sebagai Presiden klub. Perannya mencakup strategi organisasi, pengembangan bisnis, pemasaran, dan pembangunan nilai komersial klub.

Sementara itu, Grup Djarum juga mempunyai pengalaman panjang dalam pembinaan olahraga melalui PB Djarum yang melahirkan banyak atlet bulu tangkis berprestasi. Pengalaman membangun pembinaan, mengembangkan sumber daya manusia, dan mengelola industri olahraga menjadi bekal berharga dalam proyek Como.

Bahkan, program The Italian Job yang pernah dibuka Como memberikan kesempatan kepada pelatih Indonesia untuk belajar dan memperoleh pengalaman langsung di lingkungan sepak bola Italia.

Inilah bukti bahwa investasi olahraga seharusnya tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi pemilik, tetapi juga membuka jalan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Nama lain yang tidak boleh dipisahkan dari keberhasilan Como adalah Cesc Fàbregas. Mantan gelandang Arsenal, Barcelona, dan Chelsea ini membawa pengalaman sepak bola kelas dunia ke dalam ruang latihan dan strategi pertandingan.

Ia bukan sekadar menjual nama besar masa lalunya, melainkan membangun karakter permainan yang berani menguasai bola, melakukan pressing, bergerak cepat dalam transisi, serta tidak takut menghadapi lawan yang lebih terkenal.

Kehebatannya terlihat dalam kemampuan menyatukan pemain dengan latar belakang dan kualitas berbeda ke dalam satu sistem permainan. Tidak semua pemain Como merupakan bintang dengan harga pasar fantastis.

Nico Paz, Anastasios Douvikas, Jacobo Ramón, dan rekan-rekannya justru memperlihatkan bahwa kualitas individu akan semakin bernilai ketika ditempatkan dalam sistem yang tepat. Nico Paz memiliki kecerdasan membaca ruang dan kemampuan menciptakan peluang, Douvikas mempunyai naluri mencetak gol, sementara Ramón menunjukkan ketenangan dalam menjaga pertahanan.

Mereka bukan sekadar kumpulan nama di atas kertas, melainkan pemain yang memahami peran, saling melengkapi, dan berjuang untuk kepentingan tim.

Di sinilah filosofi seorang pelatih hebat bekerja: bukan hanya mengumpulkan pemain hebat, melainkan membentuk kesebelasan yang hebat.

Kebangkitan Como juga tidak dapat dipisahkan dari kota yang menjadi rumahnya. Como berada di wilayah Lombardy, Italia utara, di tepian Danau Como yang terkenal dengan panorama pegunungan, air danau yang memesona, bangunan bersejarah, dan daya tarik wisata internasional.

Kota ini mempunyai identitas yang kuat, perpaduan tradisi, budaya, pariwisata, dan kehidupan masyarakat yang dekat dengan klub kebanggaannya. Stadio Giuseppe Sinigaglia yang berdiri tidak jauh dari tepi danau bukan sekadar tempat pertandingan, tetapi ruang emosional yang mempertemukan sejarah, masyarakat, dan kebanggaan lokal.

Bagi penduduk Como, klub ini merupakan bagian dari identitas kota yang harus dijaga. Ketika Como terpuruk, kebanggaan itu ikut meredup. Ketika Como bangkit, masyarakat mendapatkan kembali alasan untuk mengibarkan warna kebanggaannya.

Grup Djarum juga membaca potensi ekonomi dari keunggulan geografis tersebut. Danau Como yang dikunjungi wisatawan dari berbagai negara dapat dihubungkan dengan pengalaman sepak bola melalui stadion, merchandise, fesyen, perhotelan, restoran, dan kegiatan komersial lainnya.

Tiket pertandingan, sponsor, hak siar, pemasaran internasional, serta pengembangan merek klub menjadi bagian dari ekosistem bisnis. Dengan demikian, klub bukan hanya berkembang di lapangan, tetapi ikut menggerakkan ekonomi kota. Sepak bola, pariwisata, dan bisnis dapat berjalan beriringan tanpa harus menghilangkan karakter lokal.

Prestasi Como semakin mengesankan setelah berhasil menembus empat besar Serie A musim 2025/2026 dan memperoleh tiket Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

Musim 2026/2027 menjadi panggung pembuktian berikutnya. Dalam tiga pertandingan awal fase liga Liga Champions, Como mengalahkan RB Leipzig 4-1 pada 10 September 2026, kemudian kalah tipis 2-3 dari Feyenoord pada 14 Oktober, sebelum menciptakan malam bersejarah dengan menghancurkan Manchester United 4-1 pada 21 Oktober 2026 di Stadio Giuseppe Sinigaglia.

Dengan dua kemenangan dan satu kekalahan, Como mengumpulkan enam poin dari tiga pertandingan. Kemenangan atas Manchester United menjadi perhatian dunia karena Como bukan klub yang selama ini dikenal sebagai langganan kompetisi elite Eropa.

Nico Paz tampil luar biasa dengan mencetak dua gol, sedangkan Anastasios Douvikas dan Jacobo Ramón masing-masing menyumbangkan satu gol. Manchester United hanya mampu membalas melalui Joshua Zirkzee.

Kemenangan tersebut bukan pekerjaan satu atau dua pemain, melainkan buah dari organisasi permainan, keberanian menyerang, efektivitas penyelesaian akhir, serta koordinasi seluruh lini.

Di kompetisi domestik, Como juga berada di posisi kelima Serie A dengan 14 poin dan memperlihatkan persaingan yang menjanjikan. Kemenangan 3-1 atas Fiorentina pada 18 Oktober menjadi tambahan kepercayaan diri. Namun, perjalanan masih panjang.

Jadwal padat, kebugaran pemain, kedalaman skuad, dan tekanan kompetisi Eropa akan menguji seberapa matang proyek pembangunan klub ini.

Bagi Indonesia, keberhasilan Como seharusnya menjadi bahan renungan serius bagi PSSI, pengurus klub, pemilik modal, pelatih, dan seluruh insan sepak bola. Kita mempunyai klub-klub dengan sejarah panjang, suporter fanatik, pemain berbakat, dan potensi pasar yang besar.

Namun, tidak sedikit klub yang masih menghadapi persoalan finansial, pergantian pengurus, konflik kepentingan, ketergantungan kepada pemilik, pembinaan usia muda yang tidak berkesinambungan, serta orientasi prestasi yang hanya berumur satu musim.

Ada yang bersemangat membangun tim ketika kompetisi dimulai, tetapi kehilangan arah ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan. Ada pula yang lebih sibuk membangun popularitas pengurus daripada membangun kekuatan kesebelasan.

Tim nasional yang kuat tidak lahir dari proses seleksi mendadak menjelang turnamen, tetapi dari ekosistem kompetisi yang sehat, akademi yang produktif, pelatih berkualitas, sport science, pencarian bakat, dan regenerasi pemain.

Como memberikan pelajaran bahwa membesarkan klub membutuhkan beberapa pegangan: pertama, manajemen harus profesional, transparan, dan akuntabel; kedua, keuangan dan sumber pendapatan harus berkelanjutan; ketiga, akademi dan pembinaan pemain muda harus menjadi investasi utama; keempat, pelatih harus diberi kepercayaan dengan filosofi permainan yang jelas; kelima, suporter dan masyarakat harus dilibatkan; keenam, bisnis, pariwisata, sponsor, dan pemasaran harus dikembangkan untuk memperkuat ekonomi klub.

Jangan pula terlena oleh pujian ketika kemenangan datang. Klub yang mulai mengalahkan nama-nama besar akan menghadapi sorotan, tekanan, kritik, bahkan rasa iri dari pihak yang tidak senang melihat kemajuan.

Karena itu, Como harus tetap rendah hati, berhati-hati, menjaga keharmonisan manajemen dan pelatih, serta tidak membiarkan euforia merusak konsistensi.

Prestasi besar bukan hanya kemampuan menciptakan kejutan, melainkan kemampuan mempertahankan kualitas dalam waktu panjang.

Kisah Como 1907 memberikan pelajaran berharga bagi tata kelola sepak bola Indonesia. Kebanggaan kita bukan semata-mata karena ada pengusaha Indonesia memiliki klub di Italia, tetapi karena ada kemampuan, gagasan, dan profesionalisme Indonesia yang ikut mengambil bagian dalam membangun klub bersejarah hingga menembus panggung tertinggi Eropa.

Keluarga Hartono sebagai pemilik dan investor, Mirwan Suwarso sebagai eksekutif pengelola, serta Cesc Fàbregas sebagai pelatih memperlihatkan bagaimana peran berbeda dapat saling melengkapi dalam satu visi pembangunan.

Tentu, bukan berarti Como sudah menjadi raksasa Eropa atau perjalanan mereka tidak memiliki kelemahan. Justru ujian sesungguhnya adalah menjaga keberlanjutan, memperkuat pembinaan, mempertahankan prestasi, dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan kebetulan sesaat.

Tidak tertutup kemungkinan Indonesia juga melahirkan pengelola sepak bola dengan kapasitas seperti itu, bahkan suatu saat menghadirkan figur-figur berpengalaman untuk memimpin PSSI, selama mereka memiliki kompetensi, integritas, visi, dan kemampuan membangun sistem.

Kepada para pengurus sepak bola nasional, jangan mengurus klub hanya karena hobi, jabatan, kedekatan, atau ingin menyenangkan kelompok tertentu. Cintailah sepak bola, pahami filosofi permainannya, kuasai manajemennya, hormati suporter, dan berikan kesempatan kepada orang-orang profesional untuk bekerja.

Sebab, klub yang besar bukan hanya klub yang mampu membeli pemain mahal, melainkan klub yang mampu membangun tim hebat, melahirkan pemain berkualitas, menjaga kepercayaan masyarakat, dan bertahan melewati berbagai ujian.

Dari tepian Danau Como, ada pesan yang patut sampai ke seluruh stadion di Nusantara: membangun sepak bola membutuhkan cinta, ilmu, integritas, kesabaran, dan keberanian menatap masa depan.

Como 1907, teruslah berlari! Buktikan bahwa kebangkitan bukan kebetulan, melainkan buah dari visi dan kerja keras. Sebuah kebanggaan Indonesia yang semoga kelak tercermin pula dalam kejayaan sepak bola nasional.(*)

Tulisan Bang Buralimar
Pengamat Sepakbola di Kota Batam

Editor Dedy Suwadha

WhasApp

Google News WartaKepri